Hati-Hati Jika Lakukan Kesalahan Ini Ikan Di Kolam Mu Bisa Mati

4:09 PM

          Saya akan berbagi pengalaman pada postingan kali ini tentang pentingnya melakukan treatmen pada kolam sebelum di beri ikan. Seperti diketahui kolam memiliki beberapa jenis, kalau saya sebutkan ada tiga jenis yaitu kolam beton, kolam tanah dan kolam terpal. Biasanya jika membudidayakan ikan pada kondisi jauh dari saluran irigasi yang dipergunakan adalah kolam beton dan kolam terpal. Kedua kolam ini memiliki keunggulan dan kelemahan masing masing, misalnya kolam beton lebih awet sedangkan kolam terpal mudah untuk di pindah dan harganya lebih murah. Jika kolam sudah jadi maka kolam bisa diberikan air, untuk mengetes ada tidaknya kebocoran, jika kolam mengalami kebocoran ditandai dengan permukaan air yang turun atau adanya rembesan air pada dinding kolam. Kolam yang kondisinya sudah bebas dari kebocoran maka bisa di pergunakan untuk pemeliharaan ikan. Kesalahan pada budidaya ikan yang bisa menyebabkan ikan mati yaitu : tidak melakukan treatmen air kolam terlebih dahulu, tidak melakukan karantina ikan sebelum dimasukkan kolam, dan tidak melakukan cek kondisi air di kolam (pH maupun timbunan kotoran di kolam).

Oleh karena itu perlu diperhatikan beberapa hal berikut sebelum melakukan tebar ikan pada kolam , yaitu :

1. Lakukan treatmen pada air kolam terlebih dahulu. 

         Treatmen disini berguna untuk menyediakan pakan alami bagi ikan yang akan ditebar, mematikan bibit penyakit dan jamur yang kemungkinan ada di air kolam, dan menjadikan pH air netral serta bebas dari cemaran bahan kimia terutama bahan kimia penjernih air. Treatmen pada air kolam bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut : Persiapkan bahan yaitu EM4 perikanan dan tetes tebu, serta garam grosok yang biasa dipergunakan untuk komboran ternak.

Yang pertama dilakukan adalah menebarkan garam grosok, pada pengalaman saya pada treatmen kolam ikan koi, menggunakan garam dengan perbandingan 1 Kg garam untuk 1 meter kubik air, jika punya kolam dengan ukuran 1x1x1 meter maka kebutuhan garamnya 1 Kg. Setelah garam ditebar secara merata selanjutnya adalah mencampurkan EM4 perikanan dengan tetes tebu, caranya kocok dulu botol EM4nya kemudian siapkan ember atau gayung untuk tempat mencampur. Campuran EM4 dan tetes tebu untuk kolam ukuran 1 meter kubik saya menggunakan 5 tutup EM4 dan 100cc tetes tebu. Setelah dicampur diamkan dulu beberapa saat kemudian tebarkan pada kolam, bilas ember atau gayung menggunakan air kolam hingga bersih, karena biasanya masih ada yang menempel di gayung atau ember.

Setelah dilakukan penebaran garam dan campuran EM4 perikanan serta tetes tebu, air kolam akan berwarna coklat. Diamkan air kolam tersebut hingga air menjadi jernih dengan sendirinya, kurang lebih sesuai dengan pengalaman saya waktunya 1 minggu. Setelah air kolam jernih ikan bisa di masukkan pada kolam. Tanda ikan sudah cocok dengan air kolam adalah ikan tidak "mangap-mangap" mulutnya mengambil oksigen dari atas kolam, ikan berenang di bagian dalam kolam. Selain itu ditandai juga di kolam banyak jentik-jentik atau tumbuh makanan alami ikan.

selain menggunakan EM4 banyak praktek treatmen yang dilakukan oleh pembudidaya ikan yaitu dengan memberikan batang pisang pada kolam atau menggunakan pupuk organik yang dimasukkan ke dalam karung dan diberikan di kolam. Tetapi karena saya pada saat treatmen kolam tersebut diperuntukkan untuk pemeliharaan ikan hias Koi maka saya hanya menggunakan 3 bahan itu tadi yaitu garam grosok, EM4 perikanan dan tetes tebu. 

2. Lakukan karantina ikan sebelum di masukkan ke kolam

         Karantina diperlukan untuk memastikan bahwa ikan berada pada kondisi yang bebas dari penyakit, atau tidak membawa bibit penyakit dari luar. Karantina bisa dilakukan selama 3-4 hari dengan kondisi ikan full dipuasakan. Bak karantina juga harus tersedia oksigen yang cukup, sambil dikarantina kita juga harus melihat kondisi perkembangan ikan. Jika terindikasi ada yang terserang penyakit maka harus di pisahkan. Pada bak karantina juga diberikan garam grosok cukup 2 atau 3 genggam saja. Pengalaman saya memelihara ikan koi memang tidak pernah melakukan karantina, treatmen pada ikan sebelum masuk kolam yang saya praktekkan adalah ketika ikan sudah dibeli sebelum bungkus plastik di buka, ikan diapung-apungkan terlebih dahulu di kolam selama kurang lebih 5-10 menit, fungsinya adalah agar suhu pada air di plastik ikan dan kolam menjadi sama. Kalau diistilahkan biar ikan tidak kaget dengan perubahan suhu air yang bisa menyebabkan ikan menjadi stres.

setelah diapung-apungkan kemudian dipersiapkan ember dan diberi air kolam separuh ember saja, pada air di ember tersebut diberikan PK (Potasium Permanganat) jumlah pemberiannya sedikit saja, yang penting warnanya jadi ungu. Jangan berlebih karena malah bisa membunuh ikan. Diamkan air sebentar kemudian ambil plastik ikan yang diapung-apungkan tadi. Ambil ikan satu persatu dan bilas dengan larutan PK di ember tadi sambil di cek ada tidaknya tubuh ikan yang sakit atau terkena jamur, ikannya sambil di elus-elus untuk mengetahui juga kelincahan ikan. Ikan yang sakit pasti gerakannya tidak lincah dan ada luka ditubuhnya. Jika ditemukan ikan yang sakit maka jangan dimasukkan ke kolam tetapi harus dikarantina. Perendaman pada larutan PK tersebut kurang lebih hanya 1 menit, jangan lama-lama. Setelah itu masukkan ikan ke kolam. Air dari toko ikan jangan dimasukkan ke dalam kolam, karena bisa jadi airnya mengandung bibit penyakit. Jadi yang dimasukkan ke kolam ikannya saja setelah di rendam pada larutan PK.

Pengalaman saya pada ikan yang gerakannya tidak lincah ketika di masukkan ke kolam perlu dilihat lagi apakah masih tidak lincah dan cenderung menyendiri atau tidak berkumpul, jika ya segera pisahkan atau dikarantina karena jika ikan tersebut mati bisa menulari temannya. Lebih baik jika mati di tempat karantina, jangan sampai mati di kolam. Sebenarnya proses karantina ini juga sudah dilakukan pada toko ikan, jika kita sudah langganan penting untuk menanyakan ikan yang akan kita beli itu sudah berada di akuarium berapa lama, jika sudah lama maka secara teori ikan tersebut sudah dikarantina oleh toko ikan, ketika kita membeli sudah bisa dipastikan kondisi ikan sehat. Penting juga ketika kita membeli kita melihat gerakan ikan dan tubuh ikan, ikan yang sehat pasti gerakannya aktif dan memang biasanya sulit untuk di tangkap, tubuhnya juga tidak kurus. Mengetahui tubuhnya kurus atu tidak ikita bisa membandingkan dengan ikan yang lain yang masih satu jenis dan satu akuarium di toko ikan. Pilih yang benar-benar sehat, sehingga kita tidak perlu repot-repot untuk melakukan karantina di rumah. Karena bak karantina sebenarnya juga memerlukan tempat yang cukup luas, kita juga harus memiliki aerator atau pompa agar ikan tidak kehabisan oksigen juga waktu dan tenaga untuk memantau dan memindah mindah ikannya.

ikan yang mengalami kematian masal akibat terserang jamur

3. Memastikan kondisi air kolam selalu sehat

       Jika kolam memiliki filter atau kondisinya air selalu disaring, maka kemungkinan besar kondisi kesehatan airnya akan lebih terjaga dibandingkan pada kolam yang tidak memiliki sistem filterisasi. Jika kolam tidak memiliki filter pompa, misalnya pemeliharaan ikan lele atau nila secara bioflok maka kita harus rutin melakukan cek kondisi air. Apabila air mulai mengeluarkan bau tidak sedap dan ditandai juga ikannya muncuk ke permukaan maka sudah saatnya dilakukan penggantian air dan pembuangan kotoran di dasar kolam. Air yang dimasukkan ke kolam juga harus melalui treatmen terlebih dahulu untuk menjamin bahwa air tersebut bebas dari bahan kimia dan penyakit. Jika kita memiliki kolam di luar ruangan, yang bisa terkena air hujan maka pH air harus dijaga dengan penebaran garam grosok, biasanya saya menebarkan garam pada kolam koi saya setelah diguyur oleh hujan sebanyak 2-4 genggam garam, jika hujannya lebat saya kasih 4 genggam, jika tidak terlalu lebat 2 genggam garam. Garam ini menurut fungsinya adalah untuk menaikkan pH air yang bisanya habis terkena iar hujan pHnya menjadi turun. 


 Demikian pengalaman dari saya, semoga bermanfaat dan terima kasih


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Silahkan memberi komentar yang membangun EmoticonEmoticon