Showing posts with label Pestisida. Show all posts
Showing posts with label Pestisida. Show all posts

PEDOMAN CARA MENGGUNAKAN PESTISIDA KIMIA

3:55 PM Add Comment
masih sering ditemukan petani menggunakan pestisida kimia secara tidak tepat


Pestisida kimia merupakan alternatif terakhir dalam mengatasi serangan hama dan penyakit. Dalam pemanfaatan pestisida kimia untuk mengendalikan dan mengatasi serangan hama serta penyakit ternyata aplikasinya banyak yang tidak sesuai dengan anjuran karena tidak adanya penyuluhan dan pendidikan kepada petani sehingga penggunaanya asal dan malah bisa membahayakan petani sendiri serta lingkungan. Memang jika melihat kondisi petani di lapang penggunaan dosis pestisida banyak yang tidak sesuai anjuran serta tidak tepat sasaran, sehingga pestisida yang dibeli dan menambah biaya operasional produksi malah tidak memberikan manfaat bagi petani atau keberhasilan usahatani dengan meledaknya hama primer dan sekunder. Sebagai contoh di tempat saya ada yang menggunakan pestisida dengan merk dagang starb*n, dan memang cocok untuk mengatasi serangan wereng, tetapi karena keterbatasan informasi yang diperoleh dan pengalaman maka malah terjadi ledakan hama karena wereng yang di obati ternyata sudah bertelur, pestisida tersebut menurut pengalaman dan pengamatan petani ternyata tidak mampu membunuh telur wereng, hanya mampu membunuh wereng yang sudah dewasa. Jika wereng sudah bertelur maka yang terjadi malah telur-telur tersebut cepat menetas, ini yang menyebabkan ledakan hama karena kesalahan waktu penyemprotan pestisida ke lahan. Tetapi sebaliknya waktu penyemprotannya sesuai/tepat misalkan pada serangan hama walang sangit, pada saat padi mulai mengeluarkan malai (bunting) dan bulir mulai masak susu terdapat hama walang sangit yang diatas ambang. Jika dibiarkan maka dapat mengakibatkan penurunan produksi bahkan kegagalan panen, kemudian di kendaikan lewat penyemprotan pestisida kimia dengan merek starb*n yang di petunjuk ternyata tidak disebutkan untuk mengendalikan hama walang sangit, akibatnya adalah penyemprotannya tidak berpengaruh terhadap serangan hama karena pestisida yang digunakan tidak sesuai.
Berbagai kondisi diatas merupakan penggunaan pestisida yang tidak tepat/tidak sesuai anjuran. Petani perlu mendapatkan edukasi mengenai penggunaan pestisida, baik itu jenis, cara, waktu dan dosisnya. Hal ini penting mengingat bahwa kunci sukses dalam usahatani adalah penanggulangan hama dan penyakit secara bijaksana dan seusi dengan pengendalian hama secara terpadu. Berikut adalah hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam menggunakan pestisida kimia :
  1. Jenis hama dan penyakit
Organisme Pengganggu pada tanaman antara lain : Gulma, Jamur, Serangga, Tikus, Bakteri, dan Moluska (keong). Pestisida yang digunakan juga berbeda-beda seperti Gulma dengan Herbisida, Jamur dengan Fungisida, , tikus dengan rodentisida, Serangga dengan insectisida, bakteri dengan bakterisida, keong dengan molusida. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis insekstisida tersebut berbeda-beda disesuaiakan dengan hama/penyakit yang akan di berantas. Karena tidak tahuan akan jenis-jenis pestisda ini banyak petani yang hanya mengandalkan pada pengalaman petani lain tanpa adanya pengamatan terlebih dahulu di lapang mengenai penyebab utama serangan hama/penyakit, jika petani sebagai sumber informasi salah maka semua petani yang mengikuti juga salah, ini sangat berbahaya karena seumpama tanaman terserang jamur tetapi di semprot dengan insektisida maka yang terjadi adalah terbunuhnya serangga-serangga yang bermanfaat, pencemaran lingkungan, tidak berdampak dalam mengurangi serangan penyakit dan meningkatnya biaya produksi. Maka perlu untuk mengkonsultasikan segala upaya dalam mencegah atau menanggulangi serangan hama penyakit kepada penyuluh pertanian setempat sebelum melakukan langkah pengendalian menggunakan pestisida kimia.
Pengalaman yang lain adalah komunikasi yang tidak jelas antara petani dengan pedagang obat pertanian di toko pertanian, yang ingin diberantas adalah hama walangsangit dan sekaligus juga ingin memberantas gulma. Kemudian diberikan dua macam obat yang satu untuk walang sangit yang satu lagi untuk gulma, tetapi karena kurang pengalaman dalam penggunaan pestisida kimia dan tidak membaca label, obat untuk memberantas gulma malah disemprotkan ke tanaman padi yang akhibatnya adalah tanaman padi tersebut mati semua. Ini merupakan contoh hal sederhana tetapi sering terjadi dilapang. Oleh karena itu pendampingan dari penyuluh pertanian sangat dibutuhkan untuk memberikan edukasi terhadap fungsi jenis-jenis pestisida kimia dan kegunaannya.
Pada label pestisida juga terdapat nama bahan aktif yang terkandung di dalamnya, ini sangat penting untuk diketahui karena banyaknya merk obat-obat kimia di pasar dan biasanya petani hanya menghafalkan merk dagangnya. Padahal jenis-jenis hama yang ada di lahan pertanian hanya bisa diatasi dengan bahan aktif tertentu. Dan ini mulai harus di ubah dalam pemahaman petani bahwa merek dagang boleh berbeda-beda tetapi yang terpenting adalah bahan aktif yang terkandung didalamnya. Misalkan pada serangan hama walang sangit dapat diobati dengan insectisida berbahan aktif dimehipo, imidakloprid, fipronil, BPMC, MIPC, Abamektin, Metolkrab, Deltametrin, Alfametrin, Azadirakhtin, dan Pymetrozine. Jika tidak menggunakan salah satu bahan aktif tersebut maka pengendalian tidak akan efektif, misal menggunakan bahan aktif bensultap.
Sistem kerja pestisida yang dipergunakan, ada yang berupa racun kontak, racun sistemik, racun kontak dan sistemik. Pada pestisida jenis racun kontak maka hama bisa terbunuh jika terkena oleh pestisida, hama-hama yang tidak terkena maka akan tetap hidup. Pestisida racun sistemik bekerja dengan cara membunuh hama yang memakan bagian tanaman yang telah di obati, tanaman menyerap pestisida dan secara tidak langsung maka tanaman tersebut mengandung pestsida tersebut selama kurun waktu tertentu pengaruh pestisidanya baru hilang. Jika dilihat dari hasilnya maka pestisida racun kontak memberikan hasil lebih cepat karena hama yang terkena langsung mati, tetapi tidak bisa membunuh hama-hama yang berada di dalam tanaman, misalkan ulat buah pada tanaman tomat, ulatnya tidak akan terbunuh dengan racun kontak karena berada di dalam buah tomat. Berbeda dengan racun kontak, racun sistemik cara kerjanya lebih lambat dan baru benar-benar hilang dalam kurun waktu tertentu biasanya 3 minggu setelah penyemprotan. Hama-hama yang berada di dalam tanaman akan terbunuh dengan pestsida sistem kerja sistemik. Kekurangan pestisida sistemik adalah adanya residu pestisida yang lebih tinggi dibandingkan dengan pestisida kontak, bahkan pada tanaman buah yang dipanen jika selang waktu pemanenan dari penyemprotan kurang dari 3 minggu maka pengaruh pestisida tersebut masih ada, sehingga tidak jarang ditemukan ada beberapa kasus keracunan makanan karena mengkonsumsi buah yang masih mengandung pestisida sistemik dan mungkin dosis pada penyemprotannya melebihi dosis yang dianjurkan. Terakhir ada pestisida yang bekerja dengan dua cara yaitu sistemik dan kontak dengan cara menggabungkan dua sistem diatas. Apabila membeli pestisida kimia juga penting dilihat masa kadaluarsanya. 

informasi yang ada di label harus diperhatikan
  1. Ambang pengendalian
Pestisida kimia merupakan cara terakhir yang dipergunakan untuk mengatasi serangan hama dan penyakit. Ada pepatah mengatakan bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Penerapan cara penanggulangan hama secara terpadu memungkinkan terwujidnya good agricultural product. Produk-produk pertanian yang menim dari residu bahan-bahan kimia, sehat dan good agricultural practice yaitu cara bertani yang baik, ramah lingkungan menuju kelestarian lingkungan.
Langkah-langkah pencegahan yaitu menggunakan varietas yang tahan, pemupukan tepat pada waktunya dan menggunakan dosis pupuk yang seimbang, pemanfaatkan pupuk organik yang telah jadi, tanam serempak, melakukan rotasi tanaman, melestarikan musuh alami dengan cara menanam tanaman refugia, memasang kelambu pada persemaian, mencegah intoduksi hama dari lahan lain melalui saluran irigasi, melakukan pengairan berselang, membersihkan gulma-gulma dan melakukan pengamatan secara rutin di lapang.
Langkah-langkah pengendalian yaitu membunuh hama yang ditemukan dengan jempol, membuat perangkap hama, menggunakan pestisida organik dan nabati, memanfaatkan agen hayati seperti beuvaria bassiana dan trichoderma, mengumpulkan hama yang terserang penyakit untuk memudian di ekstrak dan disemprotkan ke lahan. Cara terakhir jika semua cara diatas tidak mampu menekan serangan hama adalah menggunkan pestisida kimia, ambang pengendalian dengan pestisida kimia adalah jika ditemukannya lebih dari 10 ekor hama perumpun tanaman atau untuk hama wereng jika ditemukan 5 ekor perumpun, tetapi jika tidak terjadi serangan hama yang parah pengobatan dengan pestisida kimia tidak perlu dilakukan. Pengendalian bisa menggunakan pestisida nabati/pestisida organik.
  1. Waktu pengendalian
Untuk bisa mengetahui cara pengendalian hama yang tepat maka harus dipelajari dulu adalah fase rentan serangan hama dan siklus hidup hama tersebut, pengendalian yang tepat adalah pada fase terlemah pada siklus hama tersebut. Sebagai contoh adalah hama sundep/penggerak batang padi, titik terlemah pada penggerek batang adalah pada fase telur. Ketika sudah terjadi penerbangan ngengat maka petani harus rajin melakukan pengamatan lahan untuk menemukan telur dan kemudian memusnahkannya. Pada hama wereng :
Penyemprotan pada saat banyak makroptera akan membunuh musuh alami, tetapi tidak membunuh telur yang ada dalam jaringan. Oleh karena itu setelah telur mentas, nimfa akan keluar dan akan terbebas dari musuh alami. Penyemprotan insektisida pada bagian atas tajuk tanaman tidak akan mengenai wereng coklat yang hidup pada pangkal batang. Dalam hal ini tajuk tanaman padi berperan sebagai payung yang melindungi wereng dari tetesan halus insektisida.
Selain berdasarkan fase terlemahnya hama, waktu pengendalian menggunakan pestisida kimia pada waktu pukul 08.00-10.00, dimana embun sudah tidak ada dan matahari belum bersinar terlalu terik. Pada waktu sore bisa dilakukan diatas jam 15.00.  
  1. Dosis pestisida yang digunakan
dosis
Sebelum menggunakan pestisida perlu dilihat dosis yang dianjurkan pada label aturan pakai berdasarkan jenis hama dan tanaman budidaya, sebagai contoh adalah insektisida dengan nama dagang Matad*r pada petunjuk penggunaan disebutkan bahwa tanaman kedelai yang terserang ulat grayak (Spodoptera litura) dapat dikendalikan dengan dosis 0,25ml/l – 0,5ml/l. Yang artinya jika tingkat serangannya kecil/ringan maka dosis yang digunakan adalah 0,25ml/l, tetapi jika tingkat serangannya tinggi/berat maka dosis yang digunakan 0,5ml/l.
Apabila menggunakan tangki semprot yang memiliki kapasitas 16 liter maka dosis pestisidanya adalah : untuk serangan ringan = 16 x 0,25 = 4 ml (cc) . Untuk serangan berat = 16 x 0,5  = 8 ml (cc). Pada beberapa merek obat tertentu ada keterangan volume dari tutup botolnya, sehingga tutup botol tersebut dapat dipergunakan sebagai takaran. Tetapi jika tidak ada maka dapat menggunakan suntik bekas untuk mengukur ketepatan dosis pestisida, setelah selesai dapat dicuci bersih disimpan dalam tempat khusus obat-obatan tanaman dan peralatan kemudian sewaktu dibutuhkan bisa digunakan lagi.
Ketepatan dosis sangat penting karena: pertama menghindari resistensi hama terhadap pestisida tersebut. Kedua adalah tepat dosis berarti menekan biaya produksi. Penggunaan petisida yang tidak sesuai dengan aturan membuat resistensi terhadap hama, sehingga pada penyemprotan di musim tanam berikutnya malah tidak memberikan hasil yang baik karena hama sudah tahan. Pestisida memiliki harga yang bermacam-macam, bahkan dengan merk-merk tertentu yang konsentrasi bahan aktifnya lebih tinggi harganya bisa sampai ratusan ribu perbotol, jika penggunaannya tidak sesuai dengan aturan maka yang terjadi adalah pembengkakan biaya produksi dan menurunkan laba usahatani.
Setelah tahu dosis  yang tepat maka selanjutnya adalah mencampur pestisida dengan air, pencampuran dilakukan di ember khusus sebelum dimasukkan ke tangki. Tujuannya adalah agar penyampuran yang terjadi secara merata. Setelah tercampur merata di ember kemudian dituangkan ke dalam tangki dan airnya bisa ditambah lagi sesuai dengan kapasitas tangki. Untuk menjadikan perhiatian bahwa tidak dianjurkan untuk menggunakan pestisida lebih dari satu dengan cara dicampur. Bahkan jika di runtut dari aturan yang berlaku cara penggunaan pestsida dengan dicampur satu sama lain sangat berbahaya dan bisa saja malah tidak efisien karena kita sendiri tidak mengetahui reaksi apa yang terjadi jika senyawa yang berbeda dicampur menjadi satu. 
suntik bekas untuk menakar dosis pestisida

  1. Kondisi peralatan untuk penyemprotan
Peralatan yang dipergunakan untuk penyemprotan juga harus diperiksa terlebih dahulu untuk mengetahui kelayakannya, jika ada bagian-bagian yang bocor perlu untuk di perbaiki dulu, untuk mengetahuinya bisa dilakukan dengan memberikan air dan di cek untuk penyemprotan. Di sambungan-sambungan pipa dan selang jika karetnya sudah aus harus diganti, nozelnya jika kotor harus dibersihkan, tali penggendongnya juga di cek apakah masih bagus dan kuat atau tidak, jika sudah tidak kuat harus diganti dengan yang baru. Peralatan yang baik akan menunjang kefektifan dalam pengendalian hama.
pengecekan kondisi alat

  1. Cara penyemprotan
Jika dilihat nozel ada bermacam macam bentuknya, jika di kelompokkan maka ada dua yaitu yang bengkok dan lurus. Kegunaan dari dua nozel ini juga berbeda, untuk nozel yang lurus difungsikan menyemprot hama yang berada di pangkal rumpun, misalkan hama wereng. Untuk nozel yang bengkok digunakan untuk menyemprot hama di dedaunan, misalkan walang sangit. Jadi nozel yang digunakan harus sesuai dengan hama sasaran yang akan disemprot.
Penyemprotan dilakukan dengan mencari tahu dulu arah angin, jika anginnya dari barat maka arah penyemprotannya menghadap ke timur, dan berjalan dari utara ke selatan, setalah itu tetap menghadap timur dan dari selatan ke utara, kemudian seterusnya. Tujuan dari mengetahui arah angin adalah : pestisida tidak berbalik ke penyemprot karena tiupan angin yang bisa mengakibatkan keracunan, kedua agar penyemprotan bisa merata.
Penyemprotan dilakukan dengan berjalan pelan-pelan dan tepat sasaran, jika tangki telah habis maka dilakukan pengisian lagi dan meneruskan dari tempat terakhir. Pada pestisida yang sifatnya sistemik, sebelum dilakukan penyemprotan lahan harus dikeringkan terlebih dahulu dengan kondisi tanah macak-macak/tidak tergenang, aliran air ditutup agar tidak ada air yang bisa masuk ke lahan.
cara penyemprotan

  1. Standar keamanan penggunaan pestisida kimia
Sebelum mulai menyemprot perlu dipersiapkan alat pengaman seperti masker, harganya murah Rp.1.000 perbiji, untuk menghindari terhirupnya pestisida. Kemudian dilarang untuk merokok karena pestisida juga bisa terhirup bersama dengan rokok. Menggunakan pakaian khusus untuk melakukan penyemprotan yang tidak tertembus air (dari bahan plastik). Standar keamanan yang minimal ini kadangn diabaikan oleh petani yang mengakibatkan terganggunya ksehatan petani karena akumulasi pestisida terhirup cukup tinggi.
Setelah selesai melakukan penyemprotan maka peralatan harus dicuci bersih, jika ingin makan dan minum tangan dan kaki juga dicuci bersih menggunakan sabun pada air yang mengalir.

CARA MENCEGAH SERANGAN HAMA DAN PENYAKIT

7:40 AM Add Comment


Dalam budidaya tanaman sering menemui kendala serangan hama dan penyakit, dan sangat mengganggu dalam mencapai beberapa hal :
Pertama adalah peningkatan produksi
Tujuan utama budidaya adalah mencapai produksi paling maksimal, karena produksi ini akan berpengaruh kepada penghasilan petani. Produksi yang tinggi bida diperoleh dengan menerapkan berbagai inovasi dan teknologi tepat guna. Tetapi dalam proses penerapan inovasi dan teknologi tepat guna ini terkadang menemui kendala untuk mencapai keberhasilan, antara lain adalah adanya serangan hama dan penyakit. Pada budidaya padi terdapat hama utama salah satunya adalah wereng coklat, serangan wereng cokelat dapat mengakibatkan lahan menjadi puso (gagal panen).
Sedikit sekali petani yang melakukan praktek pencegahan terhadap serangan hama wereng cokelat, karena memang hama jenis ini bisa melakukan migrasi dari lokasi yang sangat jauh hanya untuk bertelur. Telur-telur tersebut kemudian menetas dan larva dari telur yang menetas tadi yang bisa menyebabkan kerusakan pada tanaman padi. Jika melihat pada foto hama wereng coklat terlihat sangat besar sebesar lalat, tetapi sebenarnya hama wereng cokelat ini sangat kecil sekali ukurannya. Dan perlu melihat lebih dekat untuk mengetahui keberadaanya, biasanya di bagian pangkal batang padi. Kondisi cuaca yang tidak menentu bisa mendukung ledakan hama ini, apalagi sekarang cuaca memang sering mengalami perubahan, harusnya sudah masuk musim kemarau tetapi masih terjadi hujan. Padahal hama ini akan semakin cepat berkembang jika kondisi lahannya basah dan cuaca sering mendung.
Pemberantasan hama wereng coklat sering mengalami kegagalan karena adanya reistensi hama. Wereng yang bermigrasi dan bertelur mungkin sudah pernah disemprot pestisida di lokasi lain tetapi masih bisa hidup dan kemudian bertelur. Larva dari telur-telur tersebut bisa membentuk kekebalan terhadap jenis racun yang sama. Untuk mengatasi hal tersebut banyak petani yang kemudian mencampur obat-oabatan atau membeli obat lain dengan dosis yang lebih tinggi atau dengan merek dagang yang berbeda. Akibatnya adalah meningkatnya residu dari pestisida di lahan pertanian dan peningkatan biaya produksi. Padahal jika pemberantasan tersebut berhasil tanaman padi belum tentu akan tumbuh dengan baik karena wereng coklat merupakan vector virus kerdil, sehingga tanaman yang terinfeksi tidak akan tumbuh dengan baik dan tidak berproduksi dengan baik.
Penggunaan pupuk kimia pada musim penghujan ternyata juga dapat menyebabkan kegagalan panen pada tanaman padi, terutama pupuk urea karena kandungan Nitrogennya yang tinggi. Sedangkan air hujan juga mengandung Nitrogen sehingga tanaman mudah terserang penyakit terutama blast dan hawar daun bakteri. Serangan penyakit ini dapat menurunkan hasil secara signifikan.

Ke dua mutu produksi / produk sehat
Sekarang banyak sekali kejadian sakit yang mungkin jenis penyakit tersebut pada masa dulu tidak ada atau jaarang ditemui. Dulu di sini adalah sebelum mulai diterapkannya revolusi hijau di Indonesia pada tahun 1984. Beralihnya pertanian yang tradisional menjadi pertanian yang konvensional mengakibatkan konsumsi bahan kimia sebagai pendukung tercapainya peningkatan produksi menjadi meningkat. Cara peningkatan produksi model ini dikenal dengan nama intensifikasi tanaman yang artinay meningkatkan produksi dengan jalan menambah input pada usaha budidaya bisa dengan benih unggul, pupuk kimia dan penggunaan pestisida kimia.
Penggunaan pupuk kimia pada budidaya tanaman ternyata memiliki dampak bagus dan tidak bagus. Bagus karena terbukti menggunakan pupuk kimia membuat tanaman memiliki produksi yang meningkat. Tidak bagusnya adalah dengan memberikan pupuk kimia berarti produk yang dihasilkan juga mengandung kimia, tanah juga mengandung bahan kimia. Padahal jika terjadi kontaminasi bahan kimia yang berlebih tentu tidak baik bagi kesehatan maupun lingkungan lahan. Lahan yang dipupuk dengan pupuk kimia terus menerus akan mengalami degradasi, daya dukung untuk menghasilkan produksi yang baik tidak akan mampu. Saya sudah membuktikan sendiri, lahan petani lain tidak pernah dipupuk organik di bandingkan dengan lahan saya yang rutin saya pupuk organik ternyata pertumbuhan tanamannya berbeda, lahan saya pertumbuhan tanamannya lebih baik dibandingkan lahan yang lain yang tidak pernah dipupuk organik atau dipupuk organik tetapi di bawah rekomendasi.
Jika produk yang mengandung bahan kimia di konsumsi oleh manusia maka tentu tidak baik untuk kesehatan, apalagi makanan pokok yang setiap hari dikonsumsi. Usaha untuk menghasilkan bahan pangan yang bermutu telah banyak dilakukan petani dengan mulai beralihnya menuju pertanian organik. Pada budidaya padi dikenal dengan system tanam SRI (System Rice Intensification) yang terbuksi bisa menghasilkan produksi yang meningkat dan produk organik. Tetapi untuk mencapai keberhasilan ini tentu tidak bisa dilakukan sekejap begitu saja tetapi melalui beberapa tahapan antara lain mengembailkan kesuburan tanah dengan pengurangan input pupuk kimia dan pestisida maupun herbisisda kimia menuju penggunaaan bahan-bahan organik 100%.
Usaha-usaha seperti di atas sering mendapatkan batu sandungan karena petani yang membuat suatu perubahan, atau melakukan sesuatu inovasi sering mendapatkan cibiran. Bahkan jika hasil dari usahanya malah tidak bagus atau dibawah petani lain yang masih menerapkan cara bertani secara konvensional dengan menggunakan input kimia. Yang kurang dimengerti oleh sebagian besar petani adalah proses untuk mengembalikan kesuburan tanah yang paada awalnya menggunakan bahan kimia selama bertahun-tahun tidaklah singkat, tetapi betuh waktu yang lama pula. Pada konsep pertanian orgaanik adalah pemupukan berfungsi untuk memberi makan tanah dan kemudian tanah member makan kepada tanaman, berbeda dengan pertanin menggunakan pupuk kimia yang hanya memberi makan langsung kepada tanaman. Sehingga proses untuk mencapai produksi maksimal tidak seinstan atau sesingkat penggunaan bahan kimia.
Produk yang sehat masih kurang digemari di masyarakat terutama masyarakat desa, sehingga untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi sering mendapatkan kendala karena pasar tidak tersedia. Pendampingan dari LSM pertanian dan dinas sangat diperlukan sebagai pembuka jalur penghubung antara petani organik dengan pembeli produk-produk organik.

Ke tiga menekan biaya produksi
Pemanfaatan usahatani dan ternak menjadi sangat bagus untuk mendukung pertanian organik. Usahatani ternak saling mendukung, usahatani sebagai penyedia pakan ternak dari seresah-seresah jerami atau jagung dan tanaman lain sedangkan usaha ternak sebegai peneyedia pupuk organik. Bisa dibayangkan jika penggabungan dua usaha ini bisa berjalan beriringan maka tidak mungkin jika peningkatan produksi pangan yang sehat akan tercapai. Selain itu peningkatan pendapatan petani juga bisa tercapai.
Pupuk yang harusnya didapatkan dengan cara membeli bisa didapatkan petani secara gratis dari kotoran ternak yang diolah terlebih dahulu menjadi kompos atau bokasi dengan kualitas yang tentu saja malah lebih bagus dibandingkan dengan buatan perusahaan pupuk. Jika untuk pemupukan petani selalu membeli maka biaya produksi akan meningkat, memang secara teoritis pemupukan akan meningkatkan hasil tetapi ada faktor lain yang perlu diperhatikan bahwa keberhasilan usahatani tidak hanya tergantung faktor pupuk tetapi ada faktor-faktor lain seperti pengairan, penyiangan, serangan OPT (organism pengganggu tanaman), dan benih unggul. Sehingga pemupukan yang baik tidak akan bisa memberikan keberhasilan usahatani jika tidak ditunjang oleh keberhasilan faktor-faktor lainnya. Jika demikian kondisinya apabila biaya produksi meningkat tetapi usahataninya gagal maka yang terjadi adalah kerugian. Maka untuk mengantisipasi kerugian tersebut perlu diambil langkah untuk swasembada pupuk dalam rangka meminimalkan biaya produksi.
Selain memfokuskan pada pupuk atau pemanfaatan usahatani dan ternak, perlu diingat bahwa harga pestisida kimia tidaklah murah. Pestisida-pestisida kimia dengan dosis yang lebih tinggi dan daya bunuh lebih hebat harganya akan lebih mahal. Jika membuat pestisida organik dan pestisida nabati adalah solusi dari hal tersebut, mungkin saja benar tetapi mungkin saja bisa salah. Karena serangan hama yang sudah diambang batas (kalau berlanjut pasti akan merugikan secara ekonomis) jika di racun dengan pestisida organik atau nabati tidak akan mempan atau tidak akan mampu menghilangkan serangan hama tersebut. Sehingga dalam pengelolaan tanaman secara terpadu harus dilakukan pengendalian secara kimia. Dan seperti yang sudah saya sampaikan tadi pestisida yang ampuh harganya lebih mahal, akibatnya biaya produksi meningkat.

Ke empat kesehatan petani sendiri
Penggunaan pestisida dalam mengatasi serangan hama dan penyakit bisa memberikan dampak kesehatan yang buruk kepada petani. Minimnya pengetahuan petani dan alat pelindung saat mengaplikasikan pestisida memungkinkan terjadinya keracunan pada petani baik karena terhirup atau kontak langsung. Banyak sekali kasus-kasus keracunan pestisida yang terjadi dan tidak sedikit petani yang masuk ke rumah sakit karena kejadian tersebut.
Kondisi yang ringan adalah alergi karena petisida kimia, tetapi jika berlanjut akan terjadi mutah-mutah dan pusing. Ini akan berdampak buruk terhadap kesehatan petani, belum lagi jika karena mengaplikasan petisida petani menjadi sakit tentu malah membuat tidak bisa bekerja dan biaya berobat atau rumah sakit. Akhirnya kalau dihitung-hitung petani malah menjadi rugi.

Ke lima cara bertani yang ramah lingkungan
Hal dilupakan banyak petani adalah sawah atau tegal yang digarap kelak akan diwariskan kepada anak dan cucunya, karena ini merupakan tradisi dan mungkin adalah kewajiban orang tua kepada anak. Jika kebiasaan bertani tidak ramah lingkungan dengan menggunakan bahan-bahan kimia terutama untuk membunuh hama dan menanggulangi penyakit yang pada akhirnya menyebabkan pencemaran lingkungan, maka kelak tentu lingkungan usahatani akan menjadi rusak. Kerusakan lingkungan ini akan menyebabkan daya dukung untuk pertumbuhan tanaman menjadi baik juga akan berkurang sehingga lahan menjadi tidak produktif seperti dulu lagi.
Di dalam tanah sawah atau tegal ada beberapa mikro organism dan hewan-hewan lain yang bermanfaat untuk menunjang pertumbuhan tanaman. Juga ada hewan-hewan yang bermanfaat sebagai musuh alami hama di lingkungan sawah juga ikut mati karena aplikasi pestisida yang tidak bijaksana. Jangan sampai kelak anak dan cucu kita menyalahkan kita karena kebiasan bertani kita yang tidak ramah lingkungan. Mari kita sadar diri dan memberikan warisan terbaik bagi anak cucu kita kelak.

Untuk menjawab permasalahan-permasalahan dalam mengantasi hama dan penyakit tersebut saya memiliki solusi yang telah saya terapkan di lahan saya dan memiliki dampak yang signifikan dalam menekan serangan terutama hama. Ada pepatah mengatakan mencegah lebih baik daripada mengobati. Yang akan saya sampaikan ini merupakan cara pencegahan dan sangat mudah untuk diterapkan di lahan pertanian, yaitu dengan melakukan penanaman Tanaman REFUGIA.
tanaman Refugia
Tanaman Refugia merupakan tanaman bunga, kita bisa menanam kenikir, bunga kertas, bunga matahari, atau bisa juga tanaman wijen, dan lain-lain. Penanaman dilakukan di pemetang sawah atau di pinggir-pinggir jalan menuju sawah, yang penting tidak mengganggu pengguna jalan atau aktivitas lain dalam menggunakan jalan seperti pengangkutan hasil produksi atai masuknya traktor. Fungsi dari tanaman Refugia ini adalah sebagai berikut :
  1. Sebagai penyedia noktah (madu) bagi musuh alami
Tanaman bunga mengandung madu / noktah yang banyak, madu ini berfungi sebagai suplemen dan makanan sehingga musuh-musuh alami lebih sehat. Musuh-musuh alami yang sehat akan memiliki daya saing yang tinggi terhadap hama-hama. Di lahan saya yang telah saya tanami dengan bunga kenikir saya menemukan banyak sekali kumbang kubah yang merupakan predator. Padahal pada saat saya belum menanam kenikir saya tidak menemukan kumbang kubah di lahan saya, tetapi sekarang populasinya sangat banyak. Untuk musuh-mush alami yang lain yang saya temukan adalah laba-laba. Mungkin karena kurangnya pengamatan saya sehingga saya belum menemukan musuh alami yang lain selain 2 predator hama tersebut. Atau mungkin juga setiap bunga memiliki daya tarik tersendiri terhadap jenis-jenis musuh alami yang ada di alam. Katanya bunga matahari merupakan tanaman refugia yang banyak sekali menarik musuh alami diantara tanaman-tanaman bunga yang lain.
bunga kenikir memiliki daya tumbuh sangat tinggi

  1. Sebagai tanaman penghalau hama
Ada yang menyebutkan bahwa tanaman Refugia bisa menghalau serangan hama karena ada beberapa hama yang justru lebih tertarik kepada tanaman Refugia daripada menyerang tanaman yang dibudidayakan petani, sehingga tanaman budidaya aman dari serangan hama. Jika demikian maka penanaman tanaman Refugia bisa dilakukan di sekeliling lahan dengan memanfaatkan pematang sawah.

  1. Sebagai tempat hidup musuh alami
Tanaman Refugia juga bermanfaat sebagai tempat hidupnya musuh alami hama, karena ada tempat khusus di lahan petani sebagai tempat hidupnya maka musuh-mush alami tersebut akan tinggal dan berkembang biak di lokasi lahan tersebut. Ini akan bermanfaat untuk menakan serangan hama karena jumlah musuh alami tentu nanti akan bisa mengimbangi atau bahkan bisa melebihi dari jumlah hama itu sendiri. Dengan demikian maka tidak perlu dilakukan pengendalian melalui penyemprotan pestisida karena terjadi keseimbangan alam.

  1. Fungsi lain yang tak kalah penting
Fungsi lain yang tidak kalah penting dari tanaman Refugia adalah mempercantik lahan pertanian anda. Dengan banyaknya bunga berwarna warni tentu akan memberikan suasana yang lebih asri, tenang dan indah di lahan pertanian. Ini bisa menurunkan tingkat stress dan juga hiburan tersendiri ketika melakukan aktivitas sehari-hari di lahan pertanian untuk memelihara tanaman budidaya. Jika jumlah dan macam bunganya sangat banyak tidak jarang sawah bisa menjadi lokasi foto-foto kawula muda. Hal tersebut juga bisa berdampat bagus bagi pemuda pemudi untuk mengenal dunia pertanian yang mana sekarang sangat sulut ditemukan petani yang usianya masih muda.

Cara penanaman tanaman Refugia ini sangat mudah, untuk kenikir bisa di ambil dari biji bunga yang sudah kering. Biji tersebut kemudian di masukkan ke dalam lubang sedalam 2-5 cm dan ditutup tanah. Jika turun hujan atau terkena air maka benih langsung berkecambah dan tumbuh. Untuk benih-benih bunga yang lain seperti tanaman matahari bisa di beli di took pertanian. Daya tumbuh benih kenikir sangat tinggi sehingga penanamannya sangat mudah. Tanaman yang sudah tua nanti akan bertunas lagi dan menghasilkan bunga lagi, tetapi jika sudah agak tua bisa di cabut dan ditanami tanaman yang baru/ di tanami benih kenikir lagi, karena jika terlalu tua tanaman akan tinggi dan banyak cabangnya. Tanpa perlakuan khusus sebenarnya tanaman juga bis berkembang dengan sendirinya, biji-biji yang kering nanti kan jatuh dengan sendirinya dan akan tumbuh menjadi tanaman baru. Daya tumbuh sangat tinggi dan daya tahan tanaman terhadap kekeringan juga baik.

CARA MENGENDALIKAN HAMA KEONG MAS

6:47 PM Add Comment


gejala serangan keong mas


Keong mas (Pomacea canaliculata) menjadi salah satu hama penting yang selalu meyerang tanaman padi di sentra-sentra produksi pangan. Keong mas merusak tanaman dengan cara memarut jaringan tanaman dan memakannya sehingga bibit hilang.

telur keong mas

Waktu kritis pengendalian keong mas adalah saat 10 HST(hari setelah tanam) atau 20 HSS (hari setelah sebar benih/benih basah). Jika di sawah diketahui terdapat telur berwarna merah muda dengan berbagai ukuran, maka perlu dilakukan pengaturan air.
Keong mas sangat menyukai tempat yang tergenang air. Serangan keong mas sangat berdampak ada tingkat produksi padi. Salah satu pengendaliannya adalah dengan mencegah introduksi keong mas pada areal baru. Jika keong mas memasuki areal salah baru maka keong mas akan cepat berkembang biak, terutama pada lahan yang selalu tergenang air. Apabila sudah demikian hama ini akan sulit dikendalikan.
Pengendalian keong mas hendaknya memperhatikan dan mereapkan pengendalian hama secara terpadu (PHT) dan berkesinambungan, jadi meski tanaman padi telah besar berumur >30 HST pengendalian harus tetap dilaksanakan. Hal tersebut bertujuan untuk mencegah serangan di musim berikutnya di areal yang sama dan areal sawah sekitarnya.
siklus hidup keong mas

Pengendalian hama secara kimia juga bisa menjadi alternative solusi terakhir, tetapi perlu diingat pengendalian hama secara kimia juga memiliki dampak yang tidak baik dan merugikan antara lain resistensi, resurgensi dan residu pestisida. Untuk itu perlu dilakukan upaya untuk mengendalikan menggunakan pestisida nabati terlebih dahulu.
Pengendalian keong mas yang ramah lingkungan dapat dilakukan dengan tanaman-tanaman antraktan/pemikat. Tumbuhan tersebut adalah daun papaya, daun lamtoro, daun ketela pohon dan bekatul. Bisa juga menggunakan tumbuhan kangkung, tetapi jika tidak segera di bersihkan sisa tumbuhannya bisa menjadi gulma di sawah. Bahan-bahan sebagai antraktan tersebut sangat mudah didapat dan ramah lingkungan.
Daun-daun yang dijadikan antraktan tersebut diletakkan di setiap sisi petakan lahan sawah. Kalau petani mengenalnya dengan istilah “sukon”, “sukon” ini bisasanya selalu tergenang air karena fungsinya sebagai drainase pada lahan pertanian. Keong mas akan memakan daun tersebut kemudian keong mas dapat di kumpulkan menggunakan jarring atau di ambil langsung dengan tangan.
Dari praktek langsung pada padi varietas ciherang dengan umur dari vegetative ke genaretif 18 minggu (120 hari). Daun papaya dapat mengendalikan 25.344 ekor dengan rata-rata 211,2 ekor/hari/titik umpan. Daun lamtoro dapat mengendalikan 17.370 ekor dengan rata-rata 144,75 ekor/hari/titik umpan. Daun ketela pohon dapat mengendalikan 16.164 ekor dengan rata-rata 134,7 ekor/hari/titik umpan. Sedangkan dengan bekatul dapat mengendalikan 5.490 ekor dengan rata-rata 45,75 ekor/hari/titik umpan.
Melalui cara pengendalian terebut makan produksi padi bisa meningkat karena intensitas serngan hama menjadi menurun. Hasil pengujian membuktikan bahwa daun papaya merupakan tumbuhan antraktan yang cocok dan efektif.
Selain cara tersebut, pengendalian keong mas yang sesuai dengan prinsip pengendalian secara terpadu (PHT) dapat dilakukan dengan rincian sebagai berikut
a.  Pratanam
Cara pengandalian pada fase pratanam adalah dengan mengambil keong mas secara langsung dan memusnahkannya secara mekanis
b.  Persemaian
Cara pengendalian pada saat persemaian adalah dengan menyebar beih lebih banyak dari biasanya untuk sulaman
c.  Stadia vegetative
Pada stadia vegetative dapat dilakukan dengan menanam bibit lebih banyak dan umurnya lebih tua (lebih dari 21 HSS), bisa juga dengan menerapkan pola tanam system Hazton. Tidak lupa juga penting melakukan pengairan lahan secara berselang
Saringan yang terbuat dari anyaman bambu atau bisa juga menggunakan kawat untuk menyaring pasir (paling bagus yang ada warnanya hijau/ada plastiknya yang melekat karena lebih tahan terhadap karat sehingga awet). Saringan tersebut diletakkan pada saluran masuknya air ke lahan pertanian, pemasangan harus rapat untuk mencegah adanya keong yang masuk di sela saringan dengan pematang. 
d.  Stadia generative dan setelah panen
Pengendalian pada fase ini bisa dilakukan dengan mengambil secara langsung, dan setelah panen bisa menggunakan itik yang digembalakan.