MEMBUAT BIOGAS DARI ENCENG GONDOK (Eicchornia crassipes)

9:06 PM Add Comment

 

enceng gondok

Enceng gondok (Eicchornia crassipes) adalah sejenis tumbuhan air yang hidup terapung di permukaan air. Akan berkembang biak manakala dipenuhi limbah pertanian atau pabrik. Enceng gondok merupakan sejenis tanaman hidrofit. Tumbuhan ini tidak dapat dimakan, bahkan tanaman gulma ini menjadi tanaman pengganggu bagi tumbuhan lain dan hewan di sekitarnya. Menurut Indriyanto (2016) Eceng gondok memiliki kemampuan tumbuh yang sangat cepat, terutama pada perairan yang mengandung banyak nutrient. Dalam waktu 7-10 hari eceng gondok dapat berkembang biak menjadi dua kali lipat. Laju pertumbuhan yang cepat ini menyebabkan tanaman eceng gondok telah berubah menjadi tanaman gulma perairan dan menimbulkan kerugian antara lain mempercepat pendangkalan perairan, menurunkan produksi ikan sebab eceng gondok mengambil ruang dan unsur hara yang juga dibutuhkan oleh ikan, mempersulit saluran irigasi, menghalangi lalulintas perahu, media penyebaran penyakit dan menyebabkan penguapan air sampai 3 sampai 7 kali lebih besar daripada penguapan air di perairan terbuka.

Meskipun memiliki sifat pengganggu, enceng gondok ternyata berperan penting dalam mengurangi kadar logam berat di perairan waduk seperti Fe, Zn, Cu dan Hg. Selulosa inilah yang digunakan sebagai bahan bakar alternatif. Untuk menghasilkan biogas, enceng gondok difermentasikan terlebih dahulu agar terbentuk gas metan. Enceng gondok yang digunakan harus dirajang atau ditumbuk halus terlebih dahulu agar hasil gas metan lebih optimum. Sebelum dimasukkan ke dalam digester, enceng gondok yang telah ditumbuk dan dirajang halus ditambahkan air dengan perbandingan 1:3, lalu diaduk. Setiap satu kilogram rajangan enceng gondok, dapat dipakai selama 7 hari dan setiap harinya dapat dipakai selama 90 detik. Untuk menghasilkan biogas, setara dengan 2 liter minyak tanah perhari, maka enceng gondok yang harus difementasikan sebanyak 150Kg per hari. Enceng gondok sebanyak 150Kg per hari dapat menghasilkan biogas yang dapat dipakai 4-5 jam setiap hari selama 7 hari.

Walaupun secara kandungan gas metan lebih rendah dibandingkan dengan bahan lain, biogas menggunakan bahan baku enceng gondok tetap relevan untuk dimanfaatkan pada lokasi-lokasi yang memiliki permasalahan pengendalian enceng gondok yang merugikan perairan. Dengan memanfaatkan enceng gondok menjadi bio gas maka permasalahan bisa diubah menjadi potensi dan peluang. Menurut Handoyo (2014) Biogas merupakan campuran beberapa gas dengan komponen utama adalah metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2), dengansejumlah keciluap air, hydrogen sulfide (H2S), karbon monoksida (CO), dannitrogen (N2). Komposisi biogas tergantung dari bahan baku yang digunakan. Apabila menggunakan bahan baku kotoran manusia, kotoran hewan, atau limbah cair tempat pemotongan hewan, gas metan yang diproduksi dapat mencapai 70%. Bahan baku dari tumbuhtumbuhan seperti batang padi, jerami, atau eceng gondok menghasilkan gas metan sekitar 55%.

Proses pembuatan biogas dari enceng gondok adalah sebagai berikut :

1.    Siapkan bahan berupa enceng gondok sebanyak 40 Kg

2.    Cacah enceng gondok tersebut sehingga berukuran menjadi 2-4 cm

3.    Masukkan cacahan tersebut dalam wadah/ bak penampungan dan tambahkan air sebanyak 120 liter atau perbandingan enceng gondok dan air adalah 1: 3

4.    Masukkan bahan campuran tersebut ke dalam digester hingga penuh melalui lubang pemasukan. Diamkan selama 30-45 hari, gas akan terbentuk. Lakukan pengadukan bahan setiap lima hari sekali melalui lubang pemasukan atau pengeluaran. Untuk mendeteksi adanya gas, buka kran yang menghubungkan antara gas dengn kompor, lalu nyalakan. Jika menyala berarti sudah terbentuk biogas, sehingga sudah dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Supaya produksi gas dapat dilakukan setiap hari, tambahkan 2 kg enceng gondok dan 6 liter air.

Dalam penelitian Nawir, dkk (2018) Eceng gondok dapat dimanfaatkan dengan cara diolah untuk menghasilkan energi biogas. Enceng gondok ini kemudian difermentasi selama 35 hari dengan bantuan starter kotoran sapi, EM-4 (effective microorganisme-4), dan air. Produksi energi biogas paling banyak menggunakan starter 2,5 kg kotoran sapi bercampur air dengan perbandingan 1:1 dan 0,9 kg EM-4 (effective microorganisme4) dengan nyala api paling lama yaitu 60 menit 12 detik.

Untuk meningkatkan kandungan metana pada produksi biogas menggunakan bahan enceng gondok, menurut penelitian harus ditambahkan dengan bahan baku lain dengan potensi untuk menghasilkan gas metan lebih tinggi, misalkan kotoran ternak. Melalui pencampuran tersebut selain menambah kandungan gas metan yang dihasilkan juga bisa mempercepat proses fermentasi bahan sehingga biogas cepat terbentuk. Seperti yang sudah diteliti oleh Nawir, dkk pada tahun 2018, Saripuddin M, dkk (2019) juga meneliti tentang campuran biogas menggunakan starter kotoran ternak dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa biogas eceng gondok yang dihasilkan karena percampuran eceng gondok dan kotoran sapi memiliki bau busuk yang sangat menyengat namun setelah dibakar gas tersebut tidak menimbulkan bau busuk. Ini berarti biogas eceng gondok ini terbakar sempurna dan aman untuk digunakan bagi pengguna dan dapat membantu kebutuhan masyarakat yang ingin menggunakan energi pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan bakar alternatif biogas. Pada komposisi 3kg eceng gondok :1kg kotoran sapi. Dari hasil ini dapat dilihat bahwa kandungan metana (CH4) yang di hasilkan oleh campuran eceng gondok dan air dengan stater berupa kotoran sapi memiliki presentase kandungan senyawa metana (CH4) yang cukup tinggi, tekanan yang dihasilkan pada tabung rekator juga cukup tinggi yaitu 3,50 kPa yang berati bahwa ikatan yang terjadi menghasilkan senyawa metana (CH4) dan karbondioksida (CO2) yang baik.

 

Daftar Pustaka

 

Hardoyo. 2014. Panduan Praktis Membuat Biogas Portabel Skala Rumah Tangga dan Industri. Bandar. Bandar Lampung,

Indriyanto, Forcep Rio. 2016. Pemanfaatan Eceng Gondok Sebagai Energi Alternatif Biogas . https://faperta.untirta.ac.id/pemanfaatan-eceng-gondok-sebagai-energi-alternatif-biogas/#:~:text=Pemanfaatan%20eceng%20gondok%20sebagai%20bahan,karbondioksida%20(CO2)%20sebagai%20biogas. Diakses 30 Mei 2021

Nawir, Herman., Muhammad Ruswandi Djalal., dan Apollo. 2018. Pemanfaatan Limbah Eceng Gondok Sebagai Energi Biogas Dengan Menggunakan Digester. Jurnal Ilmu-Ilmu Teknik Elektro dan Rekayasa. Vol 2. No. 2 56-63

Saripuddin M., dkk . 2019. Pemanfaatan Eceng Gondok Sebagai Energi Alternatif Biogas. Jurnal ILTEK Volume 14 Nomor 02. 2063-2066

 

PEMBUATAN PUPUK CAIR DAN PUPUK PADAT LIMBAH BIOGAS

9:02 PM Add Comment

 

Sludge/slury/limbah biogas

Dari proses produksi biogas akan dihasilkan limbah atau sisa bahan organik. Limbah dari digester biogas tersebut ternyata memiliki nilai manfaat yang cukup tinggi, yaitu dapat dijadikan sebagai pupuk organik. Bahkan pupuk tersebut dapat langsung digunakan untuk memupuk tanaman. Pemanfaatan limbah dengan cara seperti ini secara ekonomis sangat kompetitif seiring naiknya harga bahan bakar minyak dan pupuk organik.

Limbah biogas merupakan pupuk organik yang sangat kaya akan unsur-unsur yang dibutuhkan ooleh tanaman. Bahkan, unsur-unsur tertentu seperti protein, selulose, lignin dan lain-lain tidak dapat digantikan oleh pupuk kimia. Pupuk organik dari biogas telas dicobakan pada tanaman jagung, bawang merah dan padi.

Limbah yang keluar dari digester biogas berbentuk lumpur yang mengandung cairan dan padatan. Limbah tgersebut umumnya disebut dengan istilah sludge. Limbah tersebut akan keluar secara otomatis ketika digester diisi dengan bahan organik yang baru. Limbah dari digester untuk sementara akan mengalir ke bak penampungan melalui lubang pengeluaran digester.

Limbah yang keluar dari digester dapat diolah menjadi pupuk cair dan pupuk padat. Kedua jenis pupuk tersebut bersifat organik. Menurut Wahyudi (2019) Pupuk organik dari limbah biogas memiliki manfaat sebagai berikut: (1) Meningkatkan kesuburan tanah, (2) Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah, (3) Meningkatkan kapasitas penyerapan air oleh tanah, (4) Meningkatkan aktivitas mikroba tanah, (5) Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen), (6) Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman, (7) Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman, (8) Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah. Untuk menghasilkan kedua pupuk tersebut cukup mudah. Adapun prosesnya akan dijelaskan berikut.


A.   Pupuk Cair Organik

Pemisahan sludge (lumpur) dilakukan dengan cara sederhana, yaitu menggunakan saringan halus. Adapun proses mendapatkan pupuk cair organik dari limbah digester biogas adalah sebagai berikut :

1) Ambil sludge dengan menggunakan ember, lalu disaring dengan saringan halus sehingga yang tersaring hanya cairan, sedangkan padatan dipisahkan,

2)  Tampung dalam wadah penampungan yang lebih besar, dapat berupa tong plastik selama 1 minggu,

3)    Pada minggu ke dua dilakukan penyaringan kembali, lalu didiamkan selama 1 minggu,

4) Untuk meningkatkan kualitas produk, perlu ditambahkan tepung tulang, tepung kerabang telur, dan tepung darah. Setelah itu diamkan selama 1 minggu,

5) Kemudian disaring lagi menggunakan kain kasa, kemudian hasil saringannya ditampung. Setelah itu, diaerasi selama 3-4 hari dengan aerator untuk membuang bau gas-gas yang tersisa,

6) Biarkan selama 2 hari agar partikel-partikel mengendap, sehingga cairan yang dihasilkan menjadi lebih bening seperti air teh,

7)  Cairan bening tersebut bisa juga ditambahkan dengan rempah seperti tepung jahe, kunyit atau bahan alami lainnya yang dapat berfungsi sebagai pestisida nabati,

8)    Pupuk cair pun siap digunakan atau dapat dikemas.

Kandungan unsur hara dalam pupuk organik yang dihasilkan dari limbah hasil pembuatan biogas terbilang lengkap tetapi jumlahnya sedikit jika tidak dilakukan penambahan tepung tulang, tepuung kerabang telur dan tepung darah maka perlu ditingkatkan kualitasnya dengan penambahan bahan lain yang mengandung unsur hara makro. Menurut penelitian dari Nurjanah N, dkk (2018) untuk menaikkan kadar unsur hara (Nitrogen, Phospor, Kalium, Carbon) pada limbah biogas yang akan dijadikan pupuk organi cair maka di gunakan bahan aditif yaitu Urin Kambing, dan Ampas Tahu dengan perbandingan 1:1.

Hasil dari pupuk yang berasal dari sludge biogas sudah diujicobakan pada tanaman lombok/ cabai melalui penelitian oleh Junus, dkk (2007) dengan hasil sludge sangat berperanan pada tinggi tanaman lombok pada umur dua sampai tiga minggu. Adanya pupuk cair dari Sludge biogas akan membuat struktur tanah menjadi lebih baik. Penelitian lain tentang pemanfaatan sludge biogas untuk tanaman perkebunan memberikan pengaruh yang baik yaitu penelitian dari Khoirudin, dkk (2017) dengan hasil Pemberian limbah cair biogas berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi, jumlah daun, diameter bonggol, berat kering dan rasio tajuk akar bibit kelapa sawit varietas Tenera umur ≤ 3 bulan. Pemberian limbah cair biogas dosis 80 ml/tanaman merupakan dosis terbaik terhadap parameter tinggi bibit, jumlah daun bibit, diameter bonggol bibit, berat kering bibit dan rasio tajuk akar bibit kelapa sawit varietas Tenera umur ≤ 3 bulan.

 

B.   Pupuk Padat Organik

Setelah proses pemisahan sludge menjadi bagian cair dan padat, maka bagian padat dapat merupakan pupuk organik padat. Adapun proses pembuatan pupuk padat organik dari lembah digester biogas adalah sebagai berikut :

1)    Saring sludge terutama limbah padat dan masukkan dalam bak penampungan. Biarkan sekitar 7 hari atau hingga kering

2) Tambahkan starter seperti EM4 atau stardex, lalu lakukan pengadukan agar starter tercampur merata dengan bahan. Biarkan beberapa hari,

3)    Lakukan pembalikan pada hari ke 14 dan hari ke 28,

4)    Setelah 4-5 minggu, sudah menjadi pupuk oeganik padat dan siap digunakan

Dari hasil penelitian oleh Nurjanah, dkk( 2018) untuk menaikkan kadar unsur hara (Nitrogen, Phospor, Kalium, Carbon) pada limbah biogas yang akan dijadikan pupuk organik padat maka di gunakan bahan aditif ,yaitu kotoran kambing dan arang tempurung kelapa. Penelitian lain oleh Vebriyanti, dkk (2012) dalam meningkatkan kandungan pengomposan Sludge biogas dengan penambahan bahan organik peningkat tepung tulang, tepung darah dan abu sekam serta campuran (tepung darah, tepung tulang dan abu sekam) dapat meningkatkan kandungan N, P dan K pupuk organik padat, jika dibandingkan dengan Sludge biogas tanpa penambahan bahan organik peningkat. Untuk meningkatkan kandungan N, P dan K pupuk organik padat dari Sludge biogas feses sapi perah dengan perbandingan air yang berbeda dapat dilakukan dengan penambahan bahan peningkat tepung darah 1%, tepung tulang 3% dan campuran (tepung darah 1%, tepung tulang 3% dan abu sekam 3%).

 

Daftar Pustaka

Junus, H. Mochammad., Budya Satata dan Syamsul Arifin. 2007. Pengaruh Limbah Pupuk Cair Biogas Yang Dipekatkan Terhadap Pertumbuhan Cabai. J. Ternak Tropika Vol. 6. No 2; 88-100

Khoirudin, Al Hikmatu., Sampoerno dan Yunel Venita. 2017. Pemberian Pupuk Limbah Biogas Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Di Pre-Nursery. JOM Faperta Vol 4 No 1

Nurjannah, N., dkk. 2018. Pembuatan Pupuk Organik Padat Dari Limbah Biogas. Journal Of Chemical Process Engineering. Vol.03, No.01 6-10

Nurjannah, N., Nurfajriani Arfah, Nur Fitriani. 2018. Pembuatan Pupuk Organik Cair Dari Limbah Biogas. Journal Of Chemical Process Engineering. Vol.03, No.01 43-46

Vebriyanti, E., E. Purwati, dan Apriman. 2012. Pengaruh Penambahan Bahan Organik dalam Pembuatan Pupuk Organik Padat Sludge Biogas Feses Sapi Perah terhadap Kandungan N, P dan K. Jurnal Peternakan Indonesia Vol. 14 (1) 270-278.

Wahyudi. 2019. Pupuk Organik Dari Limbah Biogas (Slurry). http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/85536/PUPUK-ORGANIK-DARI-LIMBAH-BIOGAS-SLURRY/#:~:text=Limbah%20biogas%2C%20yaitu%20kotoran%20ternak,bisa%20digantikan%20oleh%20pupuk%20kimia. Diakses 30 Mei 2021

 

SUMUR RESAPAN PADA USAHATANI

8:58 PM Add Comment


Sumur resapan dapat dipadukan dengan usahatani dengan konsep usahatani konservasi. Sistem ini relative mudah serta tidak perlu mengelurkan dana dan tenaga secara khusus. Penerapan sistem ini disamping sebagai upaya konservasi air atanah dan pencegahan banjir, juga dapat meningkatkan produktivitas pertanian dan menekan laju erosi. Khususnya pada pertanian sayuran yang berlokasi di daerah pegunungan. Daerah-daerah sayuran dataran tinggi umumnya berada dalam wilayah pengaruh aktivitas gunung berapi, baik yang masih aktif ataupun yang sudah tidak aktif.  

Jenis -jenis tanah utama yang umum dijumpai adalah andisol dan entisol, biasa dijumpai pada ketinggian di atas 1.000 mdpl, serta inceptisol pada ketinggian 700-1.000 mdpl. Sifat tanah umumnya baik yaitu struktur tanah remah/gembur sampai lepas dengan kedalaman tanah dalam, drainase baik dan porositas tinggi. Kesuburan tanah pada dataran tinggi lebih baik dibandingkan dengan jenis tanah mineral lainnya, dan tergolong tinggi. Hal tersebut disebabkan karena tanah terbentuk dari bahan volkan dengan bahan aktif dan kandungan fosfor tinggi, dan secara umum kapsitas tukar kation tanah andisol biasanya tinggi ditandai dengan C-organik yang tinggi. Tanah di dataran tingggi khususnya andisol memiliki sifat tiksotropik (tanah licin dan berair jika diplirid), mengindikasikan tanahnya mengandung fraksi debu lebih banyak dibandingkan mineral lainnya. Tanah dengan kdandungan debu tinggi memiliki kepekaan terhadap erosi lebih tinggi, atau rentan terhadap erosi (Morgan, 1979). Oleh karena itu penting untuk melakukan konservasi lahan pertanian khususnya di dataran tinggi melalui sumur resapan. Adapun model sumur resapan yang dipadukan dengan usaha tani, yaitu guludan bersekat, guludan berorak dan parit bedeng bersekat.

1.    Guludan bersekat

Guludan bersekat dibuat dengan cara meninggikan tanah membentuk guludan yang tingginya 30-50 cm dengan arah guludan memotong lereng. Pada parit-parit duludan tersebut dibuat sekat-sekat dari guludan tanah kecil. Guludan utama ditanami tanaman produktif. Dengan cara demikian air hujan akan tertahan dalam lembah-lembah guludan yang akhirnya dapat meresap ke dalam tanah.

guludan bersekat

2.    Guludan berorak

Guludan berorak prinsipnya sama dengan guludan bersekat. Cara pembuatannya sama dengan guludan yang memotong lereng. Ketinggian guludan antara 30-50 cm. pada lembah, diantara guludan dibuat galian berupa rorak-rorak yang ukurannya 30-50 cm serta jarak antara lubang 5-10 meter. Pada periode waktu tertentu, rorak akan terisi oleh tanah atau serasah tanaman. Agar rorak dapat berfungsi secara terusmenerus, bahan-bahan yang masuk ke rorak perlu diangkat ke luar atau dibuat rorak yang baru.

Rorak juga sering disebut dengan saluran/parit buntu adalah suatu bangunan berupa got/ saluran buntu dengan ukuran tertentu yang dibuat pada bidang olah teras dan sejajar garis kontur yang berfungsi untuk menjebak/ menangkap aliran permukaan dan juga tanah yang tererosi. Tujuan Kegiatan pembuatan rorak adalah : 1) Untuk mencegah disposisi/transportasi partikel tanah oleh erosi dan aliran permukaan (run off) 2) Menampung air hujan yang jatuh dan aliran permukaan dari bagian atas, serta partikel tanah yang tererosi dari bagian atasnya. 3) Untuk mengembalikan produktivitas lahan, produksi usahatani dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani. Air yang masuk ke dalam rorak akan tergenang untuk sementara dan secara perlahan akan meresap ke dalam tanah, sehingga pengisian pori tanah oleh air akan lebih tinggi dan aliran permukaan dapat dikurangi.

Sedang wilayah yang menjadi sasaran kegiatan pembuatan rorak adalah lahan kering yang merupakan lokasi pengembangan usahatani konservasi lahan terpadu dan atau lahan-lahan kering berlereng yang memiliki potensi untuk pengembangan pertanian. Rorak juga cocok untuk daerah dengan tanah berkadar liat tinggi dimana daya serap atau infiltrasinya rendah dan curah hujan tinggi pada waktu yang pendek. Saluran buntu merupakan bentuk lain dari rorak dengan Panjang beberapa meter. Perlu diingat bahwa dalam pembuatan rorak atau saluran buntu, air tidak boleh tergenang terlalu lama (berhari-hari) karena dapat menyebabkan terganggunya pernafasan akar tanaman dan berkembangnya berbagai penyakit pada akar.

guludan berorak

3.    Parit bedengan bersekat

Parit di lahan pertanian juga dapat dijadikan sumur atau tempat resapan air hujan. Agar dapat berfungsi juga untuk meresapkan air hujan, harus dibuat sekat-sekat pada parit-parit tersebut. Dengan demikian, air hujan dapat ditampung dan diresapkan ke dalam tanah. Model ini cocok diterapkan di lahan kering. Pada lahan miring dibuat teras dengan parit bersekat di bawahnya. Kedalaman parit adalah 40-50 cm, sedangkan sekatnya dibuat dengan ketinggian 20-30cm sehingga air tetap dapat melimpas bila kebanyakan tanpa menganggu tanaman.

Hasil penelitian teknik konservasi tanah berupa bedengan selebar 70-120 cm yang dibuat Panjang masimum 4-5 meter searah lereng dipotong teras gulud, dan bedengan searah kontur mampu menghambat lajui aliran permukaan dan erosi. Erosi pada kedua macam bedengan tersebut berkurang 50-70% pada bedengan 4-5 meter Panjang searah lereng, dan 90-95% pada bedengan searah kontur (Kurnia, Undang., dkk, 2019).

parit bedengan bersekat

 

Daftar Pustaka

Kurnia, Undang, dkk. 2019. Teknologi konservasi Tanah Pada Budidaya Sayuran dataran Tinggi. https://balittanah.litbang.pertanian.go.id/ind/dokumentasi/buku/lahankering/berlereng6.pdf . Diakses 30 Mei 2021

Kusnaedi. 2011. Sumur Resapan Untuk Pemukiman Perkotaan dan Pedesaan. Penebar Swadaya

Morgan R. P. C. 1979. Soil Erosion. Topic in Applied Geography. Longman- London and New York.

 

PANEN DAN PASCA PANEN KEDELAI

11:30 PM Add Comment

 

kedelai memasuki umur panen

A.   Panen Kedelai

Panen kedelai dilakukan apabila sebagian besar daun sudah menguning, tetapi bukan karena serangan hama atau penyakit, lalu gugur, buah mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan dan retak-retak, atau polong sudah terlihat tua, batang berwarna kuning agak coklat dan gundul. Panen yang terlambat agak merugikan, karena banyak buah yang sudah tua dan kering, sehingga kulit polong retak-retak atau pecah dan biji lepas berhamburan. Disamping itu, buah akan gugur akibat tangkai buah mongering dan lepas dari cabangnya. Perlu diperhatikan umur kedelai yang akan dipanen yaitu sekitar 75-110 hari, tergantung varietas dan ketinggian tempat.perlu diperhatikan, kedelai yang akan digunakan sebagai bahan konsumsi dipetik pada usia 75-100 hari, sedangkan untuk dijadikan benih dipetik pada umur 100-110 hari, agar kemasakan biji betul-betul sempurna dan merata. Ada dua hal penting dalam pemanenan yaitu saat panen dan cara panen.

Saat panen yang tepat pada tanaman kedelai adalah : (1) kadar air menurun menjadi sekitar 20%, (2) warna polong coklat tua, (3) ukuran benih maksimal, (4) berat kering masknimal. Sedangkan cara panen yang benar adalah 70% buah atau benih yang dimaksud telah 70-80% masak dan pemanenen dilakukan segera setelah masak fisiologis.

Ciri-ciri tanaman kedelai yang telah masak fisiologis yaitu  pada saat panen klorofil berubah warna, daun dari bawah keatas sesuai tingkat kemasakan biji pada polong, biasanya warna daun dan polong telah berubah warna dari hijau menjadi kuning, coklat, coklat tua.

Cara panen tanaman kedelai dilakukan pada saat tidak hujan, agar hasilnya segera dapat dijemur. Mengingat kemasakan buah tidak serempak, dan untuk menjaga agar buah yang belum masak benar bisa tidak ikut dipetik, petikan sebaiknya dilakukan secara bertahap, beberapa kali. Panen dapat dilakukan dengan cara pemungutan di lahan dengan metode sebagai berikut : (1) Pemungutan dengan cara dicabut : sebelum tanaman dicabut, keadaan tanah perlu diperhatikan terlebih dahulu. Pada tanah ringan dan berpasir, proses pencabutan akan lebih mudah. Cara pencabutan yang benar ialah dengan memegang batang, tangan posisi tepat dibawah ranting dan cabang yang berbuah. Pencabutan harus dilakukan dengan hati-hati sebab kedelai yang sudah tua mudah sekali rontok bila tersentuh tangan. (2) Pemungutan dengan cara memotong : alat yang biasanya digunakan untuk memotong adalah sabit yang cukup tajam, sehingga tidak terlalu banyak menimbulkan goncangan. Disamping itu dengan alat pemotong yang tajam, pekerjaan bisa dilakukan denga cepat dan jumlah buah yang rontok akibat goncangan akibat pemotongan bisa ditekan. Pemungutan dengan cara pemotongan bisa meningkatkan kesuburan tanah, karena akar dan bintil-bintilnya yang menyimpan banyak senyawa nitrat tidak ikut tercabut, tapi tertinggal di dalam tanah. Pada tanah yang keras, pemunguitan dengan vara mencabut sukar dilakukan, maka dengan memotong akan lebih cepat.

Di Kalimantan Barat saat panen, kadang-kadang tidak dapat mengeringkan karena musim hujan tidak dapat diprediksi. Sebelum poanen dilakukan penyemprotan herbisida untuk merontokkan daun, sehingga saat panen daun sudah rontok. Ini dapat mempercepat pengeringan. Perontokan dapat menggunakan power treser (dengan menggunakan mesin) atau dengan cara manual pakai kayu. Perontokan dengan cara manual sebaiknya menggunakan kayu yang tidak bersegi untuk menghindari pecahnya biji akibat pukulan kayu.

B.   Pasca Panen Kedelai

Dalam pasca panen kedelai ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan untuk mendapaykan kuantitas dan kualitas hasil , pada kegiatan pasca panen kegiatan tersbut adalah :

1.    Pengumpulan dan pengeringan

Setalah pemungutan selesai, seluruh hasil panen hendaknya segera di jemur. Kedai dikumpulkan kemudian di jemur di atas tikar, anyaman bambu, atau l;antai semen selama 3 hari. Sesudah kering sempurna dan merata, polong kedelai akan mudah pecah sehingga bijina mudah dikeluarkan. Agar kedelai kering sempurna, pada saat penjemuran hendaknya dilakukan pembalikan berulang kali. Pembalikan juga menguntungkan karena dengan pembalikan banyak polong pecah dan banyak biji lepas dari polongnya. Sedangkan biji-biji masih terbungkus polong dengan mudah bisa dikeluarkan dari polong, asalkan polong sudah cukup kering. Biji kedelai yang akan digunakan sebagai benih, dijemur secara terpisah. Biji tersebut sebenarnya telah dipilih dari tanaman-tanaman yang sehat dan dipanen tersendiri, kemudian di jemur sampai betul-betul kering dengan kadar air 10-15%. Penjemuran benih sebaiknya dilakukan pada pagi hari, dari pukul 10 hingga 12 siang.

2.    Penyortiran dan penggolongan

Terdapat beberapa cara untuk memisahkan biji dari kulit polong. Diantaranya dengan cara memukul-mukul tumpukan brangkasan kedelai secara langsung dengan kayu atau brangkasan kedelai sebelum dipukul-pukul dimasukkan ke dalam karung, atau dirontokkan dengan alat pemotong padi. Setelah biji terpisah, brangkasan disingkirkan. Biji yang terpisah kemudian di tampi agar terpisah dari kotoran-kotoran lainnya. Biji yang luka dan keriput dipisahkan. Biji yang bersih ini selanjutnya dijemur kembali sampai kadar airnya 9-11%. Biji yang sudah kering lalu dimasukkan ke dalam karung dan dipasarkan atau disimpan. Sebagai perkiraan dari batang dan daun basah hasil panen akan diperoleh biji kedelai 18,2%.

3.    Penyimpanan dan pengemasan

Sebagai tanaman pangan, kedelai dapat disimpan dalam jangka waktu cukup lama. Caranya kedelai disimpan di tempat kering dalam karung. Karung-karung kedelai ini ditumpuk pada tempat yang diberi alas kayu agar tidak langsung menyentuh tanah atau lantai. Apabila kedelai disimpan dalam waktu lama, maka setiap 2-3 bulan sekali harus dijemur nlagi sampai kadar airnya 9-11%.

 

HAMA TANAMAN KEDELAI

9:00 PM Add Comment

 

Aphis spp

Hama pada tanaman kedelai dapat digolongkan menjadi 4 yaitu :

1.    Hama perusak bibit : lalat bibit, lalat batang, lalat pucuk

2.  Hama perusak daun : penggulung daun, ulat grayak, ulat jengkal, aphid, kutu kebul, wereng daun

3.    Hama perusak polong : ulat peggerek buah, ulat penggerek polong, kepik penghisap polong

4.    Hama lepas panen/gudang : kumbang bubuk kedelai, ulat nonol

 

A.   Aphis SPP (Aphis glycine) dan kutu kebul (Bemisia tabaci)

Kutu dewasa berukuran kecil 1-1,15 mm berwarna hitam, ada yang bersayap dan tidak. Kutu ini dapat menularkan virus SMV (Soyabean Mozaik Virus). Menyerang pada awal pertumbuhan dan masa pertumbuhan bunga dan polong. Gejala : layu, pertumbuhannya terhambat. Pengendalian : (1) menanam kedelai pada waktunya dan tidak menanam pada bulan Juli-Agustus, mengolah tanah dengan baik, bersih, memenuhi syarat, tidak ditumbuhi inang seperti : terung-terungan, kapas-kapasan atau kacang-kacangan, (2) membuang bagian tanaman yang terserang hama dan membakarnya, (3) menggunakan musuh alami (predator maupun parasite), (4) menyemprotkan insektisida dilakukan pada permukaan daun bagian atas dan bawah.

B.   Lalat bibit : Melano Agromyza Phaseoli, kecil sekali (1,5mm)

Lalat bertelur pada leher akar, larva masuk ke dalam batang memakan isi batang kemudian menjadi lalat dan bertelur. Tanaman umur 5 hari rentan serangan lalat bibit. Lebih berbahaya bagi kedelai yang ditanam di ladang. Pengendalian : (1) waktu tanam pada saat tanah masih lembab dan subur (tidak pada bulan-bulan kering), (2) penyemprotan Agrothion 50 Ec, Azodrin 15 WSC, Sumithoin 50 EC, Surecide 25 EC.

Faktor penyebab munculnya lalat bibit : pada daerah endemis, pembakaran jerami diakhir setelah panen sangat merugikan lingkungan pertanaman karena dapat menghilangkan air permukaan tanaman maupun tanah, sehingga menjadi rawan serangan hama lalat bibit.

Pencegahan lalat bibit dapat dilakukan dengan membiarkan jerami tidak dibabat atau dibabat tanpa dibakar, dan menggunakannya sebagai mulsa dapat melindungi hilangnya air permukaan tanaman maupun tanah, serta mencegah serangan hama lalat bibit.

C.    Kumbang daun tembukur (Phaedonia inclusa)

Bertubuh kecil, hitam bergaris kuning. Bertelur pada permukaan daun. Gejala : larva dan kumbang pemakan daun, bunga, pucuk, polong muda, bahkan seluruh tanaman. Pengendalian : penyemprotan Agrothion 50 EC, Basudin 50 EC, Diazinon 60 EC, dan Agrothion 50 EC.

D.   Kepala polong (Riptortis lincearis)

Gelaja : polong bercak-bercak hitam dan menjadi hampa

Pengendalian : penyemprotan Surecide 25 EC, Azodrin 15 WSC

E.    Lalat kacang (Ophiomyia phaseoli)

Menyerang tanaman muda yang baru tumbuh. Pengendalian : saat benih ditanaman, tanah diberikan furadan 3G, kemudian setelah benih ditanam, tanah ditutup dengan jerami. Satu minggu setelah benih menjadi kecambah dilakukan penyemprotan dengan insektisida Azodrin 15 WSC, dengan dosisi 2 cc/liter air, volume larutan 1.000 liter/ ha. Penyemprotan diulangi pada waktu kedelai berumur 1 bulan.

F.    Kepik hijau (Nezara viridula)

Panjang 16 mm, telur di bawah permukaan daun, berkelompok. Setelah 6 hari telur menetas menjadi menjadi nimfa (kepik muda), yang berwarna hitam bintik putih. Pagi hari berada di atas daun, saat matahari bersinar turun ke polong, memakan polong dan bertelur. Umur kepik dari telur hingga dewasa antara 1 sampai 6 bulan. Serangan kepik hijau bisa berakibat lebih parah jika kedelai berdekatan dengan kacang Panjang. Gejala : polong dan biji mengempis serta kering. Biji bagian dalam atau kulit polong berbintik coklat. Pengendalian : Azodrin 15 WCS, Dursban 20 EC, Fomodol 50 EC.

G.   Ulat grayak (Prodenia litura)

Serangan : mendadak dan dalam jumlah besar, bermula dari kupu-kupu berwarna keabu-abuan, Panjang 2 cm dan sayapnya 3-5 cm, bertelur di permukaan daun. Tiap kelompok telur terdiri dari 350 butir. Gejala : kerusakan pada daun, ulat hidup bergerombol, memakan daun, dan berpencar mencari rumpun lain. Pengendalian (1) dengan cara sanitasi, (3) penanaman serempak dan tidak pada bulan juli-agustus, (3) disemprotkan pada sore/malam hari (saat ulat menyerang tanaman) beberapa insektisida yang efektif seperti Dursban 20 EC, Azodrin 15 WSC dan Basudrin 50 EC.

Musim Tanam

Hama dominan yang perlu diwaspadai

Februari-April

Lalat bibit

Mei-Juni

Kutu kebul dan Aphis

Juni-Juli

Ulat penggulung daun dan ulat grayak

Juli- Agustus

Ulat grayak, ulat jengkal, ulat penggerek polong dan ulat buah

Agustus-September

Ulat grayak, ulat jengkal, penggerek polong, penggerek buah, wereng daun, kumbang bubuk

 

Dalam penggunaan pestisida kimia perlu memperhatikan ambang kendali, jadi pestisida kimia merupakan alternatif terakhir jika jumlah hama sudah mecapai ambang kendali

Jenis Hama

Ambang kendali

Lalat kacang (Ophiomya phaseoli, Malanogromyza sojae, M dolichostigma)

Populasi 1 ekor per 12 tanaman. Intensitas kerusakan 2% pada umur 10 hst

Ulat perusak daun (Spodoptera litura, Plusia chalcites, Lamprosema indicate, Biloba subsecivella)

50 ekor instar 1 per 12 tanaman, 32 ekor instar 2 per 12 tanaman, 17 ekor instar 3 per 12 tanaman. Intensitas kerusakan 15% sebelum 20 hst, 20% setelah 20 hst

Penggerek polong (Etiella zincenella, E hobsoni)

45-50 hst intensitas serangan lebih dari atau samadengan 2%

Ulat buah (Heliothis armigera)

45-50 hst intensitas serangan lebih dari atau samadengan 2%

Penghisap polong (Nezara viridula, Piezodorus rubrifasciatus, Riptortus linearis)

45 hst ditemukan sepasang impago. Intensitas kerusakan polong 2,5%