PENANAMAN CABAI DAN PEREMPELAN

7:49 PM Add Comment

 

tanaman cabai yang diberi ajir

Setelah penyiapan bibit dan penyiapan lahan selesai, dilakukan penanaman pada lubang tanam yang disiapkan dengan bibit yang telah disiapkan dengan jarak tanam yang dianjurkan untuk cabai. Penanaman merupakan kegiatan memindahkan bibit dari persemaian ke lahan atau areal penanaman hingga tanaman berdiri tegak dan tumbuh secara optimal di lapangan Penanaman cabai dilaksanakan setelah persiapan tanam selesai dikerjakan vvaktu pelaksanaan pagi hari atau sore hari. Bibit yang digunakan sebaiknya berumur 3 minggu dan telah keluar 3-4 daun.

Setelah bibit ditanam di lahan hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah melakukan penyulaman apabila didapatkan tanaman cabai yang mati atau rusak. Tujuannya yaitu untuk memenuhi jumlah tanaman normal dalam satu kesatuan luasan tertentu sesuai dengan jarak tanam. Penyulaman dilakukan saat tanaman berumur 7 dan 14 hari setelah penanaman dengan menggunakan sisa bibit hasil pertanaman dahulu, bisa juga menggunakan bibit yang kita tanaman dengan selang 7-14 hari dari awal penyemaian. Dengan usia bibit yang seragam diharapkan usia panennya juga akan serentak. Jika pada usia 3 minggu masih ada tanaman yang mati, kita tidak perlu menyulam atau menggantinya. Penyulaman saat tanaman berumur lebih dari 3 minggu akan menghasilkan tanaman yang tidak seragam, baik umur maupun waktu panennya, sehingga akan menyulitkan perawatannya. Penyulaman ini dilakukan untuk mengurangi gagal panen, juga merupakan tahap awal untuk memperoleh produksi yang baik dan berkualitas pada saat panen kelak.

Ketika tanaman cabai sudah dipindahkan dari persemaian ke lahan, maka diperlukan pengajiran. Pengajiran, pengajiran merupakan kegiatan memasang penyanggah/penopang dekat dengan tanaman cabai. Tujuannya membantu tanaman tumbuh tegak, mengurangi kerusakan fisik tanaman yang disebabkan beban buah dan tiupan angin, memperbaiki pertumbuhan daun dan tunas, mempermudah pemeliharaan. Macam-macam pengajiran yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

1.    Pengajiran sistem tegak. Pemasangan ajir dengan sistem tegak dilakukan dengan memasang satu ajir di setiap tiga tanaman lalu dihubungkan dengan palang (tali plastik, kayu, bambu). Tepat dipercabangan utama batang tanaman diikat dengan tali plastik membentuk angka 8 dengan ajir, sehingga bila terjadi gesekan tidak akan langsung mengenai batang tanaman dan tidak melukai tanaman. Untuk menopang berat tubuh tanaman diperlukan palang-palang kayu atau bahan Iain atau anyaman tali plastik yang dipasang sedemikian sehingga tanaman tidak roboh.

2.    Pengajiran sistem miring. Pemasangan ajir miring dilakukan dengan menyilangkan ujung ajir. Pada ujung ajir diberi keratan untuk memudahkan pengikatan dengan tali plastik, kawat kecil atau alat Iainnya. Di ujung mahkota tanaman tetap diperlukan palang tambahan atau anyaman tali plastik untuk penopang tajuk tanaman agar tidak patah atau malformasi (salah bentuk). Keragaan yang baik dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan pathogen dari golongan jamur dan bakteri karena rendahnya kelembaban di dalam kanopi. Juga dapat meningkatkan efisiensi fotosintat, sehingga tanaman mempunyai metabolit yang cukup untuk pembentukan bunga dan buah.

Untuk mencapai produksi yang optimal dalam perawatan tanaman cabai diperlukan perempelan. Perempelan adalah kegiatan membuang tunas air, daun, bunga dan bagian tanaman Iain yang rusak atau terkena serangan OPT. Tujuan dari perempelan adalah: mengatur keseimbangan nutrisi dan asimilat untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, untuk membentuk tajuk tanaman yang ideal sehingga terjadi partisi sinar matahari yang efektif untuk energi fotosintesis, dan mempermudah pemeliharaan.

Perempelan yang dilakukan pada tanaman cabai ada 3 (tiga) model yaitu: perempelan tunas samping, perempelan bunga dan perempelan daun. Cabai hibrida umumnya bertunas banyak yang tumbuh dari ketiak-ketiak daun. Tunas ini tidak produktif dan akan mengganggu pertumbuhan secara optimal. Oleh karena itu, perlu dilakukan perempelan (pembuangan) tunas samping.

Perempelan tunas samping dilakukan pada tanaman cabai hibrida yang berumur antara 7 - 20 hari. Semua tunas samping dibuang agar tanaman tumbuh kuat dan kokoh. Saat terbentuk cabang, maka perempelan tunas dihentikan. Biasanya perempelan tunas ini dilakukan 2 - 3 kali. Tanpa perempelan tunas samping, pertumbuhan tanaman cabai akan Iambat

Ketika tanaman cabai mengeluarkan bunga pertama dari sela-sela percabangan per-tama, maka bunga ini pun harus dirempel. Tujuan perempelan bunga perdana ini adalah untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas dan percabangan di atasnya yang lebih banyak dan produktif menghasilkan buah yang lebat. Kelak tanaman cabai hibrida yang sudah berumur 75 - 80 hari biasanya sudah membentuk percabangan yang optimal.

Daun-daun tua yang ada di bawah cabang dapat dirempel, terutama daun yang terserang hama dan penyakit. Daun tua tersebut sudah tidak produktif lagi, bahkan seringkali menjadi sumber penularan hama dan penyakit. Perempelan daun-daun tua ini jangan terlalu awal, sebab pertumbuhan cabang daun belum optimal. Kesalahan perempelan daun tua, justru berakibat fatal, yakni menyebabkan tanaman cabai tumbuh merana dan produksinya menurun

 

PENGAIRAN TANAMAN CABAI

7:44 PM Add Comment

Pengairan adalah memberikan air sesuai kebutuhan tanaman di sekitar perakaran dengan air yang memenuhi standar baku mutu pada waktu, cara, dan jumlah yang tepat. Tujuannya menjamin ketersediaan air bagi tanaman untuk mengganti air yang hilang akibat penguapan, hanyut, air yang meresap ke dalam tanah, air aliran permukaan dan lainnya, sehingga pertumbuhan dan proses produksinya optimal.

A.   Teknik Pengairan

Pada fase awal pertumbuhan, tanaman cabai, penyiraman perlu dilakukan secara rutin tiap hari, terutama di musim kemarau. Setelah tanaman tumbuh kuat dan perakarannya dalam, pengairan berikutnya dilakukan dengan cara dileb setiap 3 - 4 hari sekali. Pengeleban ini airnya cukup sampai batas antara tanah bagian bawah dengan ujung mulsa plastik hitam perak. Setelah tanah bedengan basah, airnya segera dibuang kembali melalui saluran pembuangan. Sedangkan tanaman yang sudah produktif (berbuah) tidak mutlak memerlukan air banyak. Tetapi yang terpenting adalah menjaga agar tanah tidak kekeringan.

Pengairan dilakukan pada saat musim kering dengan cara menyiram langsung akan tetapi cara ini dapat merusak tanah. Sistem yang baik digunakan adalah sistem genangan sehingga air dapat sampai ke daerah perakaran secara resapan. Pengairan dengan sistem genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan berdasarkan kebutuhan. Pada tanaman yang sudah cukup kuat sistem pengairan tuang (kocoran) dapat diterapkan. Sistem selang juga dapat dilakukan agar tanah di sekitar tanaman tidak hanyut

B.   Waktu Pengairan (Penyiraman)

Penyiraman yaitu menyiramkan sejumlah air di sekitar tanaman atau di atas tanah gulutan. Cara penyiraman :

1.    Penyiraman dilakukan pagi pukul 05.00-10.00, sore pukul 03.00-malam.

2.    Jangan melakukan pengairan hingga melebihi tinggi tanah gulutan, maksimal setengah dari tinggi tanah gulutan dan jangan digenangkan terlalu lama (15-30 menit)

3.    Setelah melakukan pemupukan susulan/kocor pupuk susulan, jangan melakukan penyiraman. Jika tanah kering, cukup lakukan pengairan dan air harus segera dibuang agar tidak menggenang di selokan. Biasanya jika dilakukan penyiraman, tiba-tiba pertumbuhan tunas akan keriting atau mengkerut (Njebuk).

4.    Di saat musim kemarau, pemberian air yang bagus adalah dengan cara pengairan lewat selokan, akan tetapi air harus segera dibuang (dialirkan keluar), yang penting tanah di dasar gulutan basah. Hal ini untuk menghindari stres tanaman karena seharian kena terik matahari. Akan tetapi jika seharian cuaca tidak panas dan kondisi gulutan kering, lebih baik dilakukan penyiraman.

 

Pengolahan Tanah Pada Budidaya Cabai

9:21 PM Add Comment

 


Tanaman cabai dapat dibudidayakan di lahan sawah, lahan kering/tegalan. Pada lahan sawah cabai ditanam setelah padi pada MK-I, dengan pola tanam padi (Januari-Maret), bawang merah (April —Mei) dan cabai (Juni —September), atau padi (Maret/April - Mei/Juni) dan cabai (komoditas Iainnya) pada Juni —September. Pola tanam yang diterapkan Oleh petani ini sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air irigasi. Apabila air irigasi berlebih atau mencukupi kebutuhan, maka petani memilih menanam padi, karena lebih mudah dan lebih aman untuk penyediaan pangan, baru pada musim kemarau berikutnya petani membudidayakan cabai. Sebelum melaksanakan persiapan lahan perlu dilaksanakan pemilihan lahan.

Calon lokasi tanaman cabai sebaiknya Iahan yang sebelumnya tidak ditanami tanaman dari famili yang sama (Solanaceae) seperti tomat, terong, melon, cabai, tembakau, minimal I musim tanam dan dianjurkan memilih lokasi lahan bekas ditanami dari famili Graminae seperti padi, jagung, tebu atau dari famili Liliaceae seperti bawang merah, bawang bombay, dan Iain-Iain.

Kegiatan penyiapan Iahan ini meliputi pengolahan lahan, pemberian kapur tanah bila pH tanah asam, pemupukan dasar, pemasangan mulsa dan pembuatan lubang tanam.

A.   Pengo!ahan Lahan

Tindakan pengolahan lahan dibedakan menurut jenis Iahan tempat cabai akan dibudidayakan, yaitu pengolahan lahan sawah dan lahan kering/tegalan. Lahan yang diperlukan untuk budidaya cabai adalah tanah yang gembur dan memiliki porositas yang bak. Sebelum cabai ditanam cangkul atau bajak Iahan sedalam 20-40 cm. Bersihkan dari batu atau kerikil dan sisa-sisa akar tanaman. Apabila terlalu banyak gulma dan khawatir menganggu bisa gunakan herbisida.

Bila dibudidayakan setelah padi sawah, pengolahan Iahan Yang harus dilakukan adalah membabat jerami sampai sekitar 5 cm dari permukaan tanah. Pengelolaan jerami padi selanjutnya, apakah dibakar sebelum tanam, dihamparkan sebagai mulsa setelah tanam atau tanpa jerami padi, tergantung kondisi setempat. Hal ini berkaitan dengan kebiasaan petani dalam memanfaaatkan jerami, apakah untuk pakan ternak atau sebagai bahan baku industri kertas. Dewasa ini, banyak petani muiai menggunakan herbisida pratumbuh sebelum tanam cabai, baik dengan atau tanpa pengolahan lahan.

1.    Lahan Sawah

Pada lahan sawah cabai ditanam setelah padi pada MK-l, dengan pola tanam padi (Januari-Maret), bawang merah (April —NIei) dan cabai merah (Juni —September), atau padi (Mare/ApriI - Mei/Juni) dan cabai (komoditas lainnya) pada Juni — September. Pola tanam yang diterapkan oleh petani ini sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air irigasi. Apabila air irigasi berlebih atau mencukupi kebutuhan, maka petani memilih menanam padi, karena lebih mudah dan lebih aman untuk penyediaan pangan, baru pada musim kemarau berikutnya petani membudidayakan cabai.

2.    Lahan Kering

Pada lahan kering, cabe ditanam pada awal musim hujan (Oktober/November) Pengolahan tanah di lahan kering pada umumnya dilakukan dengan menggunakan traktor, karena lebih mudah, praktis dan lebih cepat. Pengolahan tanah dilakukan dua kali. Beberapa masalah yang sering dihadapi di lahan kering beriklim basah adalah (1) pencucian hara dan keracunan Al, (2) kadar bahan organik tanah rendah, (3) efısiensi pemupukan rendah, (4) kepekaan erosi tinggi dan (5) degradasi produktivitas.

Pada lahan kering beriklim kering, masalah yang dijumpai adalah (I) ketersediaan air terbatas, (2) alkalinitas dan salinitas, (3) kepekaan erosi tinggi, (4) pemupukan dan ameliorasi belum sesuai dan (5) pemanfaatan lahan dan teknik pengembangan belum sesuaÄ°

B.   Pemberian Kapur/ameliorasi

Budidaya cabai menghendaki tanah yang memiliki tingkat keasaman tanah PH 6-7. Apabila nilainya terlalu rendah (asam), daun tanaman cabai akan terlihat pucat dan mudah terserang virus. Tanah yang asam biasanya mudah ditumbuhi ilalang. Untuk menetralÄ°sÄ°rnya bisa gunakan kapur pertanian/ameliorasi sebanyak 2-4 ton/ha. Pemberian kapur atau dolomit dilakukan pada saat pembajakan dan pembuatan bedengan.

Cara praktis dalam mengaplikasikan kapur adalah dengan menebar langsung di atas permukaan tanah secara merata hingga kedaıaman antara 15-30 cm. Tidak meratanya pemberian kapur dapat mengurangi daya netralisasi dan menyebabkan lambatnya perubahan PH tanah. Jika jumlah kapur yang diberikan sedikit (2 ton/ha) disarankan diaplikasikan sekali dengan cara dibenam pada bedengan tempat bedengan akan dibuat.

C.    Pembuatan bedengan dan Saluran Air

Pembuatan bedengan dilakukan sesuai kontur dengan lebar satu meter tinggi 30-40 cm dan jarak antar bedengan 60 cm. Panjang bedcngan discsuaikan dcngan kondisi lahan, untuk memudahkan pemeliharaan panjang bcdcngan maksimal 15 mcter. bedengan dipupuk dengan pupuk organik sebanyak 2 ton perha .Pupuk organik diaduk sambil pembuatan guludan dan penghalusan agredat tanah sehingga permukaan guludan halus.

Pembuatan saluran drainase yang baik perlu dilakukan karena tanaman cabai tidak tahan terhadap genangan air. Arah saluran drainase adalah memotong kontur atau searah kemiringan lereng. Jarak antar saluran drainase bergantung pada tekstur tanah dan kemiringan lahan. Tanah berat dengan kadar liat tinggi mempunyai sifat sulit diolah, keras pada kondisi kering dan relatif sulit dialiri air dengan arah venikal atau horisontal.

Pada tanah-tanah seperti ini, maka saluran drainase lebih rapat harus diterapkan agar pertumbuhan tanaman dapat optimal untuk mencapai prodüktivitas tinggi. Pedoman jarak antar saluran drainase pada berbagai tekstur tanah dan kemiringan lereng dapat dibuat seperti Tabel 1 berikut :

Kemiringan lereng %

Jarak antar saluran drainase (m)

Tekstur halus

Tekstur sedang

Tekstur kasar

< 3 (datar)

1,5

1,5-2

2-2,5

3-8 (landai)

2

2-2,5

2,5-3

8-15 (agak miring)

2,5

2,5-3

3-4

>15 (miring)

3

3-4

4-5

 

D.   Pemupukan dasar

a.  Berikan pupuk dasar dalam bentuk pupuk kandang yang sudah matang 2 minggu sebelum. tanam

b. Pupuk anorganik diberikan sebelum tanam dengan cara ditebar, disiram dan ditutup mulsa. Jenis dan dosis pupuk disesuaikan dengan rekomendasi dan spesifik Iokasi.

E.    Pemasangan mulsa plastik

Mulsa plastik yang digunakan adalah mulsa plastik perak hitam. Manfaat dari mulsa plastik perak hitam diantaranya pengendalian gulma, mencegah penguapan air, mencegah hilangnya unsur hara, meningkatkan efektifitas fotosintesa, mengurangi kelembaban tanaman dan kebun sehingga hama dan penyakit kurang dan lain-lain

 

PERSYARATAN KONDISI AIR PADA BUDIDAYA CACING SUTRA

10:23 PM Add Comment

 "Parameter kualitas air seperti oksigen, pH, suhu, kandungan nutrisi, nitrogen, dan karbon yang sesuai sangatlah dibutuhkan untuk mendukung kelangsungan hidup cacing sutra"

Budidaya merupakan suatu upaya untuk meningkatkan produktivitas melalui kegiatan-kegiatan yang intensif dan terkontrol sehingga cacing sutra bisa mencapai potensi maksimalnya. Kegiatan budidaya ini tetap mengacu pada kondisi alamiah kehidupan cacing sutra di alam, hanya saja ketika dibudidayakan semua media maupun pakan akan lebih terkontrol daripada ketika cacing sutra hidup di alam. Misalkan pakan yang digunakan adalah ampas tahu dengan kandungan proteian yang tinggi dan terlebih dahulu dilakukan fermentasi, pemberiannya juga selalu kontinyu, yang menjadikan pakan bukan faktor penghambat dalam budidaya cacing sutra.

Tidak hanya mengenai pakan, hal yang tidak kalah pentingnya adalah media hidup cacing sutra. Kualitas media hidup, yaitu substrat atau media lumpur organik, bagi cacing sutra sangatlah dibutuhkan agar kondisi media budidaya yang akan digunakan sesuai dengan kondisi di alam. Parameter kualitas air seperti oksigen, pH, suhu, kandungan nutrisi, nitrogen, dan karbon yang sesuai sangatlah dibutuhkan untuk mendukung kelangsungan hidup cacing sutra. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam budi daya cacing sutra :

1.    Kadar amonia air

Semakin tinggi kadar amonia, maka kelimpahan cacing sutra semakin rendah. Meningkatnya kadar amonia hingga 0,29—0,96 mg/l diikuti dengan menurunnya kelimpahan cacing sutra. Kadar amonia yang masih bisa ditolerir oleh cacing ini adalah kurang dari 3,6 ppm. Kadar amonia yang berada di bawah 3,6 ppm bisa dicapai jika kondisi air selalu bergerak mengalir secara lancar di seluruh permukaan media budi daya cacing sutra. Pastikan juga aliran air tersebut menutupi seluruh permukaan media budidaya, jangan sampai ada media atau substrat budi daya yang kekeringan akibat tidak dialiri air. Media yang kekeringan, bisa menyebabkan cacing sutra akan sulit berkembang.

Kadar amonia juga dipengaruhi oleh adanya pembusukan pakan cacing yang berlebihan, oleh karena itu dalam pemberian pakan harus selalu dikontrol, jang sampai pakan mengendap cukup lama karena kelebihan dan menyebabkan kandungan amonia di air meningkat. Perlu diperhatikan untuk pakan cacing sutra jangan memberikan yang belum lumat, pakan yang tidak dilumatkan kemudian dilakukan proses fermentasi akan menyebabkan cacing sutra enggan untuk memakannya dan bisa menyebabkan kanduangan amonia air meningkat. Pakan yang tidak habis sebaiknya diambil dan diganti dengan baru dengan jumlah pemberian dikurangi. Jika air mulai keruh dan berbau tidak sedap/busik segera ganti dengan air yang baru dan lakukan pengurasan bak tampungan air.

2.    Suhu

Suhu ideal bagi budidaya cacing sutra adalah berkisar antara 250C sampai 280C. Untuk mendapatkan kisaran suhu sekitar 25—280 C, di beberapa daerah beriklim tropis, sebaiknya proses budidaya cacing sutra menggunakan penutup berupa paranet dengan kisaran cahaya yang masuk ke media budi daya berkisar 40—60%. Jika intensitas cahayanya terlalu besar (cahaya matahari langsung terkena media tanpa adanya pembatas), media budidaya mudah berlumut dan tumbuh jamur pada bagian atasnya. Lumut dan jamur akan mengganggu perkembangan cacing sutra bahkan bisa menurunkan kadar oksigen terlarut dan pH air. Karena itu, keberadaan paranet yang dikombinasikan dengan plastik UV sangat diperlukan dalam budidaya cacing sutra ini. Proses budi daya cacing sutra bisa dilakukan di dalam ruangan. Namun, posisi ruangannya jangan terlalu rapat dan gunakan pintu atau jendela untuk menyiasati ketika siang hari agar ada sirkulasi udara yang keluar masuk. Apabila tertutup rapat, suhu ruangan pada siang hari bisa terlalu pengap atau panas yang mengakibatkan pertumbuhan cacing sutra kurang optimal. Penerapan sistem indoor membuat pembudidaya mudah dalam pengontrolan suhu, jika suhu terlalu dingin, tutup jendela.

3.    Kadar oksigen

Cacing sutra bisa hidup di perairan yang berkadar oksigen rendah. Bahkan, beberapa jenis dapat bertahan dalam kondisi tanpa oksigen untuk jangka waktu yang pendek. Cacing sutra dapat mengeluarkan bagian posteriornya dari tabung untuk mendapatkan oksigen lebih banyak ketika kandungan oksigen dalam air sangat sedikit. Secara umum, konsentrasi oksigen yang lebih rendah membuat gerakan bagian ekor cacing sutra semakin giat untuk melambai menghasilkan aerasi. Namun, jika kadar oksigen mulai nol, pergerakan cacing sutra menjadi diam.

Pada masa embrio dan masa pemeliharaan, cacing sutra membutuhkan oksigen berkisar 2 ppm. Kandungan rendah atau kurang dari 2 ppm, bisa menghambat aktivitas makan dan reproduksinya. Untuk itu, dalam pemeliharaan cacing sutra keberadaan tetesan air atau air yang mengalir diperlukan. Fungsinya untuk menambah atau mempertahankan kadar oksigen terlarut di kisaran optimum.

Lebih baik lagi jika ditambahkan aerator pada kolam penampungan air, kegunaannya untuk meningkatkan oksigen yang terlarut sebelum air tersebut disalurkan ke media tumbuh cacing. Perlu diperhatikan juga untuk selalu melakukan pengecekan instalasi, karena biasanya lubang untuk keluar air tersumbat oleh kotoran. Jika aliran airnya terganggu maka bisa berakibat menurunnya kandungan oksigen dalam air.

pemberian pakan fermentasi ampas tahu

4.    pH air

Cacing sutra sangat cocok berkembang pada kisaran pH 5,5—8,0. Untuk mendapatkan kisaran pH yang ideal tersebut, pembudidaya bisa melakukan fermentasi pada proses pembuatan pakan dan media awal budi daya cacing sutra. Proses fermentasi bisa membuat pH stabil di bawah 7. Proses fermentasi juga bisa meningkatkan kadar protein pada bahan-bahan yang akan digunakan pada pembuatan media awal maupun untuk pakan dan pemupukan.

Selain itu, proses fermentasi juga bisa meningkatkan nilai gizi bahan pakan yang sebagian besar merupakan limbah yang tidak terpakai. Sebagai contoh, proses fermentasi ampas tahu dengan ragi dan probiotik, akan mengubah protein menjadi asam amino, sehingga secara tidak langsung akan menurunkan kadar serat kasar ampas tahu. Kondisi bahan yang sudah difermentasikan mempermudah cacing sutra untuk mengonsumsinya.

Selain dari pakan pH juga ditentukan oleh air yang digunakan untuk budidaya, biasanya air dari sumur memiliki pH lebih netral dari pada air dari PAM, perlu dicek juga kandungan kaporit dalam air yang akan digunakan untuk budidaya, jia ada kandungan kaporitnya maka ganti dengan sumber mata air lain yang lebih aman, karena kaporit akan membunuh bakteri pengurai pada pakan cacing sutra dan bisa juga membunuh cacing sutra yang dibudidayakan.

Jika pH air budidaya asam, maka bisa dilakukan pengapuran yang dimasukkan ke dalam kaus kaki atau karung hingga pH air nrtral baru kapur diambil. Jika pH air tinggi, untuk penurunannya bisa menggunakan larutan cuka untuk makanan.

 

SIKLUS HIDUP CACING SUTRA (Tubifex sp)

8:26 PM Add Comment

 

cacing sutra

Cacing sutra merupakan salah satu alternatif pakan alami yang dapat dipilih untuk pakan ikan. Cacing ini sangat dibutuhkan terutama pada fase awal pembenihan ikan air tawar. Misalnya ikan lele benih yang baru menetas usia 4 sampai 14 hari bisa diberikan pakan cacing sutra, setelah itu bisa digantikan dengan pelet tepung hingga usia 21 hari. Atau jika menghendaki pertumbuhan yang cepat maka pemberian cacing sutra bisa dilakukan dari umur 4 hari setelah menetas hingga 21 hari. Tidak hanya ikan air tawar untuk konsumsi, cacing sutra juga dibutuhkan ikan hias karena bentuk cacing sutra yang lembut dan kecil sehingga bisa dikonsumsi oleh ikan-ikan yang ukurannya kecil atau baru menetas sesuai dengan ukuran bukaan mulut ikan tersebut. Kandungan nutrisi pada cacing sutra sangatlah baik untuk menunjang pertumbuhan ikan budidaya. Peranan cacing sutra hingga kini belum tergantikan, walaupun pakan ikan yang baru menetas bisa juga menggunakan kutu air tetapi dalam pengaplikasiannya lebih mudah dengan cacing sutra, peternak juga dapat dengan mudah melakukan kontrol kondisi pakan, karena bentuk cacing sutra yang lebih mudah terlihat dengan mata telanjang dari paka kutu air.

Cacing sutra termasuk dalam kelompok cacing-cacingan (Tubifex sp.). Dalam ilmu taksonomi hewan, cacing sutra digolongkan dalam kelompok nematoda, atau hewan tingkat rendah karena tidak memiliki tulang belakang (invertebrata). Nama sutra disematkan karena cacing ini memiliki tubuh yang lunak dan sangat lembut seperti sutra. Selain mendapatkan julukan sebagai cacing sutra, cacing ini biasa disebut juga sebagai cacing rambut karena bentuk tubuhnya yang panjang menyerupai rambut. Warna tubuh cacing sutra adalah merah, sehingga pada lokasi yang terdapat koloni cacing sutra dalam jumlah banyak, airnya akan terlihat berwarna merah. Apa lagi ketika pagi dan sore hari. Sesuai dengan karakteristiknya, cacing sutra menghindari cahaya terang, sehingga ketika sinar matahari bersinar dengan intensitas penuh, cacing sutra akan membenamkan tubuhnya ke dalam tanah/ lumpur menghindari terpaan sinar matahari dan mulai aktif kembali pada malam hari (nocturnal).

Kandungan protein cacing sutra berkisar 57% dan 13% berupa lemak, benih ikan konsumsi yang sangat menyukai cacing sutra yaitu ikan lele, ikan mas, ikan patin, ikan gurami, belut dan sidat. Karena harganya cenderung mahal berkisar antara Rp. 25.000 hingga Rp. 45.000 perliternya, maka pemberian cacing sutra kepada ikan peliharaan harus memperhatikan ke efisiensian biaya. Ketika benih ikan sudah bisa dipindah dengan pakan pelet atau pabrikan maka sebaiknya pemberian pakan cacing sutra dihentikan.

Filum             : Annelida

Kelas               : Oligochaeta

Ordo               : Haplotaxida

Famili              : Tubifisidae

Genus             : Tubifex

Spesies           : Tubifex sp.

Spesies Tubifex sp. Ini merupakan jenis hermaprodit, memiliki dua jenis alat kelamin berupa testis dan ovarium yang terbentuk pada segmen X dan XI dengan reproduksi umumnya dengan cara seksual. Namun, untuk membuahi sel telurnya diperlukan sperma dari cacing lainnya dan berkembang biak dengan cara bertelur dari betina yang telah matang telur. Selanjutnya, telur hasil perkembangbiakannya dibuahi oleh kelamin jantan yang telah matang. Oleh karena itu jika ingin cepat mendapatkan perkembangan cacing sutra yang signifikan maka peternak harus memelihara cacing sutra yang telah dewasa dengan harapan cacing bisa langsung segera kawin dan meghasilkan telur, telur-telur cacing sutra berada di dalam wadah yang dinamakan kokon.

telur cacing sutra di pinggiran bak budidaya

Perkembangan telur cacing sutra terjadi di dalam kokon yang berbentuk bulat telur, panjang 1mm dan diameter 0,7 mm yang dihasilkan oleh kelenjar epidermis dari salah satu segmen tubuh (kitelium). Tubuhnya sepanjang 1-2 cm terdiri dari 30-60 segmen atau ruas. Telur yang ada di dalam tubuh mengalami pembelahan yang selanjutnya berkembang membentuk segmen-segmen. Setelah beberapa hari, embrio cacing sutra akan keluar dari kokon. Pada proses budidaya yang telah dipraktekkan oleh penulis, biasanya kokon cacing sutra menempel pada bak atau tempat budidaya pada pinggiran dan biasanya berada di atas batas garis permukaan air. Jika tidak tahu, maka telur cacing sutra ini bisa dianggap telur dari siput atau katak dan malah dibersihkan. Penulis mulai mengetahui jika telur cacing sutra memiliki bentuk demikian ketika melihat beberapa mengeluarkan cacing sutra, keberadaan telur cacing sutra bisa menjadi parameter kecocokan tempat hidup dan perkembangan cacing sutra.

telur cacing sutra di bak tampungan air

Induk cacing sutra yang berumur 40-45 hari sudah bisa menghasilkan kokon dan mengeluarkan telur yang menetas menjadi Tubifex sp. Jumlah telur dalam setiap kokon berkisar 4-5 butir. Waktu yang dibutuhkan untuk proses perkembangbiakan telur di dalam kokon sampai menetas menjadi embrio Tubifek 10-12 hari. Jadi daur hidup cacing sutra dari telur, menetas hingga menjadi dewasa dan mengeluarkan kokon membutuhkan waktu sekitar 50-57 hari. Cacing sutra dewasa bisa menghasilkan kista telur yang mampu bertahan dalam kekeringan selama beberapa minggu dan lebih lama lagi di daerah pembuangan sampah. Dengan mengetahui siklus hidupnya, kita bisa menentukan saat panen perdana yang tepat, yaitu dilakukan setelah 50-57 hari pemeliharaan, kemudian bisa memanennya lagi setiap 10-12 hari. Perlu perhatian ketika memanen cacing sutra agar tidak mengulangi siklus menunggu hingga cacing dewasa lagi maka yang dipanen adalah cacing yang masih muda atau baru menetas, cacing yang dewasa biasanya ditandai dengan bentuk yang lebih panjang, warna yang lebih jelas dan terdapat bulu-bulu di tubuhnya. Jangan dipanen, karena jika dipanen maka induknya akan berkurang dan bisa mengakibatkan turunnya produksi. Yang dipanen adalah cacing sutra yang masih muda, yang telah dewasa dijadikan indukan.

siklus hidup cacing sutra

Habitat dan penyebaran cacing sutra ditemukan di daerah tropis. Dasar perairan yang disukai cacing sutra ini adalah berlumpur dan mengandung bahan organik, karena bahan-bahan organik yang telah terurai dan mengendap di dasar perairan merupakan makanan utamanya. Cacing sutra akan membenamkan kepalanya ke dalam lumpur untuk mencari makan. Sementara itu, ujung ekornya akan disembulkan di atas permukaan lumpur untuk bernafas. Pengalaman penulis dalam pembuatan media cacing sutra memegang peranan yang krusial atau penting, karena media merupakan tempat hidup cacing sutra. Perlu diperhatikan bahwa media harus gembur dan berlumpur, untuk menghindari masuknya cacing jenis lain, misalnya cacing lumpur maka media terlebih dahulu dikeringkan sebelum digunakan. Jika di lokasi budidaya sulit mendapatkan lumpur dari sawah, maka bisa menggunakan tanah biasa yang memiliki kandungan hara/ subur.

Perairan yang banyak dihuni cacing sutra sepintas tampak seperti koloni merah yang melambai-lambai. Kebiasaan hidupnya bergerombol di dalam sungai yang berlumpur dan mudah dijumpai di tepian sungai kecil yang dangkal dan keruh. Selain itu, cacing sutra juga ditemukan di saluran pembuangan kolam, saluran pembuangan limbah sumur atau limbah rumah tangga yang umumnya kaya bahan organik.

Cacing sutra ini merupakan organisme dasar (bentos) yang suka membenamkan diri dalam lumpur seperti benang kusut, kepalanya terkubur dan ekornya melambai-lambai dalam air, kamudian bergerak dan berputar-putar. Cacing yang hidupnya berkoloni ini, bagian ekornya berada di permukaan dan berfungsi sebagai alat bernafas dengan cara difusi langsung dari udara. Yang membedakan dengan cacing jenis cacing lumpur adalah cacing sutra memiliki bulu dan ekornya selalu melambai-lambai, ketika ada getaran atau Gerakan pada permukaan air cacing akan segera masuk ke dalam media/ lumpur untuk melindungi dirinya, karena merasa hal tersebut adalah gangguan atau ancaman.

Umunya cacing sutra bisa hidup di substrat lumpur dengan kedalaman 0-4 cm. seperti hewan air lain, air memegang peranan penting untuk kelangsungan hidup cacing ini. Menurut Marian dan pandian (1984) sekitar 90% Tubifek menempati daerah permukaan hingga kedalaman 4 cm dengan perincian sebagai berikut :

-Juvenile (dengan bobot kurang dari 0,1mg) di kedalaman 0-2 cm

-Immature (0,1-0,5 mg) di kedalaman 0-4 cm

-Mature (lebih dari 5 mg) di kedalaman 2-4 cm.

Dengan mengetahui jenis dan daerah hidupnya, pembudidaya dapat menentukan media yang digunakan untuk budidaya cacing sutra dan harus mempunyai ketebalan substrat minimum 4 cm.


Daftar Pustaka

 

Marian. M. P. dan Padian. T. J. 1984. Culture and Harvesting Techniques for Tubifex tubifex. Aquaculture 42 (84) 303-315.