Showing posts with label Hama. Show all posts
Showing posts with label Hama. Show all posts

Melakukan Pencegahan Serangan Hama Dengan Perangkap Warna

11:36 PM Add Comment

          Tujuan dari budidaya suatu tanaman tentu ingin mengharapkan hasil yang bagus, produksi maksimal dengan kualitas yang baik. Seringkali keinginan tersebut harus pupus karena adanya serangan hama, yang tentu saja merusak tanaman budidaya, menurunkan kuantitas dan kualitas produksi bahkan menyebabkan gagal panen. Hama pada tanaman budidaya tersebut ada bukan tanpa alasan, secara alami memang setiap makhluk hidup memerlukan makanan untuk tumbuh dan berkembang biak, makanan adalah kebutuhan utama semua makhluk hidup, tak terkecuali hama yang menyerang tanaman yang kita budidayakan. Tetapi jika dibiarkan dan kita tidak melakukan tindakan campur tangan terutama tindakan-tindakan pencegahan maka dipastikan usaha budidaya yang kita lakukan hanya berharap suatu keberuntungan akan berhasil.

          Pencegahan tanaman terhadap serangan hama dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satu cara tersebut adalah dengan pengendalian secara mekanis/fisik. Pengendalian ini menekankan pada upaya untuk membuat hama tidak nyaman dengan merekayasa lingkungan budidaya/ bisa mematikan secara langsung hama tersebut. Contoh pengendalian ini adalah pemanfaatan perangkap warna yang diberikan Lem.

          Sebagian besar hama yang menyerang tanaman budidaya khususnya buah dan sayuran adalah dari golongan serangga, serangga ini cenderung tertarik dengan warna kuning, perilaku tersebut dapat dimanfaatkan untuk menjebak hama dengan memberikan warna tersebut dengan lem perekat. Perangkap ini dapat dibuat dengan sederhana menggunakan bahan bekas botol minum air mineral dan di cat dengan warna kuning, kemudian setelah kering diberikan lem perekat dan di pasang di areal lokasi budidaya tanaman.

          Berdasarkan pengalaman yang sudah saya lakukan perangkap ini cukup efektif untuk mengurangi populasi hama yang ada di lokasi budidaya, wlaupun tentu saja tetap dibutuhkan kegiatan-kegiatan pengendalian hama menggunakan metode lainnya secara terpadu. Cara pengendalian ini juga terbilang ramah terhadap lingkungan, karena kita bisa menghindari penggunaan pestisida kimia dalam mengendalikan serangan hama.

perangkap hama dengan warna kuning berperekat
         Merurut saya ada beberapa keuntungan penggunaan cara pengendalian dengan menggunakan perangkap warna berperekat ini, yaitu :

  1. Biaya yang dikeluarkan untuk pengendalian hama sedikit, alat dan bahan yang dipergunakan dalam pengendalian ini cukup sederhana, yaitu menggunakan botol bekas air mineral dan cat warna kuning serta lem perekat. Peralatan lain yang dibutuhkan adalah kawat atau tali untuk menggantungkan perangkap.
  2. Bahan mudah didapatkan di sekitar kita, bahannya mudah didapatkan di sekitar kita bahkan gratis. Kita juga bisa menggunakan benda apapun tinggal kita cat saja warnanya menjadi kuning.
  3. Bisa dipergunakan untuk menganalisa serangga apa saja yang ada di lokasi budidaya yang berpotensi menjadi hama utama dan hama sekunder, sehingga bisa dilakukan langkah pengendalian yang tepat
  4. Dapat dipergunakan secara terus menerus. Perangkap hama dapat dipergunakan secara terus-menerus, jika dirasa lem perekatnya sudah tidak lengket bisa diolesi kembali
  5. Jika mampu di atur dengan baik bisa membuat lokasi budidaya menjadi cukup estetik dan indah karena adanya hiasan-hiasan warna kuning. Misalnya dibentuk menjadi huruf atau bingkai foto dan hiasan lainnya.
  6. Tidak membahayakan bagi petani ataupun konsumen dari produk hasil budidaya, penggunaan perangkap warna ini tidak mencemari produk hasil budidaya dan lebih aman bagi petani

 

HAMA TANAMAN KEDELAI

9:00 PM Add Comment

 

Aphis spp

Hama pada tanaman kedelai dapat digolongkan menjadi 4 yaitu :

1.    Hama perusak bibit : lalat bibit, lalat batang, lalat pucuk

2.  Hama perusak daun : penggulung daun, ulat grayak, ulat jengkal, aphid, kutu kebul, wereng daun

3.    Hama perusak polong : ulat peggerek buah, ulat penggerek polong, kepik penghisap polong

4.    Hama lepas panen/gudang : kumbang bubuk kedelai, ulat nonol

 

A.   Aphis SPP (Aphis glycine) dan kutu kebul (Bemisia tabaci)

Kutu dewasa berukuran kecil 1-1,15 mm berwarna hitam, ada yang bersayap dan tidak. Kutu ini dapat menularkan virus SMV (Soyabean Mozaik Virus). Menyerang pada awal pertumbuhan dan masa pertumbuhan bunga dan polong. Gejala : layu, pertumbuhannya terhambat. Pengendalian : (1) menanam kedelai pada waktunya dan tidak menanam pada bulan Juli-Agustus, mengolah tanah dengan baik, bersih, memenuhi syarat, tidak ditumbuhi inang seperti : terung-terungan, kapas-kapasan atau kacang-kacangan, (2) membuang bagian tanaman yang terserang hama dan membakarnya, (3) menggunakan musuh alami (predator maupun parasite), (4) menyemprotkan insektisida dilakukan pada permukaan daun bagian atas dan bawah.

B.   Lalat bibit : Melano Agromyza Phaseoli, kecil sekali (1,5mm)

Lalat bertelur pada leher akar, larva masuk ke dalam batang memakan isi batang kemudian menjadi lalat dan bertelur. Tanaman umur 5 hari rentan serangan lalat bibit. Lebih berbahaya bagi kedelai yang ditanam di ladang. Pengendalian : (1) waktu tanam pada saat tanah masih lembab dan subur (tidak pada bulan-bulan kering), (2) penyemprotan Agrothion 50 Ec, Azodrin 15 WSC, Sumithoin 50 EC, Surecide 25 EC.

Faktor penyebab munculnya lalat bibit : pada daerah endemis, pembakaran jerami diakhir setelah panen sangat merugikan lingkungan pertanaman karena dapat menghilangkan air permukaan tanaman maupun tanah, sehingga menjadi rawan serangan hama lalat bibit.

Pencegahan lalat bibit dapat dilakukan dengan membiarkan jerami tidak dibabat atau dibabat tanpa dibakar, dan menggunakannya sebagai mulsa dapat melindungi hilangnya air permukaan tanaman maupun tanah, serta mencegah serangan hama lalat bibit.

C.    Kumbang daun tembukur (Phaedonia inclusa)

Bertubuh kecil, hitam bergaris kuning. Bertelur pada permukaan daun. Gejala : larva dan kumbang pemakan daun, bunga, pucuk, polong muda, bahkan seluruh tanaman. Pengendalian : penyemprotan Agrothion 50 EC, Basudin 50 EC, Diazinon 60 EC, dan Agrothion 50 EC.

D.   Kepala polong (Riptortis lincearis)

Gelaja : polong bercak-bercak hitam dan menjadi hampa

Pengendalian : penyemprotan Surecide 25 EC, Azodrin 15 WSC

E.    Lalat kacang (Ophiomyia phaseoli)

Menyerang tanaman muda yang baru tumbuh. Pengendalian : saat benih ditanaman, tanah diberikan furadan 3G, kemudian setelah benih ditanam, tanah ditutup dengan jerami. Satu minggu setelah benih menjadi kecambah dilakukan penyemprotan dengan insektisida Azodrin 15 WSC, dengan dosisi 2 cc/liter air, volume larutan 1.000 liter/ ha. Penyemprotan diulangi pada waktu kedelai berumur 1 bulan.

F.    Kepik hijau (Nezara viridula)

Panjang 16 mm, telur di bawah permukaan daun, berkelompok. Setelah 6 hari telur menetas menjadi menjadi nimfa (kepik muda), yang berwarna hitam bintik putih. Pagi hari berada di atas daun, saat matahari bersinar turun ke polong, memakan polong dan bertelur. Umur kepik dari telur hingga dewasa antara 1 sampai 6 bulan. Serangan kepik hijau bisa berakibat lebih parah jika kedelai berdekatan dengan kacang Panjang. Gejala : polong dan biji mengempis serta kering. Biji bagian dalam atau kulit polong berbintik coklat. Pengendalian : Azodrin 15 WCS, Dursban 20 EC, Fomodol 50 EC.

G.   Ulat grayak (Prodenia litura)

Serangan : mendadak dan dalam jumlah besar, bermula dari kupu-kupu berwarna keabu-abuan, Panjang 2 cm dan sayapnya 3-5 cm, bertelur di permukaan daun. Tiap kelompok telur terdiri dari 350 butir. Gejala : kerusakan pada daun, ulat hidup bergerombol, memakan daun, dan berpencar mencari rumpun lain. Pengendalian (1) dengan cara sanitasi, (3) penanaman serempak dan tidak pada bulan juli-agustus, (3) disemprotkan pada sore/malam hari (saat ulat menyerang tanaman) beberapa insektisida yang efektif seperti Dursban 20 EC, Azodrin 15 WSC dan Basudrin 50 EC.

Musim Tanam

Hama dominan yang perlu diwaspadai

Februari-April

Lalat bibit

Mei-Juni

Kutu kebul dan Aphis

Juni-Juli

Ulat penggulung daun dan ulat grayak

Juli- Agustus

Ulat grayak, ulat jengkal, ulat penggerek polong dan ulat buah

Agustus-September

Ulat grayak, ulat jengkal, penggerek polong, penggerek buah, wereng daun, kumbang bubuk

 

Dalam penggunaan pestisida kimia perlu memperhatikan ambang kendali, jadi pestisida kimia merupakan alternatif terakhir jika jumlah hama sudah mecapai ambang kendali

Jenis Hama

Ambang kendali

Lalat kacang (Ophiomya phaseoli, Malanogromyza sojae, M dolichostigma)

Populasi 1 ekor per 12 tanaman. Intensitas kerusakan 2% pada umur 10 hst

Ulat perusak daun (Spodoptera litura, Plusia chalcites, Lamprosema indicate, Biloba subsecivella)

50 ekor instar 1 per 12 tanaman, 32 ekor instar 2 per 12 tanaman, 17 ekor instar 3 per 12 tanaman. Intensitas kerusakan 15% sebelum 20 hst, 20% setelah 20 hst

Penggerek polong (Etiella zincenella, E hobsoni)

45-50 hst intensitas serangan lebih dari atau samadengan 2%

Ulat buah (Heliothis armigera)

45-50 hst intensitas serangan lebih dari atau samadengan 2%

Penghisap polong (Nezara viridula, Piezodorus rubrifasciatus, Riptortus linearis)

45 hst ditemukan sepasang impago. Intensitas kerusakan polong 2,5%

 

HAMA TANAMAN JAGUNG DAN PENGENDALIANNYA

10:06 PM Add Comment

 

lalat bibit jagung

Hama yang banyak menyerang tanaman jagung adalah lalat bibit (Atherigona exigua Stein), penggerek batang (Ostrinia furnacalis Guen), dan penggerek tongkol (Helicoverpa armigera Hbn)

1.    Lalat bibit (Atherigona exigua Stein)

Lalat bibit terdapat di lapang selama satu sampai dua bulan pada musim hujan. Imagonya sangat aktif terbang dan tertarik pada kecambah atau tanaman yang baru muncul di atas permukaan tanah. Imago ini berukuran Panjang 2,5 mm sampai dengan 4,5 mm dan lama hidupnya bervariasi antara 5 sampai 23 hari. Imago betina mulai meletakkan telur dibawah permukaan daun secara tunggal 3 sampai 5 hari setelah kawin dengan jumlah telur antara 7 sampai 70 butir. Inang dari lalat bibit adalah rumput-rumputan seperti Cynodon dactylon, Panicum repens, dan Paspalum sp. Telur lalat bibit yang berwarna putih dan berbentuk memanjang menetaskan larva yang kemudian melubangi batang dan membuat terowongan sampai dasar batang sehingga tanaman menjadi kuning dan mati. Larva berwarna putih krem pada awalnya dan berubah menjadi kuning hingga kuning gelap sejalan dengan perubahan instar (tiga instar), kemudian membentuk pupa pada pangkal batang. Pupa berukuran Panjang 4,1 mm, berwarna coklat kemerahan dan berumur sekitar 12 hari. Menurut Harnoto (1987) dalam Koswanudin et al. (2001) serangan lalat bibit dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman kerdil. Kerusakan yang ditimbulkan dapat mencapai 90%.

Pengendalian hama ini bisa dilakukan dengan :

a.  Untuk pencegahannya bisa dilakukan dengan menerapkan pola pergiliran tanaman selain jagung dan padi.

b.    Pengaturan waktu tanam karena hama ini ada selama satu sampai dua bulan di musm hujan,

c.   Penggunaan varietas resisten. Menurut Budiarti (2007) pengendalian hama lalat bibit yang paling mudah, murah, dan aman adalah menggunakan varietas tahan. Plasma nutfah jagung yang dikoleksi diuji ketahanannya terhadap hama lalat bibit di Cikeumeuh, Bogor, pada MH 1999 dan MH 2001. Intensitas serangan hama lalat bibit berkorelasi positif dengan populasi larva. Pada varietas jagung yang populasi larvanya tinggi, intensitas serangan lalat bibit lebih tinggi, demikian sebaliknya. Varietas yang tahan terhadap serangan lalat bibit antara lain : G. Lokal, J. Pulo, J. Lokal, Pulut Lokal, Turida, Putik, Baso Lege 1, L. Lenangguar, Heret Gete, Biralle Kammo.

d.  Secara hayati dengan penggunaan parasit juga sangat membantu. Semisal penggunaan parasitoid Thricogramma spp. yang bisa memarasit telur, atau Opius sp. dan Tetrastichus sp. yang mampu memarasit larva. Sedangkan Clubiona japonicola bisa menjadi predator bagi imago lalat bibit

e.    Perlakuan benih dengan insektisida thiodikarb (7,5-15 g/Kg benih) atau cendawan Beauvaria bassiana (4g formulasi tepung/kg benih), atau  insektisida Wingran 70WS sebanyak 2-4 gram pada satu kilogram benih jagung sebelum ditanam.

f.      Penanaman serempak, dan

g.  Penyemprotan tanaman berumur 5-7 hari dengan insektisida atau cendawan Beauvaria bassiana. Penggunaan insektisida sintetik hanya dianjurkan di daerah endemic. Insektisida yang dapat digunakan seperti curacron, regent, atau prevathon. Atau dengan memberikan furadan pada kuncup daun dengan dosis 0,24 kg b.a/ha.

penggerek batang jagung

2.    Penggerek batang (Ostrinia furnacalis Guen)

Ngengat penggerek batang aktif di malam hari dan meletakkan telur dalam kelompok 30-50 butir. Dengan umur ngengat sekitar 7-11 hari, total telur yang diletakkan bisa mencapai 602 sampai 817 butir dan telur ini berumur 3 sampai 4 hari. Larva yang menetas dari telur berwarna putih kekuningan makan pada daun, bagian alur bunga jantan dan kemudian menggerek batang, umur larva berkisar antara 17 sampai 30 hari. Pupa biasanya dibentuk di dalam batang, berwarna coklat kemerah merahan dan berumur 6 sampai 9 hari. Gejala serangan larva ini bisa dilihat dengan adanya lubang kecil pada daun, lubang gerekan pada batang, bunga jantan dan pangkal tongkol, serta tassel yang mudah patah.

Kehilangan hasil jagung oleh O. furnacalis, berkisar antara 20-80%. Tanaman jagung yang terserang hama ini menjadi patah sehingga dapat menurunkan produksi bahkan kalau serangan tinggi menyebabkan kegagalan saat panen. Hama ini merusak daun, bunga jantan dan kemudian menggerek batang jagung Pabbage (2007) dalam Pangumpia, dkk (2019). Gerekan yang dilakukan O. furnacalis akan mengurangi pergerakan air dari tanah ke bagian atas daun karena rusaknya jaringan tanaman. Tanaman melakukan respon dengan menutup stomata sebagian, sehingga pengambilan CO2 melalui stomata menurun yang berakibat terhadap penurunan tingkat fotosintesis. Kehilangan hasil terbesar ketika kerusakan terjadi pada fase reproduktif.

Gulma dapat menjadi faktor perkembangan dari hama O. furnacalis karena gulma juga merupakan tanaman inang dari hama ini, sedangkan pada tanaman jagung di lahan terbuka gulma hanya terdapat pada lokasi-lokasi tertentu sehingga pada saat pegamatan serangan hama juga hanya terdapat pada lokasi yang banyak gulma. Menurut Sembel (2012), pembersihan gulma bukan hanya penting untuk pertumbuhan tanaman yang sehat tetapi juga perlu untuk menjaga agar gulma tidak menjadi tempat berlangsungnya hidup serangga untuk bertelur atau mendapatkan sumber makanan ataupun hanya untuk tempat tinggal sementara. Selain itu menurut Pangumpia, dkk (2019) salah satu faktor juga yang mempengaruhi perkembangan dan serangan dari hama O. furnacalis pada tanaman jagung varietas Pioneer 27 antara lain adalah pengunaan pupuk organik cair Bio Trent. Penggunaan dari pupuk ini membuat daun tanaman menjadi lebih hijau atau berwarna hijau tua. Pada prinsipnya perbedaan ketahanan tanaman terhadap serangga tertentu disebabkan oleh faktor biofisik seperti morfologi, anatomi, dan warna tumbuhan mempengaruhi ketahanan suatu varietas. Tumbuhan menjadi lebih disenangi atau sebaliknya oleh serangga. Kandungan klorofil lebih banyak pada tanaman yang berwarna hijau tua dibandingkan pada tanaman yang berwarna hijau cerah, hal ini yang menyebabkan hama penggerek batang lebih menyukai tanaman jagung varietas Pioneer 27, karena klorofil berfungsi untuk menukarkan cahaya matahari menjadi zat makanan (Sodiq, 2009).

Hama ini bisa dikendalikan dengan :

a.  Penanaman jagung yang tepat waktu. Mengatur waktu tanam bisa menjadi salah satu alternatif untuk menghindari serangan hama ini. Waktu tanam yang baik adalah pada awal musim hujan dan paling lambat empat minggu sesudah mulai musim hujan,

b.    Intercropping varietas jagung berbeda atau intercropping dengan kedelai atau kacang tanah, dan

c.     Pemotongan sebagian bunga jantan empat dari enam baris tanaman juga mampu mengurangi serangan. Pasalnya, dari hasil sebuah penelitian menunjukkan bahwa 40-70% larva berada pada bunga jantan. Pada saat pembungaan sebagian besar serangan hama ini berada pada pucuk dari bunga jantan yang masih menggulung pada daun bahkan pada bunga jantan mulai mekar seperti menurut Pratama, (2015) masa pembentukan malai atau bunga jantan pada tanaman jagung merupakan stadia yang paling disenangi oleh hama O. furnacalis, sehingga pemangkasan sebagian bunga jantan merupakan cara pengendalian untuk menekan serangan dari hama ini.

d.   Pemanfaatan musuh alami juga bisa dilakukan untuk mengendalikan serangan Ostrinia furnacalis. Beberapa musuh alami yang bisa digunakan adalah: parasitoid Trichogramma spp. yang mampu memarasit telur, bakteri Bacillus thuringiensis untuk mengendalikan larva, dan predator Euborellia annulata yang mampu memangsa larva dan pupa Ostrinia furnacalis. Menurut Radianto (2010) mengemukakan bahwa musuh alami dapat membantu manusia dalam menangani hama tanpa merusak lingkungan. Dengan adanya musuh alami atau predator rantai makanan dalam lingkungan tersebut akan tetap terjaga.

e.    Penggunaan insektisida berbahan aktif monokrotofos, triazofos, diklhrofos, atau karbofuran efektif untuk menekan serangan penggerek batang jagung

penggerek tongkol jagung

3.    Penggerek tongkol (Helicoverpa armigera Hbn)

Imago betina Helicoverpa armigera meletakkan telur pada rambut jagung dengan rata-rata 730 butir dan telur ini menetas tiga hari setelah diletakkan. Larva berkembang selama 13 hari sampai dengan 21 hari dan pra pupa dalam tanah selama 1 sampai 4 hari. Pupa juga hidup dalam tanah yang bervariasi antara 6 sampai 30 hari. Gejala serangan adalah adanya gerekan pada ujung tongkol dan rusaknya biji muda sehingga menurunkan kulitas dan kuantitas biji jagung.

Larva Helicoverpa armigera Hubner tidak hanya menyerang tongkol jagung tetapi juga menyerang daun muda terutama pada bagian pucuk tanaman. Larva ini menyerang dengan gejala adanya lubang-lubang melintang pada daun tanaman. Rambut tongkol jagung terpotong, ujung tongkol ada bekas gerekan dan sering kali ada larvanya. Menurut Sarwono dkk (2003), ambang kendali ulat pengerek tongkol (Helicoverpa armigera Hubner) pada jagung yaitu apabila terdapat 2 ekor larva/perbatang.

Hama ini bisa dikendalikan dengan :

a.    Pengolahan tanah yang baik untuk mematikan pupa. Pengolahan tanah secara sempurna akan merusak pupa yang terbentuk dalam tanah dan dapat mengurangi populasi H. armigera berikutnya

b.   Pemberian mulsa untuk tempat predator dan berkembangnya mikroorganisme entomopatogen tanah. Musuh alami yang digunakan sebagai pengendali hayati dan cukup efektif untuk mengendalikan penggerek tongkol adalah Trichogramma spp, yang merupakan parasitoid telur, di mana tingkat parasitasi pada hampir semua tanaman inang H. armigera sangat bervariasi dengan angka maksimum 49%. Eriborus argentiopilosa (Ichneumonidae) juga merupakan parasitoid pada larva muda. Dalam kondisi kelembaban yang cukup, larva juga dapat diinfeksi oleh M.anisopliae. Agen pengendali lain yang juga berpotensi untuk mengendalikan serangga ini adalah jamur B. bassiana dan virus Helicoverpa armigera Nuclear Polyhedrosis Virus (HaNPV) (Anonim, 2019). Ini sesuai dengan hasil penelitian Ompusunggu, dkk (2015) yang menyatakan bahwa konsentrasi HaNPV 6g/liter air merupakan konsentrasi paling efektif terhadap pengendalian larva H. armigera di lapangan. Tingkat efektivitas dari HaNPV yang diaplikasikan mampu menginfeksi larva H. armigera yang mengakibatkan gerakannya lamban dan lebih banyak di tempat, serta aktivitas memakan tongkol maupun daun juga berkurang hingga mengakibatkan larva mati

c.   Agak sulit mencegah kerusakan oleh serangga ini karena larva segera masuk ke tongkol sesudah menetas. Untuk mengendalikan larva H. armigera pada jagung, penyemprotan harus dilakukan setelah terbentuknya silk dan diteruskan (1-2 hari) hingga jambul berwarna coklat. Penggunaan insektisida yang berbahan aktifdimehipo, monokrotofos, karbofuran, dll efektif menekan serangan penggerek tongkol jagung. Aplikasi insektisida dianjurkan apabila telah ditemukan satu kelompok  telur per 30 tanaman. Insektisida cair atau semprotan hanya efektif pada fase telur dan larva instrar I-III, sebelum larva masuk ke dalam tongkol.

d.    Jika ulat sudah masuk kedalam tongkol, maka pengendalian yang bisa dilakukan adalah  kita berikan insektisida yang berbahan aktif karbofuran dan diberikan pada tunas tumbuh/pupus sebanyak kira-kira 5-7 butir. Untuk lebih mudahnya bisa dicampur dengan pasir yang telah diayak, dan diberikan saat ada gejala dan diulang 10-15 hari kemudian. Pemberian insektisida karbofuran maksimal 3 kali perlakuan

 

Daftar Pustaka

Anonim. 2019. Pengendalian Hama Penggerek Tongkol Jagung. http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/76341/Pengendalian-Hama-Penggerek-Tongkol-Jagung/ (11 Mei 2021)

Budiarti, Sri Gajatri. 2007. Plasma Nutfah Jagung sebagai Sumber Gen dalam Program Pemuliaan. Buletin Plasma Nutfah Vol.13 No.1

Koswanudin, D., S.G. Budiarti, dan S.A. Rais. 2001. Evaluasi ketahanan plasma nutfah jagung terhadap lalat bibit Atherigona exigua Stein. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Rintisan dan Bioteknologi Tanaman. Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. Puslitbangtan. 2001. Bogor, 30-31 Januari 2001. hlm. 181-188

Ompusunggu, Debi Sabrina., Oemry, Syahrial., dan Lubis, Lahmuddin. 2015. Uji Efektivitas JamurMetarhizium anisopliae (Metch.) dan Helicoverpa armigera Nuclear Polyhedrosis Virus (HaNPV) terhadap Larva Penggerek Tongkol Jagung Helicoperva armigera Hubner (Lepidoptera: Noctuidae) di Lapangan. Jurnal Online Agroekoteaknologi. Vol.3, No.2 : 779 - 784

Pabbage, M.S, A.M. Adnan, dan N. Nonci. 2007. Pengelolaan Hama Prapanen. Balai Penelitian Tanaman Serealia. Maros http://pustaka.litbang.deptan.g o.id/bppi/lengkap/bpp10202.pdf (11 Mei 2021)

Pangumpia, Inday., Pelealu, Jantje., dan Kaligis, James B. 2019. Serangan Hama Penggerek Batang Ostrinia furnacalis Guenee (Lepidoptera: Pyralidae) Pada Varietas Jagung Di Kabupaten Minahasa Selatan. https://ejournal.unsrat.ac.id/ .Vol 1, No 5

Pratama, 2015. Populasi Dan Presentase Serangan Hama Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis Guenee) Pada Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata. Di Kecamatan Tomohon Utara Kota Tomohon. https://ejournal.unsrat.ac.id/ .Vol 6, No 11

Radiyanto. 2010. Jurnal Keanekaragaman Serangga Hama dan Musuh Alami pada Lahan Pertanaman Kedelai di Kecamatan Balong -Ponorogo. Jawa Timur: Fakultas Pertanian UPN.

Sarwono, B. Pikukuh, R. Sukarno, E. Korlina dan Jumadi. 2003. Serangan Ulat Penggerek Tongkol Helicoverpa armigera Pada Beberapa Galur Jagung. Agrosains Volume 5 No 2

Sembel, D. T. 2012. Dasar -Dasar Perlindungan Tanaman. C.V Andi Offset. Yogyakarta.

Sodiq, M., 2009. Ketahanan Terhadap Hama. UPN Press Jawa Timur. http://eprints.upnjatim.ac.id/4/7/ 1/KetahananTanaman.pdf (11 Mei 2021)

 

MENGATASI HAMA WALANG SANGIT (Leptocorisa oratorius)

9:42 PM Add Comment

 

walang sangit

Walang sangit (Leptocorisa oratorius) menyerang tanaman padi terutama dengan merusak biji padi yang sedang berkembang dengan cara menghisap cairan susu dari biji padi pada waktu fase awal pembentukan biji. Alat pengisapnya ditusukkan di antara dua kulit penutup biji padi ("lemma" dan "palea") dan menghisap cairan susu dari biji yang sedang berkembang. Akibat dari serangan ini akan mengurangi ukuran dan kualitas biji padi. Biji yang terkena serangan ini akan pecah pada waktu digiling menjadi beras karena banyak biji yang tidak masak penuh.

Walang sangit juga memakan bulir sebelum bunga membuka, dan malai yang sedang bunting,tetapi akibat nyata dari serangan ini belum diketahui. Dengan pengamatan ini dapat membantu menjelaskan bagaimana walang sangit mampu bertahan untuk hidup di pertanaman sebelum fase masak susu.

Pengendalian

1.    Penanaman dengan serentak pada areal yang cukup luas dapat membantu memperkecil pengaruh populasi walang sangit pada satu tempat sebab dengan cara demikian populasi walang sangit menyebar pada seluruh areal pertanaman yang Iuas tersebut,

2.    Sanitasi terhadap tanaman gulma di tengah pertanaman padi serta di pematang, dapat mengurangi habitat bagi nimfa dan walang sangit dewasa.

3.    Tabuhan hitam yang kecil adalah parasit telur walang sangit. Tabuhan menyelesaikan perkembangannya di dalam telur walang sangit, sehingga akan membunuh telur-telur walang sangit. Laba-laba memangsa nimfa dan walang sangit dewasa , Musuh-musuh alami tersebut mudah terbunuh oleh insektisida. Oleh karena itu sangat penting untuk melindungi serta menjaga musuh alami pada permulaan musim pertanaman yaitu dengan menggunakan pestisida hanya bila ambang pengendalian terlewati dengan perlakuan yang dianjurkan. Ambang pengendalian walang sangit adalah 10 per 20 rumpun. Pengendalian dengan pestisida yang dianjurkan harus dilakukan secepatnya bila dijumpai populasi walang sangit yang sudah melampaui. Perlu dicatat bahwa untuk walang sangit pestisida butiran tidak efektif.

 

CARA PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN

7:00 AM Add Comment
Hama dan penyakit tanaman disebut juga dengan organisme pengganggu tanaman (OPT), didalamnya juga termasuk gulma yang mengganggu pertumbuhan tanaman pokok. Melihat dari keadaan di lahan pertanian, hama dan penyakit merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budidaya tanaman itu sendiri, karena merupakan satu kesatuan ekosistem di lahan pertanian. Adanya ketidak bijaksanaanya manusia dalam hidup berdampingan dengan alam yang merubah keseimbangan ekosistem tersebut. Pada saat kita menempuh pendidikan sekolah baik itu di jenjang SMP atau SMA kita sudah mulai diperkenalkan dengan pelajaran biologi, dalam pelajaran tersebut diperkenalkan dengan berbagai macam tumbuhan serta hewan yang ada di alam. Inti dari pelajaran tersebut adalah semua makhluk hidup memiliki ketergantungan, membuat suatu siklus rantai makanan. Ada yang herbivora, karnivora dan omnivora. Semua makhluk hidup memiliki peranan masing-masing dan membentuk suatu keseimbangan ekosistem.

Contoh dari ketidak seimbangan ekosistem adalah ledakan hama tikus sawah. Banyak orang yang berpendapat bahwa ledakan hama tikus sawah diakibatkan karena beberapa hal seperti : kemampuan reproduksinya yang tinggi, termasuk hewan pintar dan mulai berkurangnya musuh alami akibat perburuan yang dilakukan manusia. Pendapat yang terakhir dapat dengan mudah diterima oleh nalar kita ketika kita mengacu pada keseimbangan ekosistem, karena sudah tidak ada lagi yang memangsa tikus, maka tikus mudah untuk berkembang biak. Apalagi didukung dengan ketersediaan sumber pakan. 

Contoh lain adalah aplikasi pestisida kimia yang kurang bijaksana. Keinginan untuk meningkatkan hasil pertanian membuat petani terkadang menghalalkan segala cara, termasuk menaikkan dosis dan intensitas semprot pestisida kimia. Hal tersebut bisa dimaklumi karena adanya ketakutan kegagalan panen yang diakibatkan serangan hama/penyakit, padahal sumber utama pendapatan adalah dari usahatani tersebut, dan rata-rata pendapatan petani adalah musiman. Tetapi edukasi tetap penting dilakukan, agar kondisi demikian tidak berlanjut dan berlarut larut. Dampak dari tidak bijaksananya petani hidup berdampingan dengan alam adalah ketidaksembangan ekosistem yang bisa menyebabkan adanya ledakan hama baik itu hama primer maupun hama sekunder.

Untuk memperbaiki keadaan tersebut, maka campur tangan manusia sangat diperlukan. Ada beberapa cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang dapat dilakukan yaitu :

1. Kultur Teknis
Kultur teknis merupakan tindakan preventif yang dilakukan sebelum ada serangan hama dan penyakit, dengan sasaran adalah menekan populasi hama/penyakit tersebut. Supaya memberikan hasil yang baik maka petani perlu memperhatikan aspek biologi dan ekologi hama, tanaman yang dibudidayakan, lingkungan pertanaman dan praktik budidaya yang biasanya dilakukan oleh petani. Pengendalian secara kultur teknis dapat dilakukan dengan mengusahakan pertumbuhan tanaman sehat.
Pertumbuhan tanaman yang sehat merupakan suatu cara budidaya tanaman dengan cara pengelolaan lingkungan tanaman untuk mendukung pertumbuhan tanaman yang optimal dan membuat lingkungan tanaman menjadi kurang sesuai bagi kehidupan dan pembiakkan atau pertumbuhan serangga hama dan penyakit serta mendorong berfungsinya agensia pengendali hayati. 
Contoh dari upaya budidaya tanaman yang sehat adalah membersihkan gulma sehingga cahaya matahari, nutrisi, air dan udara bisa diambil tanaman budidaya secara maksimal, sehingga tanaman budidaya pertumbuhannya baik/sehat. Dengan tidak adanya gulma juga menekan hama untuk berkembang biak. 
Kultur teknis yang dapat dilakukan untuk mendukung perkembangan biakan agensi hayati adalah dengan menanam refugia, tanaman refugia bisa menjadikan tempat berlindung bagi predator dan parasitoid dari cekaman biotik dan abiotik/ perubahan lingkungan, sehingga marasa nyaman dan dapat berkembang biak.
menananam refugia sebagai tempat berlindung musuh alami

2. Pengendalian Fisik/ Mekanis
Pengendalian secara fisik/ mekanis merupakan cara pengendalian yang paling sederhana, kita bisa mematikan hama dengan menggunakan tangan seperti memecahkan telur penggerek batang padi. Tujuan dari pengendalian fisik/ mekanis adalah secara langsung dan tidak langsung untuk : mematikan hama, mengganggu aktifitas fisiologi hama, dan memodifikasi lingkungan (bukan bagian dari budidaya) agar tidak sesuai untuk hama. 
Contoh pengendalian hama secara fisik adalah : menggenangi sawah untuk mematikan hama yang berada di tanah misalnya uret, mengeringkan sawah untuk mematikan hama keong mas, melakukan pengasapan untuk pengendalian tikus, pembakaran tanaman yang terserang penyakit, penggunaan lampu perangkap, penggunaan perangkap warna, penggunaan gelombang suara, dan menggunakan barrier/penghalang.
Contoh pengendalian hama secara mekanis adalah : pengambilan langsung dengan tangan, gropryokan, pemasangan alat perangkap, dan pengusiran dengan orang-orangan sawah.

3. Pengendalian Hayati
Pengendalian secara hayati adalah pengendalian hama dengan memanfaatkan musuh-musuh alaminya seperti predator, parasitodi dan patogen. Musuh alami hama pada lahan pertanian dapat di lihat di Patogen Parasitoid Predator
Musuh alami merupakan pengendali alami hama yang bekerja untuk mengendalikan kepadatan populasi hama, keberadaannya tidak lepas dari hama tersebut. Adanya ledakan hama yang menyebabkan kerugian bagi petani adalah akibat dari keadaan lingkungan yang kurang memberikan kesempatan bagi musuh alami untuk menjalankan fungsi alaminya. 
Pengendalian hayati selain memiliki fungsi untuk mengendalikan kepadatan hama juga memiliki peranan sebagai berikut :
a. Membantu petani untuk menghasilkan produk pertanian yang sehat dan aman.
Residu pestisida pada produk pertanian dapat diminimalisir dengan menanfaatkan agensia hayati. Selain itu agensia hayati jelas tidak beracun bagi manusia dan hewan, sehingga tidak berbahaya bagi petani maupun hewan ternak.
b. Mengatasi ketidakmampuan pestisida kimia dalam menekan populasi hama dan penyakit
Penggunaan fungisida kimia untuk mengendalikan penyakit pada tanaman tidak selalu berhasil, bahkan yang terjadi malah dosisnya semakin meningkat untuk mengendalikan penyakit yang sama. Hal ini disebabkan karena jamur yang menjadi penyakit tersebut telah mengalami mutasi dan mampu beradaptasi dengan fungisida kimia tersebut. Selain dampak dari semakin tingginya dosis juga banyaknya mikroba yang bermanfaat di dalam tanah ikut mati karena aplikasi tersebut.

4. Pengendalian Kimiawi
Pengendalian OPT secara kimiawi merupakan upaya pengendalian pertumbuhan OPT menggunakan zat kimia. Pengendalian kimia dilakukan dengan cara penyemprotan zat kimia pada bagian tumbuhan. 
Pengendalian kimiawi ini ada beberapa macam, salah satunya adalah dengan menggunakan insektisida (pengendali serangga). Insektisida memiliki dua cara kerja yaitu sistemik dan non sistemik. Insektisida sistemik adalah insektisida yang diserap oleh bagian-bagian tanaman melalui stomata, meristem akar, lentisel batang, dan celah-celah alami. Selanjutnya insektisida akan melewati sel-sel menuju ke jaringan pengangkut baik xylem maupun floem. Insektisida tersebut akan meninggalkan residu pada sel-sel yang telah dilaluinya, melalui dua jaringan pengangkut tersebut insektisida di translokasikan ke bagian-bagian tanaman baik ke arah atas maupun ke arah bawah, termasuk bagian pucuk daun dan tunas, serangga akan mati apabila memakan bagian tanaman yang mengandung residu insektisida.
Insektisida non sistemik tidak dapat diserap oleh jaringan tanaman tetapi hanya menempel pada bagian luar tanaman. Lamanya residu isektisida yang menpel tersebut tergantung dengan bahan aktif yang dikandung, teknologi bahan dan aplikasinya. Serangga akan mati apabila memakan bagain tanaman yang permukaannya terkena insektisida.
Dalam pengendalian hama dan penyakit, pestisida memeiliki peranan yang cukup penting, oleh karena itu pestisida yang hendak diaplikasikan harus memiliki persyarakat sebagai berikut :
a. Harus kompatibel dengan komponen pengendalian lain, seperti komponen pengendalian hayati
b. Efisien untuk mengendalikan hama tertentu
c. Meninggalkan residu dalam waktu yang diperlukan
d. Tidak boleh presisten, mudah terurai
e. Relatif aman untuk lingkungan fisik dan biota
f. Relatif aman bagi pemakai
Penggunaan pestisida harus mematuhi 5 tepat : Tepat jenis, tepat cara aplikasi, tepat sasaran, tepat waktu dan tepat takaran.
Cara aplikasi pestisida dapat dilihat di sini    

5. Pengendalian Secara Terpadu (PHT)
PHT adalah suatu konsepsi atau cara berfikir mengenai pengendalian organisme pengganggu tanaman dengan pendekatan ekologi yang bersifat multidisiplin untuk mengelola populasi hama dan penyakit dengan memanfaatkan beragam taktik pengendalian yang kompatibel dalam suatu kesatuan koordinasi pengelolaan. Karena pendekatan yang digunakan adalah ekologi maka pemahaman tentang biologi  dan ekologi hama penyakit sangat penting.
Startegi pengendalian hama yang dapat dilakukan dalam PHT adalah : (1) mengusahakan pertumbuhan tanaman sehat (2) Pengendalian hayati (3) Penggunaan varietas tahan (4) Pengendalian secara mekanik (5) Pengendalian secara fisik (6) Pengendalian dengan menggunakan senyawa kimia alami yang dihasilkan oleh suatu organisme tertentu yang bisa mempengaruhi sifat serangga sasaran (7) Pengendalian secara genetik dan (8) Penggunaan pestisida kimia.
Dalam PHT petani harus selalu melakukan pengamatan secara rutin untuk dapat mengetahui perkembangan populasi hama dan musuh alaminya serta untuk mengetahui kondisi tanaman. Informasi yang diperoleh dari pengamatan tersebut menjadi dasar untuk dilakukan tindakan selanjutnya.