BUDIDAYA SAPI PERAH

3:00 AM


sapi Friesian Holstein (FH)


Sapi merupakan hewan ternak yang banyak dipelihara, khususnya di daerah-daerah pedesaan yang masih banyak memiliki sumber pakan dan tanah yang lapang untuk pembangunan kandang dan pengolahan kotoran. Sebagian besar petani pasti memiliki hewan ternak, utamanya sapi. Banyak sekali manfaat yang didapatkan dari usaha ternak sapi ini antara lain : penyedia pupuk bagi lahan pertanian, diambil susunya untuk dikonsumsi atau di jual, penghasil daging. Sapi perah di pelihara khusus untuk di ambil susunya, bahkan ada sebagian besar peternak yang memelihara sapi perah untuk menyediakan susu bagi “pedhet” (anak sapi) yang dibeli, sehingga bisa di jual kembali dengan harga yang lebih tinggi jika sudah tidak menyusu lagi.

Usaha ternak di desa sebagian besar masih berskala kecil atau hanya merupakan sampingan dan belum berorientasi agribisnis. Padahal apabila dikelola dengan baik dan sungguh-sungguh dapat menunjang perekonomian keluarga. Salah satu uapaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas adalah dengan manajemen Budidaya yang baik, antara lain dengan pembibitan, pemberian pakan, perkandangan dan pengendalian penyakit.

Peluang untuk mengembangkan usaha terutama sapi perah sangat terbuka lebar apalagi melihat dari kebutuhan susu sebagai sumber protein hewani semakin meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi, pertambahan penduduk dan meningkatnya daya beli masyarakat. Melalui budidaya sapi perah yang baik (good farming practice) dan memiliki wawasan garibisnis untuk menghasilkan sapi perah yang berkualitas, maka peternak bisa meningkatkan skala usahanya.

PEMBIBITAN
Jenis sapi perah yang paling banyak dikembangkan di Indonesia adalah jenis Friesian Holstein (FH) dari Belanda dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a.      Warna bulu hitam dengan belang putih
b.      Berat badan betina dewasa 625 Kg dan jantan 900 Kg
c.       Pembawaan betina tenang dan jinak, sedangkan yang jantan agak liar
d.      Dewasa kelamin sapi FH agak lambat, umur pertama dikawinkan 15-18 bulan
e.      Produksi susu relative lebih tinggi dibandingkan dengan jenis sapi perah lainnya

Bibit sapi perah betina yang baik memiliki ciri-ciri :
1)      Berumur 3,5 tahun sampai 4,5 tahun dan sudah beranak
2)     Sehat, tidak cacat, bulu bersih dan mengkilap
3)     Ujung hidung bersih, basah dan dingin, mata cerah
4)     Bukan dari kelahiran kembar jantan dan betina (freemartin)
5)     Berasal dari induk yang mempunyai produksi air susu tinggi
6)     Ambing cukup besar, puting susu tidak lebih dari 4, simetris dan tidak terlalu pendek, pertautan kuat tidak menggantung, bentung puting normal

Bibit sapi perah jantan yang baik memiliki ciri-ciri :
1)      Berumur 4 tahun sampai 5 tahun
2)     Memiliki kesuburan dan daya menurunkan sift produksi yang tinggi
3)     Besar badan sesuai dengan umur, kuat dan memiliki sifat-sifat pejantan yang baik
4)     Sehat dan bebas dari penyakit yang menular
5)     Selain menggunakan sapi perah pejantan, untuk efisiensi pemeliharaan pejantan juga bisa menggunakan inseminasi buatan dengan menghubungi petugas insimenator di lokasi sekitar

PERKANDANGAN
Kandang sapi harus mendapatkan perhatian karena merupakan lingkungan hidup sapi yang menggantikan lingkungan alamiahnya, sehingga syarat-syarat kandang yang baik perlu dipenuhi agar sapi bisa memproduksi susu secara maksimal, sehat dan tidak stress. Syarat kandang sapi yang baik antara lain :
a.      Ventilasi kandang harus baik dan sinar matahari dapat masuk
b.      Lantai tanah bisa terbuat dari tanah padat atau semen dan mudah untuk membersihkannya
c.       Kandang kuat sehingga bisa dipakai dalam waktu yang lama dan aman
d.      Ukuran kandang disesuaikan dengan jumlah ternak
e.      Memiliki kemiringan lantai 2-3%, tidak licin, tidak kasar dan mudah kering
f.        Drainase di saluran pembuangan limbah baik dan mudah dibersihkan.

Model kandang bisa saling menghadap (head to head) atau saling membelakangi (tail to tail) dengan dua baris. Kandang minimal berukuran 1,5meter x 2 meter / ekor. Kerangka kandang dapat dibuat dari bahan bambu petung, kayu, beton ataupun baja.
ventilasi kandang yang baik
mode kandang head to head

PEMBERIAN PAKAN
Pakan yang bisa diberikan kepada sapi perah ada bermacam macam jenisnya. Tetapi perlu diperhatikan dalam prosentase pemberian pakannya agar efisien dan memberikan dampak baik bagi ternak. Macam-macam pakan ternak dibagi menjadi tiga yaitu :
a.      Hijauan, hijauan terdriri dari dua jenis yaitu
1)      Rumput-rumputan : rumput gajah, rumput raja, rumput setaria, rumput lapangan dan lain-lain
2)     Kacang-kacangan : kaliandra, gamal, turi, lamtoro, dll.
b.      Konsentrat. Konsentrat dapat dibuat sendiri atau membeli dari pabrik biasanya ada yang bermerek wheat brand. Atau bisa juga meembuat sendiri dengan mencampur bahan-bahan seperti dedak, bungkil kedelai, ampas tahu, tepung gaplek, bungkil kelapa sawit, bungkil kacang, dll.
c.       Limbah pertanian. Limbah pertanian adalah sisa hasil pertanian yang tidak dimanfaatkan seperti jerami. Limbah pertanian ini bisa diolah menjadi pakan dengan nilai gizi yang lebih baik melalui fermentasi
Pakan yang diberikan pada sapi secara umum berupa bahan hijauan 60% dan konsentrat 40%. Jika mengacu pada berat badan maka pakan hijauan yang diberikan kurang lebih 10% dari berat badan dan konsentrat yang diberikan adalah 1-2% dari berat badan. Sebagai contoh sapi dengan berat 300 Kg membutuhkan hijauan 30 Kg/hari konsentrat 3-5 Kg/hari. Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan makanan tambahan sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransum. Hijauan yang berupa rumput segar bisa ditambah dengan kacang-kacangan. Contoh formula penguat pakan sapi yang sedang menyusui (laktasi) adalah : bekatul 26%, pollard 24%, bungkil kelapa 19,5%, bungkil sawit 17%, promix 8%, tetes 5 % dan mineral 0,5%. Semua bahan tersebut dicampur hingga homogen.
Sedangkan persyaratan mutu konsentrat berdasarkan bahan kering dalam SNI adalah :
Jenis pakan
Kadar Air Max (%)
Kadar Abu Max (%)
Protein Kasar Min (%)
Lemak Kasar Max (%)
Dara
14
10
15
7
Laktasi
14
10
16
7
Kering Bunting
14
10
14
7
Untuk kebutuhan mineral dan vitamin dapat dipenuhi dengan pemberian premix atau UMB (Urea Molase Block). Ternak mngkonsumsi UMB dengan cara menjilatinya. Air minim harus selalu tersedia sepanjang waktu (ad libitum) karena kekurangan air dapat menurunkan konsumsi pakan. Rata-rata kebutuhan air minum adalah 20-40 liter /ekor / hari.

PENGATURAN REPRODUKSI
Sapi perah mulai memasuki masa birahi pada
-         Umur kawin pertama : 18 bulan
-         Lama birahi : 36 jam
-         Siklus birahi : 18-24 hari ( kurang lebih 21 hari)

Tanda-tanda sapi sudah mulai birahi :
-         Sering mengibaskan ekornya
-         Sering kecing, gelisah, nafsu makan berkurang
-         Menaiki sapi yang lain, diam saja apabila dinaiki sapi yang lain
-         Bibir kelamin bengkak, merah, lendir bening

Cara pengawinan :
-         Dikawinkan 15-20 jam dari timbulnya birahi
-         Perkawinan diatur sehingga dalam 1 tahun dapat beranak 1 kali
-         Jika dikawinkan 3 kali tetapi tidak bunting harus segera dikonsultasikan dengan petugas peternaakan setempat

Kebuntingan dan kelahiran :
-         Lama bunting 280-285 hari (9 bulan)
-         Lendir pada hidung dan mulut anak dibersihkan agar pernafasannya tidak terganggu
-         Anak di sapih pada umur 4 bulan.

PEMERAHAN
Pemerahan adalah tindakan mengeluarkan susu dari ambing. Pemerahan bertujuan untuk mendapatkan produksi susu yang maksimal. Apabila pemerahan tidak tuntas (sempurna), susu sapi cenderung untuk menjadi kering terlalu cepat dan produksi total menjadi menurun serta beresiko terhadap timbulnya penyakit mastitis (radang ambing)

PENGENDALIAN DAN PENCEGAHAN PENYAKIT
Secara umum pengendalian dan pecegahan penyakit sapi perah dilakukan dengan cara :
a.      Menjaga kebersihan kandang dan lingkungan
b.      Menjaga kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan
c.       Vaksinasi pada penyakit tertentu yang dapat membahayakan ternak dan peternak
Penyakit-penyakit pada sapi ternak antara lain :
a.      Penyakit Antrax
Penyebab penyakit ini adalah bakteri Bacillus Antracis. Gejala yang ditimbulkan jika terserang penyakit ini antara lain :
1)      Demam tinggi, badan lemah dan gemetar
2)     Gangguan pernafasan
3)     Pembengkakan pada kelenjar leher dan alat kelamin
4)     Limpa bengkak dan berwarna hitam
Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan cara : melakukan vaksinasi pada ternak yang masih sehat, ternak yang sakit di isolasi dan diberikan antibiotika  

b.      Penyakit Brucellosis
Penyebab penyakit ini adalah : bakteri Brucello abortus. Gejala yang ditimbulkan jika terserang penyakit ini adalah terjadinya keguguran antara 3-7 bulan, dan dapat diketahui melalui uji RBT dan pemeriksaan laboratorium pada amnion / air ketuban pada saat terjadi keguguran.
Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan cara ternak yang sehat dapat divaksinasi atau tidak memasukkan ternak baru sebelum dinyatakan bebas brucella.

c.       Penyakit Mastitis (radang ambing)
Penyebab penyakit ini adalah bakteri Streptococus cocci dan Staphylococcus cocci yang masuk melalui lubang puting.
Gejala serangan penyakit ini adalah :
1)      Peradangan pada ambing, dan jika diraba rasanya panas
2)     Susu lebih encer dan terdapat gumpalan dengan warna agak kebiruan atau putih pucat
3)     Sapi menjadi lesu dan nafsu makan menurun.
Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara : desinfeksi puting dengan alcohol dan injeksi antibiotika (kombinasi) antara penicillin, dihydrosteptomycin, dexamethasone dan antihistamin.

Secara umum pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan cara :
a.      Sanitasi kandang, kandang dan ternak harus elalu dibersihkan dan kering
b.      Ternak yang terserang penyakit dipisahkan dari ternak yang sehat (di isolasi)
c.       Memberikan pakan hijauan dalam keadaan layu (kering dari embun pagi) dan menghindari pemberian pakan rumput muda yang terlalu banyak
d.      Memberikan kolostrum yang cukup kepada anak sapi yang baru lahir (0-7 hari)
e.      Jaga kebersihan saat pemerahan, gunakan ember stainless steel, celupkan puting ke dalam desinfektan setelah pemerahan. Upayakan sapi tetap berdiri kurang lebuh 30 menit setelah pemerahan
f.        Berikan obat cacing dan vaksinasi berkala



Daftar Pustaka
Yahya Yusran A. 2012. Beternak Sapi Perah. Pemerintah Kabupaten Bone. Badan Pelaksana Penyuluhan, Pertanian dan Kehutanan.
Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Semarang. 2014.  Agribisnis Ternak Sapi Perah. Ungaran.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Silahkan memberi komentar yang membangun EmoticonEmoticon