Showing posts with label Tanaman Pangan. Show all posts
Showing posts with label Tanaman Pangan. Show all posts

Manajemen Penanaman

11:13 PM Add Comment

 Dalam pertanian kita harus mengenal manajemen penanaman sebelum melaksanakan budidaya di lahan, manajemen penanaman dikenal juga dengan sebutan manajemen planting (cuma di bahasa inggriskan, hehehehehe)

Jika diartikan perkata maka ada dua suku kata yaitu manajemen dan penanaman, manajemen sendiri merupakan suatu kegiatan yang terdiri dari lima hal yaitu : perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi . Yang artinya budidaya tanaman itu harus dilakukan dengan penuh perhitungan untuk mencapai keberhasilan. Kelima kegiatan ini akan kita bahas satu persatu, dengan harapan ketika kita mau melaksanakan budidaya suatu tanaman, khususnya dengan metode hidroponik dapat memenuhi kebutuhan pasar ataupun kebutuhan konsumsi keluarga, berikut 5 kegiatan tersebut :
  1. Perencanaan : perencanaan merupakan hal yang pertama kali harus difikirkan sebelum melakukan kegiatan budidaya. Dari perencanaan yang benar maka kita akan mendapatkan gambaran perkiraan jumlah produksi yang selalu kontinyu, biaya yang dibutuhkan, pendapatan dan keuntungan. Pada proses perencanaan terlebih dahulu kita harus menghitung berapa kapasitas atau kemampuan lahan kita dalam menghasilkan panenan (lubang tanam), Contoh : ingin panen 7 hari sekali, tanaman pakcoy umur panen kurang lebih 30 HST, jumlah lubang tanam yang tersedia untuk ditanami adalah 360 lubang tanam. Maka perhitungan berapa jumlah benih yang harus di semai adalah sebagai berikut : pembibitan (7 Hari), dewasa hingga panen 30 Hari setelah tanam (HST). Ingin panen seminggu sekali maka 30 HST dibagi 7 = 4 (dibulatkan). Lubang tanam yang harus ditanami per minggu adalah = 360: 4 = 90 lubang tanam. Kebutuhan benih dilebihkan 10% untuk jaga-jaga penyulaman atau ada benih yang tidak tumbuh, sesuaikan dengan keterangan daya kecambah benih di label = 90+(90x10%) = 99 benih tiap minggu yang harus disemai, dan 90 bibit hasil semai ditanam dipendewasaan.
  2. Pengorganisasian : pengorganisasian erat kaitannya dengan pembagian tugas dan wewenang, ada penjelasan pekerjaan yang harus dilakukan dari setiap bagian di perusahaan/ organisasi. Misalnya dalam memproduksi sayuran hidroponik kita bisa membagi menjadi 3 kegiatan utama yaitu Penyemaian, Penanaman dan Panen. Tiga kegiatan utama ini bisa dijadikan per divisi, dan setiap divisi memiliki penanggung jawab/ karyawan tersendiri. Spesialisasi pekerjaan akan menjadikan usaha anda semakin efektif dan efisien, selain itu spesialisasi juga akan memudahkan anda dalam melakukan pengorganisasian pekerjaan. Setelah dilakukan pembagian pekerjaan selanjutnya harus dibuat Standar Operasional Prosedur (SOP) dengan acuan alur proses kegiatan budidaya, apa saja yang harus dilakukan pada setiap bagian/ divisi sehingga bisa memproduksi sayuran/ tanaman budidaya, SOP ini akan menghubungkan setiap divisi sehingga setiap kegiatan akan saling berpengaruh antara satu dengan yang lain. Misalnya untuk memproduksi sayuran hidroponik maka alur kerja yang harus dilakukan adalah membeli benih sayuran, yang disesuaikan dengan perencanaan tanam, kemudian dilakukan penyemaian selama kurang lebih 7 hari, setelah 7 hari semai, bibit dipindah ke penanaman di bagian peremajaan, dari peremajaan kemudian dipindahkan lahi ke pendewasaan hingga panen.
  3. Pelaksanaan : jika kita sudah memiliki rencana dan membuat SOP produksi, selanjutnya adalah menjalankan rencana tersebut
  4. Pengawasan atau monitoring. kegiatan monitoring merupakan kegiatan yang berkaitan dengan pemeliharaan tanaman hingga produksi, untuk melakukan kegiatan monitoring biasanya diperlukan sebuah form untuk melakukan cek jalannya kegiatan. Misalkan adanya form kontrol nutrisi, form kontrol pH dan suhu, pertumbuhan tanaman budidaya , dll. Pada kegitan monitoring tersebut biasanya dilakukan proses PDCA (plan, Do , Cek, Action) jadi ketika ada sesuatu yang kurang pas atau berbeda dengan apa yang direncanakan maka segera di perbaiki.
  5. evaluasi . Kegiatan yang terakhir adalah evaluasi. Evaluasi ini biasanya menyangkut 3 hal yaitu input, proses dan output. Jika dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat ditambah outcome (dampak). Evaluasi input terdiri dai Man, Money, Machine, Methode dan material. Evaluasi proses berupa SOP yang telah dilakukan dan kegiatan monitoring yang sudah dilakukan. Evaluasi yang terakhior adalah evaluasi output, yang merupakan target yang telah tercapai, realiasasi yang ada di lapangan.
 

jika dalam kegiatan budidaya tanaman semua proses manajemen ini dilaksanakan maka kemungkinan keberhasilan dari usaha tani dapat selalu terpantau dengan baik

PANEN DAN PASCA PANEN KEDELAI

11:30 PM Add Comment

 

kedelai memasuki umur panen

A.   Panen Kedelai

Panen kedelai dilakukan apabila sebagian besar daun sudah menguning, tetapi bukan karena serangan hama atau penyakit, lalu gugur, buah mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan dan retak-retak, atau polong sudah terlihat tua, batang berwarna kuning agak coklat dan gundul. Panen yang terlambat agak merugikan, karena banyak buah yang sudah tua dan kering, sehingga kulit polong retak-retak atau pecah dan biji lepas berhamburan. Disamping itu, buah akan gugur akibat tangkai buah mongering dan lepas dari cabangnya. Perlu diperhatikan umur kedelai yang akan dipanen yaitu sekitar 75-110 hari, tergantung varietas dan ketinggian tempat.perlu diperhatikan, kedelai yang akan digunakan sebagai bahan konsumsi dipetik pada usia 75-100 hari, sedangkan untuk dijadikan benih dipetik pada umur 100-110 hari, agar kemasakan biji betul-betul sempurna dan merata. Ada dua hal penting dalam pemanenan yaitu saat panen dan cara panen.

Saat panen yang tepat pada tanaman kedelai adalah : (1) kadar air menurun menjadi sekitar 20%, (2) warna polong coklat tua, (3) ukuran benih maksimal, (4) berat kering masknimal. Sedangkan cara panen yang benar adalah 70% buah atau benih yang dimaksud telah 70-80% masak dan pemanenen dilakukan segera setelah masak fisiologis.

Ciri-ciri tanaman kedelai yang telah masak fisiologis yaitu  pada saat panen klorofil berubah warna, daun dari bawah keatas sesuai tingkat kemasakan biji pada polong, biasanya warna daun dan polong telah berubah warna dari hijau menjadi kuning, coklat, coklat tua.

Cara panen tanaman kedelai dilakukan pada saat tidak hujan, agar hasilnya segera dapat dijemur. Mengingat kemasakan buah tidak serempak, dan untuk menjaga agar buah yang belum masak benar bisa tidak ikut dipetik, petikan sebaiknya dilakukan secara bertahap, beberapa kali. Panen dapat dilakukan dengan cara pemungutan di lahan dengan metode sebagai berikut : (1) Pemungutan dengan cara dicabut : sebelum tanaman dicabut, keadaan tanah perlu diperhatikan terlebih dahulu. Pada tanah ringan dan berpasir, proses pencabutan akan lebih mudah. Cara pencabutan yang benar ialah dengan memegang batang, tangan posisi tepat dibawah ranting dan cabang yang berbuah. Pencabutan harus dilakukan dengan hati-hati sebab kedelai yang sudah tua mudah sekali rontok bila tersentuh tangan. (2) Pemungutan dengan cara memotong : alat yang biasanya digunakan untuk memotong adalah sabit yang cukup tajam, sehingga tidak terlalu banyak menimbulkan goncangan. Disamping itu dengan alat pemotong yang tajam, pekerjaan bisa dilakukan denga cepat dan jumlah buah yang rontok akibat goncangan akibat pemotongan bisa ditekan. Pemungutan dengan cara pemotongan bisa meningkatkan kesuburan tanah, karena akar dan bintil-bintilnya yang menyimpan banyak senyawa nitrat tidak ikut tercabut, tapi tertinggal di dalam tanah. Pada tanah yang keras, pemunguitan dengan vara mencabut sukar dilakukan, maka dengan memotong akan lebih cepat.

Di Kalimantan Barat saat panen, kadang-kadang tidak dapat mengeringkan karena musim hujan tidak dapat diprediksi. Sebelum poanen dilakukan penyemprotan herbisida untuk merontokkan daun, sehingga saat panen daun sudah rontok. Ini dapat mempercepat pengeringan. Perontokan dapat menggunakan power treser (dengan menggunakan mesin) atau dengan cara manual pakai kayu. Perontokan dengan cara manual sebaiknya menggunakan kayu yang tidak bersegi untuk menghindari pecahnya biji akibat pukulan kayu.

B.   Pasca Panen Kedelai

Dalam pasca panen kedelai ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan untuk mendapaykan kuantitas dan kualitas hasil , pada kegiatan pasca panen kegiatan tersbut adalah :

1.    Pengumpulan dan pengeringan

Setalah pemungutan selesai, seluruh hasil panen hendaknya segera di jemur. Kedai dikumpulkan kemudian di jemur di atas tikar, anyaman bambu, atau l;antai semen selama 3 hari. Sesudah kering sempurna dan merata, polong kedelai akan mudah pecah sehingga bijina mudah dikeluarkan. Agar kedelai kering sempurna, pada saat penjemuran hendaknya dilakukan pembalikan berulang kali. Pembalikan juga menguntungkan karena dengan pembalikan banyak polong pecah dan banyak biji lepas dari polongnya. Sedangkan biji-biji masih terbungkus polong dengan mudah bisa dikeluarkan dari polong, asalkan polong sudah cukup kering. Biji kedelai yang akan digunakan sebagai benih, dijemur secara terpisah. Biji tersebut sebenarnya telah dipilih dari tanaman-tanaman yang sehat dan dipanen tersendiri, kemudian di jemur sampai betul-betul kering dengan kadar air 10-15%. Penjemuran benih sebaiknya dilakukan pada pagi hari, dari pukul 10 hingga 12 siang.

2.    Penyortiran dan penggolongan

Terdapat beberapa cara untuk memisahkan biji dari kulit polong. Diantaranya dengan cara memukul-mukul tumpukan brangkasan kedelai secara langsung dengan kayu atau brangkasan kedelai sebelum dipukul-pukul dimasukkan ke dalam karung, atau dirontokkan dengan alat pemotong padi. Setelah biji terpisah, brangkasan disingkirkan. Biji yang terpisah kemudian di tampi agar terpisah dari kotoran-kotoran lainnya. Biji yang luka dan keriput dipisahkan. Biji yang bersih ini selanjutnya dijemur kembali sampai kadar airnya 9-11%. Biji yang sudah kering lalu dimasukkan ke dalam karung dan dipasarkan atau disimpan. Sebagai perkiraan dari batang dan daun basah hasil panen akan diperoleh biji kedelai 18,2%.

3.    Penyimpanan dan pengemasan

Sebagai tanaman pangan, kedelai dapat disimpan dalam jangka waktu cukup lama. Caranya kedelai disimpan di tempat kering dalam karung. Karung-karung kedelai ini ditumpuk pada tempat yang diberi alas kayu agar tidak langsung menyentuh tanah atau lantai. Apabila kedelai disimpan dalam waktu lama, maka setiap 2-3 bulan sekali harus dijemur nlagi sampai kadar airnya 9-11%.

 

Menanam Kedelai (Glycine max) bagian 4 Pemeliharaan Tanaman

12:23 AM Add Comment

 

kedelai

Hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam pemeliharaan tanaman Kedelai adalah sebagai berikut :

1.    Penjarangan dan Penyulaman

Kedelai mulai tumbuh kira-kira umur 5-6 hari. Dalam kenyataannya tidak semua biji yang ditanam dapat tumbuh dengan baik, sehingga akan terlihat tidak seragam. Untuk menjaga agar produksi tetap baik, benih kedelai yang tidak tumbuh sebaiknya segera di ganti dengan biji-biji yang baru yang telah dicampur legin atau nitrogen. Hal ini perlu dilakukan apabila jumlah benih yang tidak tumbuh mencapai lebih dari 10 %. Waktu penyulaman yang baik adalah pada sore hari.

Penjarangan dilakukan dengan menyisakan 2 rumpun dalam 1 lubang tanam, bibit kedelai dipilih yang memiliki pertumbuhan bagus. Penjarangan dilakukan dengan mematahkan tanaman yang akan dibuang, tidak dilakukan pencabutan untuk menghindari kerusakan tanaman yang dipilih untuk dipelihara.

2.    Penyiangan

Menurut Moenandir (1993) penyiangan merupakan cara pengendalian gulma yang sangat praktis, aman, efisien, dan murah jika diterapkan pada suatu area yang tidak luas dan di daerah yang cukup banyak tenaga kerja. Pemilihan waktu penyiangan yang tepat dapat mengurangi jumlah gulma yang tumbuh serta dapat mempersingkat masa persaingan. Kehadiran gulma di sepanjang siklus hidup tanaman budidaya tidak selalu berpengaruh negatif. Terdapat suatu periode ketika gulma harus dikendalikan dan terdapat periode ketika gulma juga dibiarkan tumbuh karena tidak mengganggu tanaman.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Puspita, dkk (2017) komposisi gulma pada pertanaman kedelai Grobogan dan kedelai argomulyo mengalami perubahan komposisi dibandingkan dengan sebelum dilakukan penanaman. Sebelum dilakukan pengolahan lahan, gulma yang dominan di lahan tersebut yaitu gulma berdaun lebar. Setelah dilakukan penanaman kedelai, gulma yang dominan di lahan pertanaman kedelai Grobogan dan kedelai argomulyo yaitu gulma tekian. Lebih lanjut dari hasil penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa tanaman yang disiangi selama masa awal pertumbuhan akan memiliki pertumbuhan tinggi tanaman yang lebih baik dibandingkan dengan tanaman kedelai yang tidak disiangi. Hal ini disebabkan antara gulma dan tanaman kedelai terjadi persaingan dalam memperoleh unsur hara, air, dan faktor tumbuh lainnya

Penyiangan ke 1 pada tanaman kedelai dilakukan pada umur 2-3 minggu. Penyiangan ke 2 dilakukan pada saat tanaman selesai berbunga, sekitar 6 minggu setelah tanam. Penyiangan ke 2 ini dilakukan bersamaan dengan pemupukan ke 2 (pemupukan lanjutan). Penyiangan dapat dilakukan dengan cara mengikis gulma yang tumbuh dengan tangan atau kuret. Apabila lahannya luas, dapat juga menggunakan herbisida. Sebaiknya digunakan herbisida seperti lasso untuk gulma berdaun sempit dengan dosis 4 liter /ha.

Hasil penelitian Latifa, dkk (2015) menunjukkan bahwa, pengolahan tanah tidak berinteraksi dengan metode pengendalian gulma, tanpa olah tanah maupun olah tanah sempurna tidak mempengaruhi bobot kering gulma, pertumbuhan tanaman kedelai maupun hasil tanaman kedelai. Budidaya tanaman kedelai dapat disimpulkan tidak memerlukan pengolahan tanah sempurna. Bobot kering gulma, pertumbuhan tanaman kedelai maupun hasil tanaman kedelai lebih dipengaruhi oleh teknik pengendalian gulma. penyiangan 15+30+45+60 hst adalah perlakuan terbaik dalam pengendalian gulma, yaitu mampu menekan berat kering gulma yaitu sebesar 64.96-88.47%. Perlakuan Herbisida Pra tumbuh Metribuzin 2 l ha-1 dan penyiangan 30 hst adalah perlakuan terbaik dalam meningkatkan komponen pertumbuhan tanaman dan produksi, yaitu mampu meningkatkan luas daun 30% - 45%, berat kering tanaman 55% dan hasil tanaman sebesar 47,29%. Pengendalian gulma dengan mengkombinasikan metode mekanik (penyiangan) dan kimiawi (herbisida) lebih dianjurkan dalam usaha menurunkan populasi gulma guna meningkatkan produktifitas dalam budidaya tanaman kedelai selain perlakuan bebas gulma.

3.    Pembumbunan

Pembumbunan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam agar tidak merusak perakaran tanaman. Luka pada akar akan menjadi tempat penyakit yang berbahaya. Pembumbunan dengan menaikkan tanah disekitar batang tanaman kedelai bertujuan untuk memperkokoh tanaman sehingga tanaman kedelai tidak mudah rebah dan memperkuat pperakaran tanaman.

4.    Pemupukan

Dosis pupuk yang digunakan sangat tergantung pada jenis lahan dan kondisi tanah. Pada tanah subur atau tanah bekas ditanami padi dengan dosis pupuk tinggi, pemupukan tidak diperlukan. Pada tanah yang kurang subur, pemupukan dapat menaikkan hasil. Cara pemupukan dapat dengan cara (1) ditugal dengan jarak 7-10 cm dari pangkal batang, (2) disebar di sepanjang larikan, atau (3) dengan pengocoran/dilarutkan.  Dosis pupuk secara tepat adalah sebagai berikut :

a.    Sawah kondisi tanah subur = pupuk Urea 50 Kg/ha

b.    Sawah kondisi tanah subur sedang = pupuk Urea 50 Kg/Ha, TSP 75 Kg/Ha, dan KCL 100Kg/Ha,

c.     Sawah kondisi tanah subur rendah = Pupuk Urea 100 Kg/Ha, TSP 75 Kg/Ha, dan KCL 100 Kg/Ha,

d.    Lahan kering kondisi tanah kurang subur = Pupuk Kandang 2.000-5.000 Kg/Ha, Urea 50-100 Kg/Ha, TSP 50-75 Kg/Ha, dan KCL 50-75 Kg/Ha.

Sedangkan rekomendasi pemupukan dari hasil penelitian Purnamasari dan Munawwarah (2016) menunjukkan bahwa pengaruh dosis pemupukan memberikan pengaruh yang nyata pada tiga varietas kedelai (Burangrang, Grobogan, dan Anjasmoro), dengan rekomendasi dosis pemupukan, yaitu 75 kg Urea/ha; 100 kg SP-36/ha; 50 kg KCl/ha ditambah 2.000 kg dolomit. Terdapat peningkatan produktivitas kedelai sebesar 50% dibanding rata-rata produktivitas di tingkat petani dengan rasio B/C 2,45

5.    Pengairan dan Penyiraman

Pada awal pertumbuhan (15-21 Hst), saat berbunga (25-35 Hst), dan saat pengisian polong (55-70 Hst) tanaman kedelai sangat peka terhadap kekurangan air. Pada fase tersebut tanaman harus dialiri apabila tidak turun hujan. Pada saat pemberian air, untuk mempercepat peresapan air keseluruh bagian sawah, maka sebagian saluran air ditutup. Kedelai menghendaki kondisi tanah yang lelmab tetapi tidak becek. Kondisi seperti ini dibutuhkan sejak benih ditanam hingga pengisian polong. Saat menjelang panen, tanah sebaiknya dalam keadaan kering. Kekurangan air pada masa pertumbuhan menyebabkan tanaman kerdil, bahkan dapat menyebabkan kematian apabila kekeraingan telah melalui batas toleransinya. Kekeringan pada masa pembungaan dan pengisian polong dapat menyebabkan kegagalan panen.

Di lahan sawah irigasi pemberian air di sawah bisa diatur. Namun bila tidak ada irigasi, penyediaan air hanya dapat dilakukan dengan mengatur waktu tanamnya dan pemberian mulsa. Mulsa berupa jerami padi atau potongan-potongan tanaman lainnya yang dihamparkan pada permukaan tanah. Mulsa ini akan mencegah penguapan air secara berlebihan. Apabila ada irigasi tidak ada hujan selama lebih dari 7 hari, tanah harus dialiri. Caranya tanaman digenangi air selama 30-60 menit. Pengairan seperti ini diulangi setiap 7-10 hari. Pengairan tidak dilakukan lagi apabila polong telah terisi penuh. Pada tanah yang keras (drainase buruk) kelebihan air akan menyebabkan akar membusuk. Di tanah berdrainase buruk harus dibuat saluran drainase di setiap 3-4 meter lahan memanjang sejajar dengan barisan tanaman. Hal ini terutama dilakukan pada saat musim penghujan.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Sarawa Dan Mattola (2014) penyiraman dengan interval 2 hari memberikan pertumbuhan tanaman kedelai yang lebih baik dibandingkan dengan penyiraman dengan interval 4, 6, dan 8 hari dan pemberian pupuk kandang 20 ton ha-1 memberikan pengaruh yang lebih tinggi terhadap pertumbuhan tanaman kedelai. Hasil penelitian tersebut sesuai dengan apa yang telah di teliti oleh Suhartono, dkk (2008) yang menyatakan bahwa interval pemberian air dua hari sekali pada tanah grumusol menujukkan hasil tertinggi pada parameter tinggi tanaman, berat basah tanaman, berat kering tanaman, berat basah polong, berat kering polong dan jumlah polong pertanaman kedelai. Tetapi pada parameter jumlah daun terjadi pada interval pemberian air 1 liter/hari pada tanah grumosol.

6.    Pemeliharaan Lain

Kedelai termasuk tanaman yang membutuhkan banyak sinar matahari, maka tidak membutuhkan tanaman pelindung. Tanaman kedelai yang terlindungi akan selalu muda sehingga proses pembentukan buah kurang baik, dan hasilnya akan sedikit, bahkan tidak berbuah sama sekali. Tanaman kedelai akan rusak bila tertimpa cabang-cabang kering tanaman pelindung yang jatuh.

 

Daftar Pustaka

 

Latifa, Rio Yanuar., Moch. Dawam Maghfoer dan Eko Widaryanto. 2015. Pengaruh Pengendalian Gulma Terhadap Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merril) Pada Sistem Olah Tanah. Jurnal Produksi Tanaman, Volume 3, Nomor 4. 311 - 320

Moenandir, J. 1993. Pengantar ilmu dan pengendalian gulma. PT. Rajawali Press, Jakarta.

Purnamasari ,Muryani dan Munawwarah, Tarbiyatul. 2016. Pengaruh Pemupukan Terhadap Peningkatan Produksi Kedelai Di Kabupaten Kutai Kartanegara. Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil PPM IPB 2016. Hal : 54–61

Puspita, Kurnia Dyah., Dyah Weny Respatie2, dan Prapto Yudono. 2017. Pengaruh Waktu Penyiangan Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Dua Kultivar Kedelai (Glycine max (L.) Merr.). Vegetalika. 2017. 6(3): 24-36

Sarawa, Makmur Jaya Arma, Dan Mattola, Maski. 2014. Pertumbuhan Tanaman Kedelai (Glycine max L. Merr) Pada Berbagai Interval Penyiraman Dan Takaran Pupuk Kandang. Jurnal Agroteknos Vol. 4 No.2 Hal 78-86

Suhartono. R. A., Sidqi Zaed ZM., dan Ach. Khoiruddin. 2008. Pengaruh Interval Pemberian Air Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai (Glicine Max (L) Merril) Pada Berbagai Jenis Tanah. Embryo Vol 5 No 1 Hal. 98-112

 

Menanam Kedelai (Glycine max L.) Bagian 3 Penanaman

7:49 PM Add Comment

 

penanaman kedelai dengan tugal. Sumber : Subaedah, dkk (2019)

Ada beberapa tahapan yang dilakukan untuk menanam kedelai, tahapan tersebut adalah sebagai berikut :

1.    Penentuan pola tanam

Jarak tanam pada penanaman dengan membuat tugalan berkisar antara 20-40cm. jarak tanam yang bisa dipakai adalah 30x20cm, 25x25cm, atau 20x20cm. jarak tanam hendaknya teratur, agar tanaman memperoleh ruang tumbuh yang seragam dan mudah disiangi. Jarak tanam kedelai tergantung pada tingkat kesuburan tanah dan sifat tanaman yang bersangkutan. Pada tanah yang subur jarak tanam lebih renggang, dan sebaliknya pada tanah yang tandus jarak tanam dapat dirapatkan. Jarak tanam menentukan populasi tanaman dan kebutuhan benih/Ha.

Pernyataan di atas sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Subaedah, dkk (2019) jarak tanam yang digunakan 40 cm x 20 cm atau 40 cm x 15 tergantung dari tingkat kesuburan tanah dan umur tanaman. Semakin tinggi kesuburan tanah, sebaiknya jarak tanam yang digunakan yang lebih renggang begitu pula sebaliknya semakin rendah tingkat kesuburan tanah sebaiknya menggunakan jarak tanam yang lebih rapat. Begitu pula pada umur varietas, varietas yang umur pendek (genjah), sebaiknya menggunakan jarak tanam yang lebih rapat (40 cm x 15 cm), dan varietas yang umur dalam (umur panjang), jarak tanam yang digunakan lebih renggang (40 cm x 20 cm).

Jarak tanam (cmxcm)

Kebutuhan Benih (Kg)

20x20

50

45

40

35

25x25

32

29

26

22

10x40

50

45

40

35

20x40

25

23

20

18

15x35

38

34

31

27

 

2.    Pembuatan lubang tanam

Jika areal luas dan pengolahan tanah dilakukan dengan pembajakan, penanaman benih dilakukan menurut alur bajak sedalam kira-kira 5cm. sedangkan jarak antara alur yang satu dengan yang lain dapat dibuat 50-60cm, dan untuk alur ganda jarak tanam dibuat 20cm. Jarak tanam ini merupakan faktor yang penting dalam mendukung pertumbuhan tanaman. Menurut Irwan, dkk (2019) apabila jarak tanam yang diaplikasikan sudah tepat, berarti semua faktor pembatas pertumbuhan seperti ruang tumbuh, ketersediaan unsur hara, cahaya dan sebagainya menjadi minimum, artinya tanaman berada pada kondisi optimal untuk melakukan proses metabolisme.

Hasil penelitian di atas sesuai dengan apa yang pernah diteliti oleh Radjit, dkk (1986) pada populasi 250.000 tanaman/Ha, pengurangan jarak antar baris dari 80 cm menjadi 40 cm meningkatkan hasil biji, namun pada populasi > 250.000 tanaman/Ha mempersempit jarak antar baris tidak berpengaruh terhadap hasil. Hal ini berkaitan dengan indeks luas daun, dimana pada populasi 250.000 tanaman/Ha indek luas daun nyata lebih tinggi pada jarak 40 cm dibandingkan jarak 80 cm, namun pada populasi tinggi indeks luas daun tidak berbeda. Pernyataan tersebut diperkuat dengan hasil penelitian dari Widyaningrum, dkk (2018) hasil pengamatan luas daun menunjukkan bahwa penggunaan jarak tanam 20cm x 40 cm varietas grobogan menghasilkan luas daun yang nyata lebih tinggi 43% jika dibandingkan dengan jarak tanam 20cm x 20 cm, akan tetapi hal tersebut menunjukan luas daun yang tidak berbeda nyata dengan jarak tanam 20cm x 20 cm.

Laju fotosintesis tanaman ditentukan oleh besarnya luas daun dari tenaman tersebut. Semakin besar luas daun, maka cahaya matahari yang diserap semakin optimal yang dapat meningkatkan laju fotosistesis sehingga dapat meningkatkan produksi bionassa yang lebih tinggi.

Jarak tanam (cmxcm)

Lubang tanam

20x20

250.000

225.000

200.000

175.000

25x25

160.000

144.000

144.000

112.000

10x40

250.000

225.000

225.000

175.000

20x40

125.000

112.500

112.500

87.500

15x35

190.476

171.429

171.429

133.333

 

3.    Cara penanaman

Sistem penanaman yang biasa dilakukan adalah :

a.    Sistem tanam tunggal

Dalam sistem ini, seluruh lahan ditanami kedelai dengan tujuan memperoleh produksi kedelai baik mutu maupun jumlahnya. Kedelai yang ditanam dengan sistem ini, membutuhkan lahan kering namun cukup mengandung air, seperti tanah sawah bekas ditanami padi rendeng dan tanah tegalan pada permulaan musim penghujan. Kelebihan lainnya ialah memudahkan pemberantasan hama dan penyakit. Kelemahan sistem ini adalah penyebaran hama dan penyakit kedelai relative cepat, sehingga penanaman kedelai dengan sistem ini memerlukan perhatian khusus. Jarak tanam kedelai sebagai tanaman tunggal adalah : 20x20cm; 20x35cm; dan 20x40 cm. Menurut penelitian Irwan, dkk (2019) jarak tanam 20 X 20 X 40 cm memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap jumlah biji per tanaman, bobot biji per tanaman, dan indeks panen.

b.    Sistem tanam campuran

Dengan sistem ini harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

1)    Umur tanaman tidak jauh beda

2)    Tanaman yang satu tidak mempunyai sifat mengalahkan tanaman yang lain

3)    Jenis hama dan penyakit sama atau salah satu tanaman tahan terhadap hama dan penyakit,

4)    Kedua tanaman merupakan tanaman palawija, misalnya kedelai dengan kacang tunggak/kacang tanah, kedelai dengan jagung, kedelai dengan ketela pohon.

c.     Sistem tanam tumpangsari

Sistem ini biasa diterapkan pada tanah yang mendapatkan pengairan terus menerus sepanjang waktu, misalnya tanah sawah yang memiliki irigasi teknis. Untuk mendapatkan kedelai yang bermutu baik, biasanya kedelai ditanam bersamaan. Tumpangsari merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produksi kedelai melalui peningkatan produktivitas lahan dengan penanaman dua jenis tanaman atau lebih yang diusahakan bersama-sama pada suatu lahan dan waktu yang sama.

Tumpangsari ini dapat dilakukan dengan berbagai tanaman antara lain tebu. Dari hasil penelitian Rahmasari, dkk (2016) tanaman kedelai pada jarak tanam 30 cm x 30 cm yang di kombinasikan dengan waktu tanam 2 minggu sebelum tanam tebu menghasilkan luas daun, bobot polong, dan bobot biji tertinggi.

4.    Waktu Tanam

Pemilihan waktu tanam kedelai ini harus tepat, agar tanaman yang masih muda tidak terkena banjir atau kekeringan. Karena umur kedelai menurut varietas yang dianjurkan berkisar antara 75-120 hari, maka sebaiknya kedelai ditanam menjelang akhir musim penghujan, yakni saat tanah agak kering tetapi masih mengandung cukup air. Waktu tanam yang tepat pada masing-masing daerah sangat berbeda. Sebagai pedoman bila ditanam di tanah tegalan, waktu tanam terbaik adalah permulaan musim penghujan. Bila ditanam di tanah sawah, waktu tanam paling tepat adalah menjelang akhir musim penghujan. Di lahan sawah dengan irigasi, kedelai dapat ditanam pada awal sampai peertengahan musim kemarau.

Pernyataan di atas sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (2015) pada lahan sawah, kedelai biasanya ditanam pada musim kemarau pertama (MKI) yang ditanam setelah panen padi pertama atau pada musim kemarau ke dua (MKII) yang ditanam setelah panen padi ke dua. Disamping itu, budidaya kedelai yang dilakukan pada awal musim penghujan, ditanam sebelum tanaman padi, misalnya di Kabupaten Grobogan. Kedelai MK I masa tanamnya antara Februari-Juni, kedelai MK II antara Juni-September, dan kedelai awal musim penghujan antara Oktober-Januari.  

 

Daftar Pustaka

Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. 2015. Panduan Teknis Budidaya Kedelai di Berbagai Agroekosistem. Balitkabi. http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2018/02/Panduan-Teknis-Budidaya-Kedelai-di-Berbagai-Kawasan-Agroekosistem.pdf (15 Mei 2021)

Irwan, A.W. ∙ A. Wahyudin ∙ T. Sunarto. 2019. Respons kedelai akibat jarak tanam dan konsentrasi giberelin pada tanah inceptisol Jatinangor. Jurnal Kultivasi Vol. 18 (2) 924-932

Rahmasari , Dewi Ayu., Sudiarso dan Husni Thamrin Sebayang. 2016. Pengaruh Jarak Tanam Dan Waktu Tanam Kedelai Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Kedelai (Glycine max ) Pada Baris Antar Tebu (Saccharum officinarum L.). Jurnal Produksi Tanaman Vol. 4 No. 5, Juli 2016: 392-398

Radjit, B.S., A. Mardjuki dan Soenjoto. 1986. Tanggapan Kedelai Terhdap Jarak Antar Baris dan Populasi Pada Kondisi Kering. Pen. Palawija I (2): 64-71.

Subaedah, St., Netty S.Said., dan Andi Ralle.2019. Petunjuk Teknis Budidaya Kedelai Di Lahan Sub Optimal. Fakultas Pertanian Universitas Muslim Indonesia. Makassar. https://www.umi.ac.id/wp-content/uploads/2019/12/BUKU-TTG.pdf  (15 Mei 2021)

Widyaningrum, Intan., Agung Nugroho., dan Y.B. Suwarso Heddy. 2018. Pengaruh Jarak Tanam dan Varietas Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai (Glycine max L.). Jurnal Produksi Tanaman. Vol 6 No. 8  1796-1802.

 

PANEN DAN PASCA PANEN JAGUNG

9:24 AM Add Comment

 

tanaman jagung siap panen

Pada saat penanaman jagung di lahan, produksi yang maksimal merupakan tujuan uatamanya ditandai dengan hasil dari ubinan. Hal tersebut berbeda ketika penangan panen dan pasca panen, bukan hanya produksi tinggi yang menjadi tujuannya, tetapi juga mutu maksimal. Walaupun produksinya tinggi, tetapi dalam penanganan panen dan pasca panen kurang tepat, maka mutu biji jagung akan kurang baik sehingga akan berpengaruh terhadap harga jual.

Penyataan tersebut juga sejalan dengan apa yang disampaikan oleh (Firmansyah, dkk., 2007) jagung mempunyai banyak permasalahan pascapanen yang apabila tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan kerusakan dan kehilangan. Permasalahan antara lain adalah  :

1.    Susut Kuantitas dan Mutu. Kehilangan hasil jagung pada pascapanen dapat berupa kehilangan kuantitatif dan kualitatif. Kehilangan kuantitatif merupakan susut hasil  akibat tertinggal di lapang waktu panen, tercecer saat pengangkutan, atau tidak terpipil. Kehilangan kualitatif merupakan penurunan mutu hasil akibat butir rusak, butir berkecambah, atau biji keriput selama proses pengeringan, pemipilan, pengangkutan atau penyimpanan.

2.    Keamanan Pangan. Penundaan penanganan pascapanen jagung berpeluang meningkatkan infeksi cendawan. Penundaan pengeringan paling besar kontribusinya dalam meningkatkan infeksi cendawan Aspergillus flavus yang bisa mencapai di atas 50%. Cendawan tersebut menghasilkan mikotoksin jenis aflatoksin yang bersifat mutagen dan diduga dapat menyebabkan kanker esofagus pada manusia (Weibe and Bjeldanes 1981). Toksin yang dikeluarkan oleh cendawan tersebut juga berbahaya bagi kesehatan ternak. Salah satu cara pencegahannya adalah mengetahui secara dini kandungan mikotoksin pada biji jagung.

3.    Ketersediaan Sarana Prosesing. Permasalahan lain dalam penanganan pascapanen jagung di tingkat petani adalah tidak tersedianya sarana prosesing yang memadai, padahal petani umumnya memanen jagung pada musim hujan dengan kadar air biji di atas 35%. Oleh karena itu, diperlukan inovasi teknologi prosesing yang tepat, baik dari segi peralatan maupun sosial dan ekonomi.

Oleh karena itu Penanganan pascapanen merupakan upaya yang sangat strategis dalam rangka mendukung ketahanan pangan nasional karena mempunyai peranan yang cukup besar baik secara langsung maupun tidak langsung dalam meningkatkan kuantitas maupun kualitas hasil pertanian. Secara langsung, penanganan pascapanen memiliki peranan dalam menekan kehilangan hasil, memperbaiki mutu hasil dan meningkatkan nilai tambah, daya saing serta pendapatan petani (Departemen Pertanian, 2011).

Panen jagung dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

1.    Ketika tongkol sudah mulai berisi, daun di bawah tongkol dapat diambil dan dimanfaatkan untuk pakan sapi atau dikomposkan untuk mengurangi sumber inoculum penyakit bercak dan hawar daun yang kemudian dimanfaatkan sebagai salah satu sumber pupuk organik. Sebelum tongkol dipanen, kegiatan bisa dilanjutkan dengan pemangkasan bagian tanaman di atas tongkol untuk menurunkan kadar air tongkol dan pangkasan ini juga dapat digunakan sebagai pakan ternak atau sumber pupuk organik. Seresah jagung memiliki kandungan P dan K yang relative tinggi.

Tongkol jagung dipanen apabila telah mencapai masak fisiologis yang ditandai dengan mengeringnya kelobot atau berwarna coklat. Selain kadar air yang telah mencapai kurang lebih 30% yang ditandai dengan biji telah mengeras dan telah terbentuk lapisan hitam minimum 50% di setiap barisan biji. Pemanenan dilakukan pada konsisi cerah untuk menghindari infeksi cendawan paska panen seperti Aspergillus flapus. Darwis (2018) juga menjelaskan ciri-ciri jagung yang siap panen secara visual bila : (a) batang, daun dan kelobot berubah menjadi kuning atau telah mengering, (b) klobot kering berwarna kuning dan bila dikupas biji mengkilap, (c) bila biji ditekan dengan kuku tidak berbekas dan (d) terdapat bintik hitam pada bagian biji yang melekat pada tongkol.

Waktu pemanenan menjadi penting karena:

a)  Waktu panen menentukan mutu biji jagung. Pemanenan yang terlalu awal menyebabkan banyaknya butir muda sehingga kualitas dan daya simpan biji rendah. Sebaliknya, pemanenan yang terlambat menyebabkan penurunan kualitas dan peningkatan kehilangan hasil akibat cuaca yang tidak menguntungkan atau serangan hama dan penyakit di lapang.

b) Penggunaan jagung sebagai pakan ternak dapat menimbulkan masalah, jika proses pengeringan dan penanganan pasca panen tidak dilakukan dengan baik. Pada saat dipanen jagung masing mengandung air yang cukup tinggi, sekitar 30-40 % dan jamur akan mudah berkembang biak, sehingga jagung sering terkontaminasi oleh mikotoksin dan/atau terjadi proses perombakan lemak. Hal ini akan diperparah oleh kondisi cuaca yang kurang baik pada saat panen dan serangan hama yang terjadi selama proses pemeliharaan. Disamping palatabilitasnya menurun, jagung yang terkontaminasi dengan jamur mengandung mikotoksin, sehingga berpengaruh negatif terhadap produktivitas ternak dan keamanan produk ternak sebagai bahan pangan untuk manusia (Khalil dan S. Anwar, 2006).

2.    Tahap berikutnya adalah penjemuran tongkol sampai kadar air biji mencapai kurang lebih 20% dan dipipil dengan menggunakan alat pemipil. Biji pipillan ini kembali dijemur sampai kadar air sekitar 14%. Bila kondisi cuaca terus mendung sehingga tidak memungkinkan untuk menurunkan kadar air biji, maka untuk mempercepat pengeringan bisa digunakan alsin pengerin. Alsin pengering bertipe flat blade yang berbahan bakar minyak tanah/ solar bisa digunakan. Tetapi menurut penelitian dari Khalil dan S. Anwar (2006) proses pengeringan jagung secara alami dengan menggunakan sinar matahari masih lebih layak jika dibandingkan dengan menggunakan alat pengering buatan, karena lebih praktis dan biaya lebih murah.

Pengeringan adalah upaya untuk menurunkan kadar air biji jagung agar aman disimpan. Kadar air biji yang aman untuk disimpan berkisar antara 12-14%. Pada saat jagung dikeringkan terjadi proses penguapan air pada biji karena adanya panas dari media pengering, sehingga uap air akan lepas dari permukaan biji jagung ke ruangan di sekeliling tempat pengering (Brooker et al. 1974) dalam Firmansyah, dkk ( 2007).

Menurut Prastowo dkk ( 1998) cara penjemuran jagung yang umum dilakukan petani adalah:

a)    Dikeringkan langsung bersama tongkol setelah panen;

b)    Dikeringkan setelah dirontok atau dipisahkan dari janggel;

c)   Tongkol dikupas dan dikeringkan terlebih dahulu selama dua hari untuk mencapai kadar air <20%, dirontok, kemudian dikeringkan lagi;

d)   Penundaan pengeringan dan jagung langsung dikarungkan, disimpan 1-2 hari, dipipil dan dijual;

e)    Tanpa dikeringkan.

Pengeringan langsung di lapang dengan membiarkan tongkol tetap pada tanaman selama 7-14 hari. Cara ini sudah dilakukan oleh banyak petani yang menanam jagung hibrida (tinggi tongkol dari permukaan tanah seragam), khususnya pertanaman musim kemarau. Pengeringan dengan cara ini dapat menurunkan kadar air biji sampai 18%.

Parameter kualitas jagung yang telah dikering didasarkan pada: warna, kekerasan bagian lembaga dan kontaminasi jamur. Jagung yang dipanen pada umur yang tepat dan mengalami proses pengeringann yang memadai akan terlihat berwarna cerah, tidak terkontaminasi jamur serta bagian lembaganya (ujung butiran) terasa keras jika ditekan (Khalil dan S. Anwar, 2006). Setelah kering biji jagung yang dianggap baik harus dipisahkan sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, kotoran lainnya yang terbawa sewaktu panen dan pemipilan. Hal ini penting untuk menekan serangan cendawan dan hama serta memperbaiki sirkulasi udara di penyimpanan. Menurut Adiputra(2020) Kadar air jagung pada saat dipipil berpengaruh terhadap butir utuh, butir pecah, dan kotoran, terutama pada saat pemipilan dengan mesin pemipil (corn sheller). Makin rendah kadar air makin tinggi presentase butir utuh, dan makin tinggi presentase kotoran.

3.    Untuk biji yang akan digunakan sebagai sumber benih diperlukan benih yang memiliki ukuran yang relative sama. Oleh karena itu pemisahan harus didasarkan pada ukuran biji. Biji yang sama ini penting terutama untuk penanaman yang menggunakan mesin penanam. Proses pemisahan biji jagung dengan kotoran bisa dilakukan dengan cara ditapi seperti yang dilakukan pada padi.

 

 

Daftar Pustaka

Adiputra, Rachmat. 2020. Evaluasi Penanganan Pasca Panen Yang Baik Pada Jagung (Zea mays L). Jurnal Agrowiralodra. V o l u m e 3 , N o m o r 1 23-28

Darwis, Valeriana. 2018. Potensi Kehilangan Hasil Panen Dan Pasca Panen Jagung Di Kabupaten Lampung Selatan. Journal of Food System and Agribusiness Vol. 2 (1): 55-67

Departemen Pertanian. (2011). Teknologi Pascapanen Jagung dan Serealia Lain Tahun 2011.http://tanamanpangan.deptan.go.id/doc_upload/T eknologi%20PP%20jagung.pdf. (14 Mei 2021).

Firmansyah I. U, M. Aqil, dan Yamin Sinuseng. (2007). Penanganan Pascapanen Jagung. http://balitsereal.litbang.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2016/11/duasatu.pdf. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros. (14 Mei 2021).

Khalil dan S. Anwar. 2006. Penanganan Pascapanen dan Kualitas Jagung sebagai Bahan Pakan di Kabupaten Pasaman Barat. Jurnal Peternakan Indonesia., 11(1):36-45.

Prastowo, B,. I G.P. Sarasutha, T.M. Lando, Zubachtirodin, B. Abidin, dan R.H. Anasiru. 1998. Rekayasa Teknologi Mekanis Untuk Budi Daya Tanaman Jagung Dan Upaya Pascapanennya Pada Lahan Tadah Hujan. Jurnal Engineering Pertanian 5(2):39-62.