MEMBUAT LUBANG RESAPAN BIOPORI

11:03 PM Add Comment


pipa biopori

Teknik pembuatan lubang resapan biopori(LRB) sangat sedehana, sehingga membuat LRB dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif sumur resapan yang dibuat secara individual dengan biaya yang lebih murah dan lebih praktis. Walaupun diameternya cukup kecil bila dibandingkan dengan jenis sumur resapan lainnya, tetapi lokasi lubang tidak boleh dibuat disembarang tempat. Selain harus indah dilihat LRB juga harus ditempatkan di lokasi yang dilalui air serta tidak membahayakan bagi manusia dan hewan peliharaan. Beberapa lokasi yang dapat dipilih yaitu di sekeliling pohon, tempat yang selalu tergenang air jika hujan, dan tepi taman. Lubang biopori ini juga sangat cocok di terapkan di perkotaan yang mangalami kerawanan banjir untuk mempercepat penyerapan air ke dalam tanah.

Pada umumnya, bahan yang perlu disiapkan untuk membuat lubang resapan biopori hanya berupa sampah organik (daun/ranting kering) dan air saja. Sementara itu, beberapa peralatan yang digunakan untuk membuat Iubang resapan biopori yaltu bor tanah (bor biopori), pisau, ember, gayung paralon dan tutup paralon khusus untuk biopori yang bisa dibeli di toko online atau bisa membuat sendiri.

Cara pembuatannya adalah sebagai berikut :

1.    Siapkan seluruh bahan dan peralatan yang diperlukan serta tentukan lokasi pembuatan LRB. Kemudian sebelum memulai pemboran, siram tanah terlebih dahulu dengan air agar menjadi lunak.

2.    Selanjutnya, mulailah membuat lubang dengan menggunakan bor

3.    Setelah bor masuk sedalam 20 cm atau setelah mata bor terlihat penuh dengan tanah, tarik bor keluar dan bersihkan dengan menggunakan pisau, sepotong kayu/bambu atau sendok semen. Begitu seterusnya sampai kedalaman yang diinginkan, yaitu 100 cm.

4.    Setelah lubang biopori siap masukkan sampah organik ke dalam lubang sampai penuh. Pengisian sampah jangan terlalu padat agar tidak mengurangi jumlah oksigen di dalam tanah

Lubang resapan biopori dapat diperkuat dengan memasang paralon pada mulut lubang atau adukan semen. Kemudian untuk memperindah LRB dapat juga ditambahkan hiasan pada permukaan adukan semen, bisa berupa batu hias, batu alam, atau pecahan keramik. Sementara itu, LRB dapat ditutup dengan tutup paralon khusus untuk lubang biopori yang sudah diberikan lubang atau menggunakan besi beton agar tidak membahayakan bagi yang lalu lalang. Alat penutup yang digunakan harus bisa dilalui air dan cukup kuat menahan beban jika terinjak.

biopori yang sudah jadi

 

MANFAAT BIOGAS

10:55 PM Add Comment

 "Biogas sebagai salah satu energi alternative dipastikan dapat menggantikan bahan bakar fosil yang keberadaannya semakin hari semakin terbatas."

Biogas adalah campuran gas yang dihasilkan oleh bakteri metanogenik yang terjadi pada material-material yang dapat terurai secara alami dalam kondisi anaerobik.  Bakteri metanogenik atau metanogen adalah bakteri yang terdapat pada bahan-bahan organik dan menghasilkan metan serta gas-gas lainnya dengan proses keseluruhan rantai hidupnya dalam keadaan anaerobik. Sebagai organisme-organisme hidup, ada kecenderungan untuk menyukai kondisi tertentu dan peka pada iklim mikro dalam digester. Terdapat banyak spesies dari metanogen dan variasi sifat-sifatnya. Perbedaan bakteri-bakteri pembentuk metan memiliki sifat-sifat fisiologi seperti bakteri pada umumnya. Namun, morfologi selnya heterogen. Beberapa bentuk batang atau bulat, sedangkan lainnya termasuk kluster bulat yang disebut sarcine. Family metanogen (bakteri metana) digolongkan menjadi empat genus berdasarkan perbedaan-perbedaan sitologi. Bakteri berbentuk batang (a) tidak berspora, methanobacterium, (b) berspora, methanobacillus. Bakteri berbentuk lonjong, yaitu (a) Sarcine, methanosarcina, (b) tidak termasuk grup sarcinal, methanococcus. Bakteri metanogenik berkembang lambat dan sensitive terhadap perubahan mendadak pada kondisi-kondisi fisik dan kimiawi. Sebagai contoh, penurunan 20C secara mendadak pada sludge mungkin secara signifikan berpengaruh pada pertumbuhan dan laju produksi gas.

Pada umumnya biogas terdiri atas gas metana (CH4) 50 sampai 70%, gas karbon dioksida (CO2) 30 sampai 40%, Hidrogen (H2) 5 sampai 10%, dan gas-gas lainnya dalam jumlah yang sedikit. Biogas kira-kira memiliki berat 20% lebih ringan dibandingkan dengan udara. Biogas memiliki suhu pembakaran antara 650 sampai 7500C. Biogas tidak berbau dan berwarna. Apabila dibakar, akan menghasilkan nyala api biru cerah seperti gas LPG. Nilai kalor gas metana adalah 20 MJ/m3 dengan efisiensi pembakaran 60% pada konvensional kompor gas. Gas metana (CH4) termasuk gas yang menimbulkan efek rumah kaca yang menyebabkan terjadinya fenomena pemanasan global. Hal ini karena gas metana memiliki dampak 21 kali lebih tinggi dibandingkan dengan gas karbondioksida.

kompor biogas

Biogas mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan BBM yang berasal dari fosil. Sifatnya yang ramah lingkungan dan dapat diperbaharui merupakan keunggulan dari bigas dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil selama ini diisukan menjadi penyebab dari pemanasan global. Bahan bakar fosil yang pembakarannya tidak sempurna dapat menyebabkan gas CO2 naik ke permukaan bumi dan menjadi penghalang pantulan panas bumi. Hal tersebut menyebabkan tingginya suhu di atas permukaan bumu seperti yang terjadi beberapa tahun belakangan ini. Biogas sebagai salah satu energi alternative dipastikan dapat menggantikan bahan bakar fosil yang keberadaannya semakin hari semakin terbatas.

Biogas yang dihasilkan dari instalasi secara tidak langsung telah banyak membawa manfaat terhadap lingkungan. Limbahj yang awalnya dibuang ke sungai, dengan dibangunnya instalasi biogas dapat termanfaatkan dengan baik. Limbah tersebut diproses di dalam instalasi yang tidak menimbulkan bau menyengat. Ampas atau sludge yang merupakan keluaran dari digester biogas dapat diproses kembali menjdi pupuk organik. Biogas yang telah ada minimal dapat mengurangi limbah yang dibuang ke sungai sehingga tingkat pencemaran sungai akibat limbah dapat dikurangi.

Dari alasan-alasan tersebut dapat disimpulkan bahwa biogas adalah bahan bakar alternatif terbaik, khususnya untuk masyarakat pedesaan. Dengan adanya biogas maka dapat diperoleh manfaat sebagai berikut :

1.    Membantu menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) yang bermanfaat dalam memperlambat laju pemanasan global,

2.    Menghemat pengeluaran masyarakat, dengan memanfaatkan biogas sebagai pengganti bahan bakar minyak tanah/ kayu bakar untuk memasak dan dapat digunakan sebagai pembangkit listrik,

3.    Meningkatkan pendapatan masyarakat dengan dihasilkannya pupuk organik yang berkualitas atau dapat menghemat biaya pembelian pupuk bagi yang memerlukannya,

4.    Pemakaian kayu dan minyak tanah akan berkurang,

5.    Memperingan beban keuangan negara karena subsidi BBM minyak tanah, gas elpiji dan pupuk akan berkurang,

6.    Mewujudkan lingkungan yang bersih karena dapat mengurangi pencemaran lingkungan,

7.    Membuka lapangan kerja baru.

 

CARA MENJERNIHKAN AIR YANG KOTOR

9:21 PM Add Comment

 Ada beberapa cara yang bisa di coba untuk menjernihkan air menggunakan saringan dengan bahan yang mudah ditemui di sekitar rumah, berikut cara-cara tersebut :

1.    Saringan Pasir Lambat

Saringan pasir lambat merupakan saringan air yang dibuat dengan menggunakan lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Air bersih didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati lapisan pasir terlebih dulu, yang kemudian melewati lapisan kerikil. Kerikil yang digunakan terdiri dari tiga tingkatan, yaitu pada lapisan bawah diameter kerikil antara 16-32 mm. Pada lapisan kedua diameter kerikil berkisar antara 8-16 mm dan pada lapisan ketiga diameter kerikil berkisar antara 2-8 mm. Intinya, penyusunan lapisan kerikil harus dari diameter yang paling besar ke diameter yang paling kecil.

Ada dua Jenis proses penyaringan yang terjadi pada Saringan Pasir Lambat, yakni secara fisika dan biologi. Partikel-partikel yang ada dalam sumber air yang keruh secara fisik akan tertahan oleh lapisan pasir pada SPL. Disisi lain, bakteri-bakteri dari genus Pseudomonas dan Trichoderma akan tumbuh dan berkembang biak. Pada saat proses filtrasi dengan debit air lambat (100-200 liter/jam/m2 luas permukaan saringan), patogen yang tertahan oleh saringan akan dimusnahkan oleh bakteri-bakteri tersebut.

Jika ingin membuat Saringan Pasir Lambat dalam skala besar, dapat dibuat dengan menggunakan batu bata atau batu kali yang diplester dengan ukuran lebar 1,75 meter panjang 2 meter dan tinggi 1 meter. Sebagai media penyaring adalah pasir setinggi 60 cm dan papan sebagai penyangga media pasir, sehingga ada ruang kosong antara media pasir dengan dasar bak.

Gambar Saringan Pasir Lambat

Bagian-bagian SPL:

1.       Pipa inlet diameter 1 inchi

2.       Pipa outlet diameter 1 inchi

3.       Pipa penguras diameter 3 inchi

4.       Pasir sebagai media penyaring

5.       Papan sebagai penyangga media

Secara berkala pasir dan kerikil dari SPL harus selalu dibersihkan. Hal ini untuk menjaga agar kualitas air bersih yang dihasilkan selalu terjaga dan yang terpenting adalah tidak terjadi penumpukan patogen atau kuman pada saringan. Untuk disinfeksi kuman yang terkandung dalam air dapat menggunakan berbagai cara seperti khlorinasi, brominasi, ozonisasi, penyinaran ultraviolet ataupun menggunakan aktif karbon. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya air hasil penyaringan dimasak terlebih dahulu hingga mendidih sebelum dikonsumsi.

2.    Saringan Pasir Cepat

Saringan Pasir Cepat seperti halnya Saringan Pasir Lambat, terdiri atas lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Tetapi arah penyaringan air terbalik bila dibandingkan dengan Saringan Pasir Lambat, yaitu dari bawah ke atas (up flow). Air bersih didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati lapisan kerikil terlebih dahulu baru kemudian melewati lapisan pasir.

Seperti halnya Saringan Pasir Lambat, lapisan kerikil pada Saringan Pasir Cepatpun sama, yaitu dari bawah ke atas terdiri dari kerikil dengan diameter yang besar ke kerikil dengan diameter kecil. Kelemahan saringan ini adalah kurang efektif untuk mengatasi bau dan rasa yang ada pada air yang disaring. Selain itu karena debit air yang cepat, lapisan bakteri yang berguna untuk menghilangkan patogen tidak akan terbentuk sebaik apa yang terjadi di Saringan Pasir Lambat. Sehingga akan membutuhkan proses disinfeksi kuman yang lebih intensif.

3.    Gravity-Fed Filtering System

Gravity-Fed Filtering System merupakan gabungan dari Saringan Pasir Cepat(SPC) dan Saringan Pasir Lambat(SPL). Air bersih dihasilkan melalui dua tahap. Pertama-tama air disaring menggunakan Saringan Pasir Cepat. Air hasil penyaringan tersebut kemudian disaring kembali menggunakan Saringan Pasir Lambat. Dengan adanya dua kali penyaringan diharapkan kualitas air bersih yang dihasilkan dapat lebih baik. Untuk mengantisipasi debit air hasil penyaringan yang keluar dari Saringan Pasir Cepat, dapat digunakan beberapa saringan.

Gambar Grafity Fed Filtering System

4.    Saringan Arang

Saringan Arang dapat dikatakan sebagai saringan pasir arang dengan tambahan satu buah lapisan arang. Lapisan Arang ini sangat efektif dalam menghilangkan bau dan rasa yang ada pada air baku karena sifat arang dapat menyerap bakteri dan logam berat. Arang yang digunakan dapat berupa arang kayu atau arang batok kelapa. Untuk hasil yang lebih baik dapat digunakan arang aktif. 

5.    Saringan Air Sederhana atau Tradisional

gambar : saringan sederhana

Saringan Air Sederhana atau Tradisional merupakan modifikasi dari saringan pasir arang dan saringan pasir lambat. Pada saringan tradisional ini selain menggunakan pasir, kerikil, batu dan arang juga ditambah satu buah lapisan ijuk yang berasal dari sabut kelapa. Saringan air sederhana dapat disusun seperti pada gambar

lapisan paling bawah adalah batu koral, lapisan selanjutnya adalah ijuk, lalu arang pada lapisan ketiga. Di atas arang dapat diletakkan kerikil sebagai lapisan keempat dan pasir sebagai lapisan kelima kemudian letakkan kembali kerikil sebagai lapisan paling atas. Ijuk bersifat menyaring kotoran pada air yang berukuran besar, sedangkan arang bersifat menyerap kotoran air yang ukurannya kecil.

Untuk tempat saringan anda dapat menggunakan tong, drum, ember, ataupun sambungan kaleng/sambungan botol Plastik. Sedangkan ukuran lapisan saringan anda dapat sesuaikan dengan masalah yang anda hadapi. Saringan dapat dibuat dengan menggunakan 25 cm untuk ijuk dan arang aktif/ arang batok kelapanya. Sebab salah satu kegunaan arang adalah untuk mengurangi/menghilangkan bau. Bila masalah yang dihadapi cukup berat, dapat dicoba dengan menambahkan satu buah lapisan batu zeolit.

Hal yang perlu diketahui bahwa setelah saringan dibuat, air yang dihasilkan awalnya tidak terlalu jernih, tetapi lama kelamaan air yang keluar akan menjadi jernih. Selain itu, aturlah debit air yang masuk tangki saringan (keluaran dan tangki pengendapan) agar tidak lebih besar dari debit air yang keluar dari saringan (air bersih).

6.    Saringan Keramik

Saringan keramik dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama sehingga dapat dipersiapkan dan digunakan untuk keadaan darurat. Air bersih didapatkan dengan jalan penyaringan melalui elemen filter keramik, Beberapa filter kramik menggunakan campuran perak yang berfungsi sebagai disinfektan dan membunuh bakteri. Sebenarnya, saringan keramik sangat mudah dibuat. Tinggal meletakkan wadah keramik di atas wadah plastik yang ada kerannya, niscaya air di rumah Anda sudah cukup bersih untuk digunakan, bening dan tidak keruh lagi. Cara seperti ini banyak digunakan di India dan Pakistan, juga Banglades. Tetapi, sebaiknya dimasak terlebih dahulu meskipun sudah disaring menggunakan alat tersebut.

Cara kerja alat ini yaitu letakkan wadah keramik di atas wadah plastik berkeran. Kemudian masukkan air keruh secukupnya ke wadah keramik. Rembesan air akan masuk ke wadah plastik dan sudah bersih, bening, dan tidak keruh lagi. Ketika proses penyaringan, kotoran yang ada dalam air baku akan tertahan dan lama kelamaan akan menumpuk dan menyumbat permukaan filter sehingga untuk mencegah penyumbatan yang terlalu sering, maka air baku yang dimasukkan jangan terlalu keruh atau kotor. Untuk perawatan saringan keramik ini dapat dilakukan dengan cara menyikat filter keramik tersebut pada air yang mengalir.

7.    Saringan Cadas atau Jempeng (Lumpang Batu)

Saringan cadas atau jempeng ini mirip dengan saringan keramik. Air disaring dengan menggunakan pori-pori dari batu cadas. Saringan ini umum digunakan oleh masyarakat desa Kerobokan, Bali, dan digunakan untuk menyaring air yang berasal dari sumur gali ataupun dari saluran irigasi sawah. Seperti halnya saringan keramik, kecepatan air hasil saringan dari jempeng relatif rendah bila dibandingkan dengan SPL terlebih lagi SPC.

Macam/jenis jempeng Bali :

a.Jempeng bentuk U, jempeng ini keseluruhannya terbuat dari batu cadas. Bagian bawahnya berbentuk penyungkup setengah bola, badan saringan berbentuk silinder, sedang bagian atasnya terbuka, sehingga penampang vertikalnya berbentuk huruf U

b.Jempeng berbentuk huruf W, tidak seluruhnya terbuat dari batu cadas. Sisi bawah dan ketiga Sisi samping, terbuat dari beton kedap air. Hanya satu buah sisinya, yaitu sisi tengah terbuat dari lempengan batu cadas yang bagian atasnya terbuka.

c.Jempeng yang bagian bawahnya berbentuk setengah segi enam, keseluruhanya terbuat dari batu cadas. Badan jempengan berbentuk silinder dan bagian atasnya juga terbuka

Cara penggunaannya adalah diletakkan dalam aliran air supaya air meresap. Daya kerja saringan jempeng dalam penggunaannya untuk menyaring air minum dipengaruhi oleh beberapa faktor:

-          Besar kecilnya diameter pori bahan saringan

-          Derajat kekeruhan air

-          Suhu air

-          Derajat keasaman (ph) air

-          Tekanan air pada dinding saringan, dan

-          Tebal tipisnya dinding saringan

Air yang dihasilkan untuk jempeng dengan ketebalan 13 cm adalah 3,8 liter/jam

Keuntungan dari model ini adalah:

-     Daya saring jempeng tidak berpengaruh terhadap kesadahan air kolam stelah disaring. Bahan baku jempeng (batu cadas) tidak mengandung unsur-unsur kimia yang dpaat mempengaruhi kesadahan air kolam sebelum dan sesudah disaring.

-    Saringan tersebut telah lama digunakan oleh masyarakat desa Kerobokan, sehingga boleh dikatakan pemakaiannya telah membudidaya di kalangan masyarakat desa tersebut.

-       Semakin tebal dinding jempeng, semakin kecil bakteri golongan coli setelah penyaringan.

Kerugian dari model ini adalah:

-    Rata-rata debit air minum yang dihasilkan oleh jempeng dengan ketebalan dinding 13 cm, belum cukup untuk memenuhi kebutuhan air minum suatu keluarga yang beranggotakan 5 orang lebih.

-      Belum dapat diketahui setelah berapa lama jempeng tersebut perlu dibersihkan dari lumut, ganggang/algae yang tumbuh pada permukaan jempeng.







 

PEMANFAATAN E-COMMERCE PADA BISNIS SAYURBOX

10:48 PM Add Comment

 

ABSTRACT

 

Entrepreneurship is part of the realization of productive, creative and innovative behaviors that a person has. With entrepreneurship, a person or a group of people including farmers can carry out a creative and productive process of creating new conditions where the results are different from the old ones so that the potential to increase added value. Weak conditions of farmers in terms of capital, skills, knowledge and land tenure make efforts to improve the welfare of farmers increasingly difficult, plus the level of productivity, work creativity, bargaining position and entrepreneurial abilities owned by farmers in managing creative businesses are also relatively low. For this reason, farmers need to get support by utilizing business partners in the use of e-commerce. This effort has been carried out by Sayurbox since 2016 and turned out to make a major contribution to improving farmers' income and welfare by connecting farmers with household or business buyers through a local farmers partnership system. Through this paper, we will study more deeply about the use of e-commerce by Sayurbox along with the problems and obstacles in its development

. 

Katakunci : Entrepreneurship, e-commerce, Sayurbox

  

 

1.    Pendahuluan

Untuk bisa sampai ke tangan konsumen, produk pertanian melewati rantai distribusi yang panjang. Banyaknya mata rantai distribusi yang harus dilalui dari produsen ke konsumen telah menjadi masalah dalam perniagaan produk pertanian. Tingginya harga sayur dan buah di tingkat konsumen kadang tidak bisa dirasakan petani sebagai produsen. Sebab, tengkulak atau pengepul biasanya mendapat jatah margin yang lebih besar. Bahkan pengepul dengan modal yang besar bisa memainkan harga di pasar dengan melakukan proses tunda jual. Kondisi demikian diperparah ketika musim panen raya harga di tingkat produsen atau petani menjadi rendah, pendapatan dari usahatani yang kecil menjadikan biaya produksi memiliki prosentase yang lebih besar daripada kondisi normal ketika tidak panen raya. Fluktuatifnya harga sayur dan buah menjadikan tingkat resiko investasi pada kegiatan onfarm semakin tinggi, inilah yang dapat memicu penurunan kesejahteraan petani sebagai produsen sayur dan buah-buahan.

Melihat dari fenomena tersebut maka pemotongan rantai distribusi bisa menjadi sebuah solusi, dengan cara menghubungkan petani dengan pembeli rumah tangga atau bisnis. Hilangnya rantai distribusi akan meningkatkan pendapatan produsen dan dapat juga menurunkan harga di tingkat konsumen. Kemampuan untuk dapat menjembatani proses ini memerlukan keahlian yang disebut dengan kewirausahaan.

Menurut Thomas W. Zimmerer (2008) entrepreneurship (kewirausahaan) adalah penerapan kreativitas dan keinovasian untuk memecahkan permasalahan dan upaya memanfaatkan peluang-peluang yang dihadapi orang setiap hari. Selanjutnya menurut Suryana, (2006) fungsi dan peran entrepreneur dapat dilihat melalui dua pendekatan yaitu secara mikro dan makro. Secara mikro entrepreneur memiliki dua peran, yaitu penemu (innovator) dan perencana (planner). Sebagai penemu entrepreneur menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru, seperti produk, teknologi, cara, ide, organisasi dan sebagainya. Sebagai perencana entrepreneur berperan merancang tindakan dan usaha baru, merencanakan strategi usaha yang baru, merencanakan ide-ide dan peluang dalam meraih sukses, menciptakan organisasi perusahaan yang baru dan lain-lain. Secara makro peran entrepreneur adalah menciptakan kemakmuran, pemerataan kekayaan dan kesempatan kerja yang berfungsi  sebagai mesin pertumbuhan perekonomian suatu Negara.

Kemajuan di bidang teknologi, komputer, dan telekomunikasi mendukung perkembangan teknologi internet. Dengan internet pelaku bisnis tidak lagi mengalami kesulitan dalam memperoleh informasi apapun, untuk menunjang aktivitas bisnisnya. Penggunaan internet dalam bisnis berubah dari fungsi sebagai alat untuk pertukaran informasi secara elektronik menjadi alat untuk aplikasi strategi bisnis, seperti: pemasaran, penjualan, dan pelayanan pelanggan. Pemasaran di internet cenderung menembus berbagai rintangan, batas bangsa, dan tanpa aturan-aturan yang baku. Sedangkan pemasaran konvensional, barang mengalir dalam partai-partai besar, melalui pelabuhan laut, pakai kontainer, distributor, lembaga penjamin, importir, dan lembaga bank. Pemasaran konvensional lebih banyak  yang terlibat dibandingkan pemasaran lewat internet. Menurut Irmawati (2011) pemasaran di internet sama dengan direct marketing, dimana konsumen berhubungan langsung dengan penjual, walaupun penjualnya berada di luar negeri.

Salah satu jenis implementasi teknologi dalam hal meningkatkan persaingan bisnis dan penjualan produk-produk melalui pemanfaatan internet dikenal dengan nama electronic commerce (e-commerce) untuk memasarkan berbagai macam produk atau jasa, baik dalam bentuk fisik maupun digital. Penerapan teknologi e-commerce merupakan salah satu faktor yang penting untuk menunjang keberhasilan penjualan suatu produk secara cepat. Dengan adanya era teknologi yang canggih saat ini para pelanggan yang ingin mengakses e commerce tidak harus berada di suatu tempat, karena hampir di setiap lokasi bahkan sampai ke pelosok-pelosok desa sudah terjangkau dengan jaringan internet. Akses juga dapat dilakukan dengan meggunakan smartphone tanpa harus menggunakan laptop/notebook.

Peluang inilah yang dimanfaatkan Sayurbox yang didirikan pada tahun 2016 untuk memangkas rantai distribusi melalui pemanfaatan e commerce dalam bentuk aplikasi smartphone dan website. Kewirausahaan dari pendiri Sayurbox ternyata mampu memberikan peningkatan pendapatan produsen sayur dan buah-buahan. Dari penjelasan tersebut penulis ingin mengkaji lebih dalam tentang pemanfaatan e-commerce oleh Sayurbox beserta permasalahan serta kendala dalam pengembangannya.

 

2.    Landasan Teoritis

2.1.        Kewirausahaan

Kewirausahaan merupakan bagian dari realisasi perilaku produktif, kreatif dan inovatif yang dimiliki  seseorang termasuk petani. Dengan kewirausahaan, seseorang atau sekelompok orang termasuk petani dapat melakukan proses penciptaan keadaan yang baru secara kreatif dan produktif  dimana hasil berbeda dengan yang lama sehingga potensial meningkatkan nilai tambah. Ropke (2004) dalam Dumasari (2014) mengemukakan tiga fungsi kewirausahaan yakni: pertama fungsi rutin untuk pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki dengan penerapan prinsip manajemen, kedua fungsi arbitrase untuk pemanfaatan peluang dengan berani mengambil risiko dan ketiga fungsi inovatif untuk pengadaan beragam inovasi bagi pengembangan usaha yang dikelola. Dengan demikian, makna kewirausahaan merupakan refleksi nyata dari sikap, kognitif dan psikomotorik seseorang dalam memanfaatkan berbagai peluang sekaligus kesempatan untuk memperoleh sesuatu yang berguna secara ekonomis bagi diri beserta lingkungannya.

Menurut Arisena (2016) Dalam menghadapi berbagai tantangan untuk mencapai keberhasilan usahatani perlu dukungan inovasi yang tepat. Salah satu strategi dalam upaya pencapaian produktivitas usahatani adalah penerapan inovasi teknologi yang sesuai dengan sumberdaya pertanian di suatu tempat (spesifik lokasi). Perlu pula dipahami lingkup inovasi tidak terbatas dalam produk atau proses saja, tetapi meliputi berbagai aspek manajemen seperti inovasi dalam struktur organisasi,  manajemen pemasaran, manajemen sumber daya manusia, dan managemen keuangan. Individu-individu yang mempunyai potensi untuk menghasilkan inovasi adalah individu yang menguasai teknik-teknik pengembangan kreativitas. Merencanakan inovasi memerlukan suatu proses, proses inovasi biasanya dimulai dengan pengidentifikasian masalah, perumusan gagasan, konseptualisasi, pengembangan, pengujian, diakhiri dengan peluncuran produk. 

Mengacu pada pemikiran Schumpeter (1961)  maka seseorang yang dapat disebut sebagai wirausaha mempunyai beberapa ciri yakni: pertama, mampu mengidentifikasi  pencapaian sasaran dan tujuan serta mempunyai kepekaan bisnis. Ciri yang kedua dimiliki seorang wirausaha adalah mampu menanggung risiko keuangan dan waktu atas segala keputusan serta tindakan perilaku untuk kepentingan pengelolaan usaha bisnis. Ciri ketiga mampu melakukan tahapan kegiatan perencanaan, pengorganisasian dan pelaksanaan. Adapun ciri keempat yakni mampu bekerja keras untuk mencapai keberhasilan usaha dan ciri kelima mampu menjaga  hubungan  baik dengan pelanggan, pedagang, sumber dana dan pihak lainnya. Seorang wirausaha juga perlu memiliki kemampuan melaksanakan evaluasi kelayakan usaha bisnis mikro yang dikelola termasuk analisis untung rugi.

Kasmir (2006) menyatakan bahwa kewirausahaan merupakan suatu kemampuan dalam hal menciptakan kegiatan usaha yang merupakan hasil dari adanya kreativitas dan inovasi yang terus menerus untuk menemukan sesuatu yang berbeda dari yang sudah ada sebelumnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perilaku kreatif dan inovatif merupakan karakteristik utama dari perilaku kewirausahaan. Kreativitas adalah kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan cara baru dalam menghadapi masalah dan peluang, sedangkan inovasi adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu yang berbeda, atau menerapkan solusi kreatif dalam menghadapi permasalahan dan peluang untuk tujuan menciptakan kekayaan bagi individu dan nilai tambah bagi masyarakat

Kao, et.al, (2001).  Kreativitas dan inovasi merupakan hal yang penting dalam mencapai kesuksesan suatu usaha, karena dengan kreativitas dan inovasi suatu usaha dapat mencapai keunggulan kompetitif. Selain itu, inovasi merupakan unsur yang penting untuk meningkatkan kemampuan bertahan, menghadapi persaingan bisnis dan pertumbuhan perusahaan.

2.2.        E-Commerce

Siregar (2010) dalam Imarwati (2011) Electronic Commerce (e-commerce) adalah proses pembelian, penjualan atau pertukaran produk, jasa dan informasi melalui jaringan komputer. Ecommerce merupakan bagian dari e-business, di mana cakupan e-business lebih luas, tidak hanya sekedar perniagaan tetapi mencakup juga pengkolaborasian mitra bisnis, pelayanan nasabah, lowongan pekerjaan dll. Selain teknologi jaringan www, e-commerce juga memerlukan teknologi basis data atau pangkalan data (database), e-surat atau surat elektronik (e-mail), dan bentuk teknologi non komputer yang lain seperti halnya sistem pengiriman barang, dan alat pembayaran untuk e-commerce ini.

Menurut Hidayat (2008) dalam Maulana, dkk (2015)  ada beberapa kelebihan yang dimiliki e-commerce dan tidak dimiliki oleh transaksi bisnis yang dilakukan secara offline, beberapa hal tersebut adalah sebagai berikut ini : 1. Produk: Banyak jenis produk yang bisa dipasarkan dan dijual melalui internet seperti pakain, mobil, sepeda dll. 2. Tempat menjual produk: tempat menjual adalah internet yang berarti harus memiliki domain dan hosting. 3. Cara menerima pesanan: Email, telpon, sms dan lain-lain.  4. Cara pembayaran: Credit card, Paypal, Tunai  5. Metode pengiriman: Menggunakan Pos Indonesia, EMS, atau JNE  6. Customer service: email, Contact us, Telepon, Chat jika tersedia dalam software.

Penggolongan e-commerce pada umumnya dilakukan berdasarkan sifat transaksinya. Menurut Suyanto (2003) dalam Irmawati (2011) tipe-tipe berikut segera bisa dibedakan :

a.    Business to business (B2B), adalah model e-commerce dimana pelaku bisnisnya adalah perusahaan, sehingga  proses transaksi dan interaksinya adalah antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Contoh model ecommerce ini adalah beberapa situs e-banking yang melayani transaksi antar perusahaan.

b.    Business to Consumer (B2C), adalah model e-commerce dimana pelaku bisnisnya melibatkan langsung antara penjual (penyedia jasa e-commerce) dengan individual buyers atau pembeli. Contoh model ecommerce ini adalah airasia.com.

c.     Consumer to Consumer (C2C), adalah model e-commerce dimana perorangan atau individu sebagai penjual berinteraksi dan bertransaksi langsung dengan individu lain sebagai pembeli. Konsep e-commerce jenis ini banyak digunakan dalam situs online auction atau lelang secara online. Contoh portal e-commerce yang menerapkan konsep C2C adalah e-bay.com. 

d.    Consumer to Business (C2B), adalah model e-commerce dimana pelaku bisnis perorangan atau individual melakukan transaksi atau interaksi dengan suatu atau beberapa perusahaan. Jenis e-commerce seperti ini sangat jarang dilakukan di Indonesia. Contoh portal e-commerce yang menerapkan model bisnis seperti ini adalah priceline.com. 

E-commerce yang dimaksud dalam penelitian ini termasuk dalam golongan Business to Consumer  (B2C), yang mencakup transaksi jual, beli, dan pemasaran kepada individu pembeli dengan media internet melalui penyedia layanan e-commerce. Didalam proses transaksi e-commerce, baik itu B2B maupun B2C, melibatkan lembaga perbankan sebagai institusi yang menangani transfer pembayaran transaksi.

Menurut Shaw (2012) dalam Pradana (2015) e-commerce berarti transaksi paperless di mana inovasi seperti pertukaran data elektronik, surat elektronik, papan buletin elektronik, transfer dana elektronik dan teknologi berbasis jaringan lainnya diterapkan berdasarkan jaringan Umumnya, e-commerce adalah strategi komersial baru mengarah kepada peningkatan kualitas produk dan layanan dan perbaikan di tingkat layanan penyediaan sementara link persyaratan organisasi, pemasok, dan konsumen ke arah mengurangi biaya.

Gambar : commerce shoping online. Sumber : pxhere.com

 

3.    Hasil Kajian

Sektor pertanian merupakan sektor potensial dalam perekonomian  Indonesia. Hal ini karena sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat  penting dalam  penyediaan  lapangan pekerjaan, mengurangi angka kemiskinan, penyedia kebutuhan pokok masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi lainnya. Peningkatan pendapatan rumahtangga petani merupakan salah satu tujuan pokok dalam dinamika pembangunan nasional yang berkelanjutan. Hal ini menjadi suatu yang penting diperhatikan karena mengingat tekanan ancaman kemiskinan pada masyarakat petani khususnya di pedesaan masih relatif tinggi.  Persoalan kemiskinan pada petani bukan hanya dikarenakan tekanan dominan dari faktor ekonomi sehubungan dengan keterbatasan modal produksi.  Akan tetapi, faktor lain yang justru lebih berpengaruh ialah jaminan harga produk-produk pertanian khususnya buah dan sayur yang dihasilkan dari usahatani.

Kondisi petani yang lemah dalam segi modal, skill, pengetahuan dan penguasaan lahan menjadikan upaya mensejahterakan petani semakin sulit, ditambah tingkat produktivitas, kreativitas kerja, posisi tawar dan  kemampuan kewirausahaan yang dimiliki petani dalam mengelola bisnis kreatif juga tergolong rendah.  Semangat dan kemampuan petani yang relatif lemah dalam kewirausahaan menjadi salah satu faktor sosial ekonomi yang menghambat pengembangan potensi diri dalam mengelola bisnis produktif. Pengelolaan usahatani lamban hingga sulit memperoleh pendapatan yang layak.

Dilain sisi petani dihadapkan pada banyaknya rantai distribusi yang harus dilalui untuk menjual hasil pertanian hingga sampai di tangan konsumen. Margin pendapatan yang besar malah terkadang berada di tingkat tengkulak atau pengepul. Berbicara tentang pertanian memang sangat terpengaruh dengan produksi, faktor produksi yang diperlukan, harga diatur/ditetapkan dan cara pemasarannya. Ketika empat faktor tersebut terpenuhi dengan baik maka pendapatan petani akan memiliki margin yang lebih besar. Pada prinsipnya setiap petani memiliki potensi diri untuk mengembangkan semangat dan kemampuan kewirausahaan.  Hanya saja hal ini perlu didukung pihak internal (kesadaran, kemauan dan kompetensi pribadi) bersama pihak eksternal yang dalam hal ini adalah mitra kerja bisnis dan konsumen.

Petani merupakan pelaku yang memiliki peranan sentral terutama terkait dengan posisi dan perannya dalam memproduksi produk sayuran dan buah-buahan.  Pola dagang umum antara petani sayuran dengan pedagang umumnya dilakukan melalui kesepakatan informal yang bersifat fleksibel. Ada empat sistem pembelian, yaitu tebasan, ijon, tunai, dan tempo. Harga ditentukan berdasarkan kesepakatan atau tawar menawar, di mana posisi pedagang dan pengepul lebih dominan  dibandingkan petani. Cara pembayaran  ke petani dan antar pedagang umumnya dilakukan setelah penyerahan barang. Pada kebanyakan kasus pelemahan kemampuan tawar petani adalah sebagian besar petani telah terikat dengan pedagang atau pengepul melalui bentuk ikatan hutang-piutang untuk membeli sarana produksi. Petani berhutang pada pedagang dalam bentuk uang tunai, dan akan dibayar dari hasil panen. Pembayaran oleh pedagang kepada petani dilakukan setelah pedagang yang bersangkutan menerima pembayaran dari pedagang di atasnya.

Proses pola dagang yang dilakukan melalui kesepakatan informal tersebut menjadikan dorongan berwirausaha petani semakin rendah. Maka perlu pihak eksternal yang benar-benar memiliki komitmen untuk meningkatkan nilai tawar petani terhadap hasil produk usahataninya. Pada dasarnya kewirausahaan merupakan bagian dari realisasi perilaku produktif, kreatif dan inovatif yang dimiliki  seseorang termasuk petani. Dengan kewirausahaan, seseorang atau sekelompok orang termasuk petani dapat melakukan proses penciptaan keadaan yang baru secara kreatif dan produktif  dimana hasil berbeda dengan yang lama sehingga potensial meningkatkan nilai tambah.

Upaya tersebut perlu melihat kondisi nyata struktur agribisnis sayuran dan buah-buahan. Struktur agribisnis sayuran yang berkembang saat ini dapat digolongkan sebagai tipe dispersal atau tersekat-sekat. Struktur agribisnis demikian kurang memiliki daya saing, karena lima faktor utama yaitu: Pertama, tidak  ada keterkaitan fungsional yang harmonis antara setiap kegiatan   agribisnis dengan kegiatan lainnya karena masing-masing pelaku agrobisnis mengambil keputusan sendiri-sendiri dalam menjalankan usahanya, konsekuensinya adalah dinamika pasar tidak selalu dapat direspon  secara efektif karena tidak adanya koordinasi. Kedua, terbentuknya margin ganda menyebabkan ongkos produksi, pengolahan, dan pemasaran hasil yang harus dibayar konsumen menjadi lebih mahal, sehingga sistem agrobisnis berjalan tidak efisien dalam memenuhi  kebutuhan pasar, margin ganda tersebut  dapat bersumber dari rantai pemasaran yang panjang dan transmisi harga/informasi pasar yang tidak sempurna kepada petani. Ketiga, tidak adanya kesetaraan posisi tawar antara petani dengan pelaku agribisnis lainnya, sehingga petani sulit mendapatkan harga pasar yang wajar dan sebagian besar nilai tambah tidak dapat dinikmati oleh petani, konsekuensinya adalah petani sulit melakukan pemeliharaan tanaman budidayanya dalam hal pemupukan dan pembelian obat-obatan, kesulitan modal dan kesulitan memenuhi tuntutan permintaan atau preferensi konsumen yang terus berubah. Keempat, pasar lokal bagi barang-barang yang mudah rusak dan bernilai tinggi cenderung sangat terbatas dan karena itu sangat tidak  stabil, padahal produk seperti buah dan sayuran yang bisa jadi cocok untuk diproduksi oleh petani kecil harganya tidak dapat diprediksi. Harga komoditas tersebut dapat jatuh sewaktu-waktu secara drastis jika beberapa petani memasarkan hasil panen secara bersamaan.Kelima, pasar internasional yang menjanjikan harga lebih baik dari pasar lokal, sulit diakses oleh petani kecil kecuali ada saluran yang khusus dibangun.

Perkembangan teknologi informasi dengan adanya internet menjadikan semakin mudahnya seseorang untuk mencari dan mengumpulkan informasi yang dibutuhkan. Dengan internet pelaku bisnis tidak lagi mengalami kesulitan dalam memperoleh informasi apapun, untuk menunjang aktivitas bisnisnya. Penggunaan internet dalam bisnis berubah dari fungsi sebagai alat untuk pertukaran informasi secara elektronik menjadi alat untuk aplikasi strategi bisnis, seperti: pemasaran, penjualan, dan pelayanan pelanggan. Pemasaran di internet cenderung menembus berbagai rintangan, batas bangsa, dan tanpa aturan-aturan yang baku. Hampir semua orang tidak bisa lepas dari internet dalam kegiatan sehari-harinya. Akses internet yang sekarang semakin mudah didukung dengan sinyal 4 G tersedia sampai ke pelosok-pelosok desa dengan berbagai macam pilihan provider mendukung aktivitas dalam kegiatan sehari-hari baik untuk mencari informasi, hiburan, belanja bahkan bekerja melalui smartphone. Peluang inilah yang perlu untuk dimanfaatkan melalui pembangunan saluran khusus yang membantu pemasaran produk petani. Tentu saja usaha ini memerlukan orang dengan jiwa kewirausahaan yang mampu menangkap peluang-peluang di masa depan dengan inovasi.

Sebelumnya telah disampaikan bahwa tidak semua petani memiliki jiwa kewirausahaan karena kebanyakan petani lemah dalam segi modal, skill, pengetahuan dan penguasaan lahan. Untuk itu petani perlu mendapatkan dukungan dengan memanfaatkan mitrakerja bisnis dalam penjualan produk-produk melalui pemanfaatan internet, yang dikenal dengan nama electronic commerce (e-commerce). Upaya ini telah di jalankan oleh Sayurbox sejak tahun 2016 dan ternyata memberikan kontribusi yang besar bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Start Up ini ingin mendobrak paradigma panjangnya rantai distribusi dalam pemasaran produk pertanian dengan cara menghubungkan petani dengan pembeli rumah tangga atau bisnis. Pola dagang umum antara petani sayuran dengan tengkulak yang dilakukan melalui kesepakatan informal yang bersifat fleksibel menjadikan keuntungan yang didapatkan tengkulak bisa melebihi keuntungan petani sendiri. Selain itu ternyata tengkulak kerap menghambat informasi dan data bagi para petani untuk berkembang. Padahal, informasi pasar akan sangat berguna bagi kesejahteraan petani. Informasi pasar ini akan membuat petani menanam jenis sayuran sesuai dengan kebutuhan konsumen, sehingga pendapatannya lebih besar.

Pada awalnya Sayurbox mencoba penjualan melalui media sosial, berkembang jadi website, lalu pindah menjadi aplikasi. Tujuan Start up ini adalah membentuk ekosistem antara petani dan konsumen secara langsung  dengan mengajak petani untuk menjual langsung produk mereka kepada konsumen. Sehingga, pendapatan para produsen bisa meningkat yang berdampak kepada kehidupan yang lebih baik. Menurut Reily (2019) kapasitas volume transaksi harian Sayurbox bisa mencapai sekitar 10 ton per hari dengan jangkauan operasional di kota-kota besar di Pulau Jawa, yaitu Bandung, Surabaya, dan Jakarta.

Sistem pemesanan Sayurbox adalah pemesanan di depan (pre-order), sehingga meminimalkan jumlah bahan segar yang terbuang. Setelah konsumen memesan, Sayurbox akan melakukan agregasi jumlah pesanan konsumen dan menginformasikan kepada petani mitra tentang jumlah bahan segar yang harus dipanen. Bahan segar yang baru dipanen kemudian dikirimkan ke hub Sayurbox untuk segera dikemas dan diantarkan kepada konsumen sesuai dengan pesanan. Menurut situs resminya https://www.sayurbox.com, proses pembelian di Sayurbox adalah sebagai berikut : pertama konsumen memesan produk sayur dan buah di aplikasi ponsel. Kedua, petani menerima pesanan konsumen 2 hari sebelum panen sehingga tak ada produk yang terbuang (hanya memanen sejumlah pesanan konsumen). Ketiga, hasil panen diperiksa oleh tim uji mutu dan dikirim ke konsumen dalam waktu 24 jam setelah dipanen.

Sistem yang dipakai Sayurbox adalah sistem kemitraan petani lokal untuk menjual hasil panennya. Seluruh petani dan pekebun mitra Sayurbox dapat kita kenal melalui laman daring resmi Sayurbox. Lebih jauh lagi, Sayurbox dan petani serta pekebun mitra siap memfasilitasi konsumen yang ingin datang langsung ke lahan untuk melihat proses bertanam. Inovasi ini selain bermanfaat untuk menjamin petani menerima penghasilan yang lebih baik karena bisa berhubungan langsung dengan konsumen, juga sangat penting untuk meningkatkan minat masyarakat terutama anak-anak dan kaum muda, untuk terjun ke dunia pertanian dan perkebunan.

Tantangan terbesar untuk mengembangkan layanan ini adalah meyakinkan petani untuk ikut dalam ekosistem Sayurbox. Selain sistem pengepul sudah mengakar sejak lama, kendala lainnya juga karena kesulitan petani dalam menggunakan teknologi dalam transaksi jual beli. Apalagi, tidak semua petani memiliki smartphone. Oleh karena itu, Sayurbox pun mengambil jalur insentif alternatif, seperti dengan mengedukasi konsumen untuk membeli langsung produk dari petani. Kendala lainnya adalah tidak semua petani bisa menjadi mitra dari Sayurbox karena ketatnya persyaratan kualitas yang harus dipenuhi.

Menurut Mayanty (2019) di tingkat petani tantangan yang dihadapi adalah : pertama, sayur dan buah yang diminati oleh orang-orang perkotaan yang menggunakan aplikasi Sayurbox umumnya adalah sayur dan buah yang memerlukan waktu pertumbuhan yang cukup lama seperti sayur brokoli yang membutuhkan masa panen 4–5 bulan. Waktu itu cukup lama untuk memenuhi permintaan konsumen, dan permintaan setiap konsumen akan sayur dan buah juga berbeda. Apabila petani menanam jenis sayur dan buah yang diinginkan oleh beberapa konsumen, petani akan kesulitan dimana tidak semua sayur dan buah tersebut akan dipanen karena hanya beberapa konsumen yang ingin membelinya. Kedua, konsumen tidak tertarik dengan sayur dan buah yang disediakan di platform sayurbox karena kurang bervariasi, padahal setiap musim pertumbuhan setiap sayur dan buah berbeda-beda hal itu tentu mempengaruhi jenis sayur dan buah yang dijual. Ketiga, banyak kendala yang akan dihadapi petani yang menanam tumbuhan organik seperti gagal panen disebabkan adanya serangan hama yang susah untuk diberantas jika tidak menggunakan pestisida kimia.

 

4.    Kesimpulan

Tingginya harga sayur dan buah di tingkat konsumen kadang tidak bisa dirasakan petani sebagai produsen. Sebab, tengkulak atau pengepul biasanya mendapat jatah margin yang lebih besar. Pola dagang umum antara petani sayuran dengan tengkulak yang dilakukan melalui kesepakatan informal yang bersifat fleksibel menjadikan keuntungan yang didapatkan tengkulak bisa melebihi keuntungan petani sendiri. Selain itu ternyata tengkulak kerap menghambat informasi dan data bagi para petani untuk berkembang. Padahal, informasi pasar akan sangat berguna bagi kesejahteraan petani. Kondisi tersebut merupakan bentuk struktur agribisnis sayuran yang berkembang saat ini dapat digolongkan sebagai tipe dispersal atau tersekat-sekat.

Persoalan kemiskinan pada petani bukan hanya dikarenakan tekanan dominan dari faktor ekonomi sehubungan dengan keterbatasan modal produksi.  Akan tetapi, faktor lain yang justru lebih berpengaruh ialah jaminan harga produk-produk pertanian khususnya buah dan sayur yang dihasilkan dari usahatani. Oleh sebab itu perlu ada satu inovasi dengan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan penjualan produk buah dan sayur yang dihasilkan petani. Salah satu jenis implementasi teknologi dalam hal meningkatkan persaingan bisnis dan penjualan produk-produk melalui pemanfaatan internet dikenal dengan nama electronic commerce (e-commerce) untuk memasarkan berbagai macam produk atau jasa, baik dalam bentuk fisik maupun digital.

Tidak semua petani memiliki jiwa kewirausahaan karena kebanyakan petani lemah dalam segi modal, skill, pengetahuan dan penguasaan lahan. Untuk itu petani perlu mendapatkan dukungan dengan memanfaatkan mitrakerja bisnis dalam pemanfaatan e-commerce. Upaya ini telah di jalankan oleh Sayurbox sejak tahun 2016 dan ternyata memberikan kontribusi yang besar bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani dengan cara menghubungkan petani dengan pembeli rumah tangga atau bisnis melalui sistem kemitraan petani lokal. Hilangnya rantai distribusi akan meningkatkan pendapatan produsen dan dapat juga menurunkan harga di tingkat konsumen.

Kendala yang dihadapi adalah meyakinkan petani untuk ikut dalam ekosistem Sayurbox dan pada tingkat petani yaitu : pertama, apabila petani menanam jenis sayur dan buah yang diinginkan oleh beberapa konsumen, petani akan kesulitan dimana tidak semua sayur dan buah tersebut akan dipanen karena hanya beberapa konsumen yang ingin membelinya. Kedua, konsumen tidak tertarik dengan sayur dan buah yang disediakan di platform sayurbox karena kurang bervariasi. Ketiga banyak kendala yang akan dihadapi petani yang menanam tumbuhan organik seperti gagal panen disebabkan adanya serangan hama yang susah untuk diberantas jika tidak menggunakan pestisida kimia.

 

 

 

Daftar Pustaka

 

 

Arisena, Gede Mekse Korri. 2016. Konsep Kewirausahaan Pada Petani Melalui Pendekatan Structural Equation Model (SEM). E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata. Vol 5 No.1

Dumasari. 2014. Kewirausahaan Petani Dalam Pengelolaan Bisnis Mikro Di Pedesaan. Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan. Vol 3 No 3 Hal 196-202

Irmawati, Dewi. 2011. Pemanfaatan E-Commerce Dalam Dunia Bisnis. Jurnal Ilmiah Orasi Bisnis Edisi Ke VI. Hal 95-112.

Kao, Raymond, et al. 2002. Entrepreneurism. Imperial College Press. London.

Kasmir. 2006. Kewirausahaan. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Laudon, Kenneth C. & Laudon, Jane P. 1998. Management Information Systems - New Approaches to Organization & Technology. 5th edition, New Jersey: Prentice Hall.

Maulana, Shabur Miftah, dkk. 2015. Implementasi E-Commerce Sebagai Media Penjualan Online : Studi Kasus Pada Toko Pastbrik Kota Malang. Jurnal Administrasi Bisnis. Vol 29 No 1 Hal 1-9.

Mayanty, Ruth. 2019. Sayurbox Hadirkan Layanan Pembelian Sayuran dan Buah Organik Langsung dari Petani. Tersedia di : https://medium.com/@ruthmayanty19/sayurbox-hadirkan-layanan-pembelian-sayuran-dan-buah-organik-langsung-dari-petani-ea41c95e8682 . Diakses tanggal 9-12-2019.

Pradana, Mahir. 2015. Klasifikasi Bisnis E-Commerce Di Indonesia. Modus Vol 27 (2). Hal 163-174.

Reily, Michael. 2019. Sayurbox, E-Commerce Produk Segar yang Bantu Petani. Tersedia di : https://katadata.co.id/berita/2019/03/13/sayurbox-startup-pertanian-yang-bantu-tingkatkan-pendapatan-petani. Diakses tanggal 9-12-2019.

Schumpeter, Joseph Alois. 1961.  The  Theory of Economic Development: an Inquiry into Profits, Capital, Credit, Interest and the Business Cycle.  Oxford University Press.  New York.

Suryana. 2008.  Kewirausahaan Pedoman Praktis: Kiat Dan Proses Menuju Sukses, Edisi Tiga. Jakarta: Salemba Empat

Zimmerer, Thomas W dan Norman M. Scarborough. 2008. Kewirausahaan Dan  Manajemen Usaha Kecil Edisi 5 Buku 1. Jakarta: Salemba Empat