Showing posts with label Kehutanan. Show all posts
Showing posts with label Kehutanan. Show all posts

SUMUR RESAPAN PADA USAHATANI

8:58 PM Add Comment


Sumur resapan dapat dipadukan dengan usahatani dengan konsep usahatani konservasi. Sistem ini relative mudah serta tidak perlu mengelurkan dana dan tenaga secara khusus. Penerapan sistem ini disamping sebagai upaya konservasi air atanah dan pencegahan banjir, juga dapat meningkatkan produktivitas pertanian dan menekan laju erosi. Khususnya pada pertanian sayuran yang berlokasi di daerah pegunungan. Daerah-daerah sayuran dataran tinggi umumnya berada dalam wilayah pengaruh aktivitas gunung berapi, baik yang masih aktif ataupun yang sudah tidak aktif.  

Jenis -jenis tanah utama yang umum dijumpai adalah andisol dan entisol, biasa dijumpai pada ketinggian di atas 1.000 mdpl, serta inceptisol pada ketinggian 700-1.000 mdpl. Sifat tanah umumnya baik yaitu struktur tanah remah/gembur sampai lepas dengan kedalaman tanah dalam, drainase baik dan porositas tinggi. Kesuburan tanah pada dataran tinggi lebih baik dibandingkan dengan jenis tanah mineral lainnya, dan tergolong tinggi. Hal tersebut disebabkan karena tanah terbentuk dari bahan volkan dengan bahan aktif dan kandungan fosfor tinggi, dan secara umum kapsitas tukar kation tanah andisol biasanya tinggi ditandai dengan C-organik yang tinggi. Tanah di dataran tingggi khususnya andisol memiliki sifat tiksotropik (tanah licin dan berair jika diplirid), mengindikasikan tanahnya mengandung fraksi debu lebih banyak dibandingkan mineral lainnya. Tanah dengan kdandungan debu tinggi memiliki kepekaan terhadap erosi lebih tinggi, atau rentan terhadap erosi (Morgan, 1979). Oleh karena itu penting untuk melakukan konservasi lahan pertanian khususnya di dataran tinggi melalui sumur resapan. Adapun model sumur resapan yang dipadukan dengan usaha tani, yaitu guludan bersekat, guludan berorak dan parit bedeng bersekat.

1.    Guludan bersekat

Guludan bersekat dibuat dengan cara meninggikan tanah membentuk guludan yang tingginya 30-50 cm dengan arah guludan memotong lereng. Pada parit-parit duludan tersebut dibuat sekat-sekat dari guludan tanah kecil. Guludan utama ditanami tanaman produktif. Dengan cara demikian air hujan akan tertahan dalam lembah-lembah guludan yang akhirnya dapat meresap ke dalam tanah.

guludan bersekat

2.    Guludan berorak

Guludan berorak prinsipnya sama dengan guludan bersekat. Cara pembuatannya sama dengan guludan yang memotong lereng. Ketinggian guludan antara 30-50 cm. pada lembah, diantara guludan dibuat galian berupa rorak-rorak yang ukurannya 30-50 cm serta jarak antara lubang 5-10 meter. Pada periode waktu tertentu, rorak akan terisi oleh tanah atau serasah tanaman. Agar rorak dapat berfungsi secara terusmenerus, bahan-bahan yang masuk ke rorak perlu diangkat ke luar atau dibuat rorak yang baru.

Rorak juga sering disebut dengan saluran/parit buntu adalah suatu bangunan berupa got/ saluran buntu dengan ukuran tertentu yang dibuat pada bidang olah teras dan sejajar garis kontur yang berfungsi untuk menjebak/ menangkap aliran permukaan dan juga tanah yang tererosi. Tujuan Kegiatan pembuatan rorak adalah : 1) Untuk mencegah disposisi/transportasi partikel tanah oleh erosi dan aliran permukaan (run off) 2) Menampung air hujan yang jatuh dan aliran permukaan dari bagian atas, serta partikel tanah yang tererosi dari bagian atasnya. 3) Untuk mengembalikan produktivitas lahan, produksi usahatani dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani. Air yang masuk ke dalam rorak akan tergenang untuk sementara dan secara perlahan akan meresap ke dalam tanah, sehingga pengisian pori tanah oleh air akan lebih tinggi dan aliran permukaan dapat dikurangi.

Sedang wilayah yang menjadi sasaran kegiatan pembuatan rorak adalah lahan kering yang merupakan lokasi pengembangan usahatani konservasi lahan terpadu dan atau lahan-lahan kering berlereng yang memiliki potensi untuk pengembangan pertanian. Rorak juga cocok untuk daerah dengan tanah berkadar liat tinggi dimana daya serap atau infiltrasinya rendah dan curah hujan tinggi pada waktu yang pendek. Saluran buntu merupakan bentuk lain dari rorak dengan Panjang beberapa meter. Perlu diingat bahwa dalam pembuatan rorak atau saluran buntu, air tidak boleh tergenang terlalu lama (berhari-hari) karena dapat menyebabkan terganggunya pernafasan akar tanaman dan berkembangnya berbagai penyakit pada akar.

guludan berorak

3.    Parit bedengan bersekat

Parit di lahan pertanian juga dapat dijadikan sumur atau tempat resapan air hujan. Agar dapat berfungsi juga untuk meresapkan air hujan, harus dibuat sekat-sekat pada parit-parit tersebut. Dengan demikian, air hujan dapat ditampung dan diresapkan ke dalam tanah. Model ini cocok diterapkan di lahan kering. Pada lahan miring dibuat teras dengan parit bersekat di bawahnya. Kedalaman parit adalah 40-50 cm, sedangkan sekatnya dibuat dengan ketinggian 20-30cm sehingga air tetap dapat melimpas bila kebanyakan tanpa menganggu tanaman.

Hasil penelitian teknik konservasi tanah berupa bedengan selebar 70-120 cm yang dibuat Panjang masimum 4-5 meter searah lereng dipotong teras gulud, dan bedengan searah kontur mampu menghambat lajui aliran permukaan dan erosi. Erosi pada kedua macam bedengan tersebut berkurang 50-70% pada bedengan 4-5 meter Panjang searah lereng, dan 90-95% pada bedengan searah kontur (Kurnia, Undang., dkk, 2019).

parit bedengan bersekat

 

Daftar Pustaka

Kurnia, Undang, dkk. 2019. Teknologi konservasi Tanah Pada Budidaya Sayuran dataran Tinggi. https://balittanah.litbang.pertanian.go.id/ind/dokumentasi/buku/lahankering/berlereng6.pdf . Diakses 30 Mei 2021

Kusnaedi. 2011. Sumur Resapan Untuk Pemukiman Perkotaan dan Pedesaan. Penebar Swadaya

Morgan R. P. C. 1979. Soil Erosion. Topic in Applied Geography. Longman- London and New York.

 

MEMBUAT LUBANG RESAPAN BIOPORI

11:03 PM Add Comment


pipa biopori

Teknik pembuatan lubang resapan biopori(LRB) sangat sedehana, sehingga membuat LRB dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif sumur resapan yang dibuat secara individual dengan biaya yang lebih murah dan lebih praktis. Walaupun diameternya cukup kecil bila dibandingkan dengan jenis sumur resapan lainnya, tetapi lokasi lubang tidak boleh dibuat disembarang tempat. Selain harus indah dilihat LRB juga harus ditempatkan di lokasi yang dilalui air serta tidak membahayakan bagi manusia dan hewan peliharaan. Beberapa lokasi yang dapat dipilih yaitu di sekeliling pohon, tempat yang selalu tergenang air jika hujan, dan tepi taman. Lubang biopori ini juga sangat cocok di terapkan di perkotaan yang mangalami kerawanan banjir untuk mempercepat penyerapan air ke dalam tanah.

Pada umumnya, bahan yang perlu disiapkan untuk membuat lubang resapan biopori hanya berupa sampah organik (daun/ranting kering) dan air saja. Sementara itu, beberapa peralatan yang digunakan untuk membuat Iubang resapan biopori yaltu bor tanah (bor biopori), pisau, ember, gayung paralon dan tutup paralon khusus untuk biopori yang bisa dibeli di toko online atau bisa membuat sendiri.

Cara pembuatannya adalah sebagai berikut :

1.    Siapkan seluruh bahan dan peralatan yang diperlukan serta tentukan lokasi pembuatan LRB. Kemudian sebelum memulai pemboran, siram tanah terlebih dahulu dengan air agar menjadi lunak.

2.    Selanjutnya, mulailah membuat lubang dengan menggunakan bor

3.    Setelah bor masuk sedalam 20 cm atau setelah mata bor terlihat penuh dengan tanah, tarik bor keluar dan bersihkan dengan menggunakan pisau, sepotong kayu/bambu atau sendok semen. Begitu seterusnya sampai kedalaman yang diinginkan, yaitu 100 cm.

4.    Setelah lubang biopori siap masukkan sampah organik ke dalam lubang sampai penuh. Pengisian sampah jangan terlalu padat agar tidak mengurangi jumlah oksigen di dalam tanah

Lubang resapan biopori dapat diperkuat dengan memasang paralon pada mulut lubang atau adukan semen. Kemudian untuk memperindah LRB dapat juga ditambahkan hiasan pada permukaan adukan semen, bisa berupa batu hias, batu alam, atau pecahan keramik. Sementara itu, LRB dapat ditutup dengan tutup paralon khusus untuk lubang biopori yang sudah diberikan lubang atau menggunakan besi beton agar tidak membahayakan bagi yang lalu lalang. Alat penutup yang digunakan harus bisa dilalui air dan cukup kuat menahan beban jika terinjak.

biopori yang sudah jadi

 

CARA MENJERNIHKAN AIR YANG KOTOR

9:21 PM Add Comment

 Ada beberapa cara yang bisa di coba untuk menjernihkan air menggunakan saringan dengan bahan yang mudah ditemui di sekitar rumah, berikut cara-cara tersebut :

1.    Saringan Pasir Lambat

Saringan pasir lambat merupakan saringan air yang dibuat dengan menggunakan lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Air bersih didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati lapisan pasir terlebih dulu, yang kemudian melewati lapisan kerikil. Kerikil yang digunakan terdiri dari tiga tingkatan, yaitu pada lapisan bawah diameter kerikil antara 16-32 mm. Pada lapisan kedua diameter kerikil berkisar antara 8-16 mm dan pada lapisan ketiga diameter kerikil berkisar antara 2-8 mm. Intinya, penyusunan lapisan kerikil harus dari diameter yang paling besar ke diameter yang paling kecil.

Ada dua Jenis proses penyaringan yang terjadi pada Saringan Pasir Lambat, yakni secara fisika dan biologi. Partikel-partikel yang ada dalam sumber air yang keruh secara fisik akan tertahan oleh lapisan pasir pada SPL. Disisi lain, bakteri-bakteri dari genus Pseudomonas dan Trichoderma akan tumbuh dan berkembang biak. Pada saat proses filtrasi dengan debit air lambat (100-200 liter/jam/m2 luas permukaan saringan), patogen yang tertahan oleh saringan akan dimusnahkan oleh bakteri-bakteri tersebut.

Jika ingin membuat Saringan Pasir Lambat dalam skala besar, dapat dibuat dengan menggunakan batu bata atau batu kali yang diplester dengan ukuran lebar 1,75 meter panjang 2 meter dan tinggi 1 meter. Sebagai media penyaring adalah pasir setinggi 60 cm dan papan sebagai penyangga media pasir, sehingga ada ruang kosong antara media pasir dengan dasar bak.

Gambar Saringan Pasir Lambat

Bagian-bagian SPL:

1.       Pipa inlet diameter 1 inchi

2.       Pipa outlet diameter 1 inchi

3.       Pipa penguras diameter 3 inchi

4.       Pasir sebagai media penyaring

5.       Papan sebagai penyangga media

Secara berkala pasir dan kerikil dari SPL harus selalu dibersihkan. Hal ini untuk menjaga agar kualitas air bersih yang dihasilkan selalu terjaga dan yang terpenting adalah tidak terjadi penumpukan patogen atau kuman pada saringan. Untuk disinfeksi kuman yang terkandung dalam air dapat menggunakan berbagai cara seperti khlorinasi, brominasi, ozonisasi, penyinaran ultraviolet ataupun menggunakan aktif karbon. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya air hasil penyaringan dimasak terlebih dahulu hingga mendidih sebelum dikonsumsi.

2.    Saringan Pasir Cepat

Saringan Pasir Cepat seperti halnya Saringan Pasir Lambat, terdiri atas lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Tetapi arah penyaringan air terbalik bila dibandingkan dengan Saringan Pasir Lambat, yaitu dari bawah ke atas (up flow). Air bersih didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati lapisan kerikil terlebih dahulu baru kemudian melewati lapisan pasir.

Seperti halnya Saringan Pasir Lambat, lapisan kerikil pada Saringan Pasir Cepatpun sama, yaitu dari bawah ke atas terdiri dari kerikil dengan diameter yang besar ke kerikil dengan diameter kecil. Kelemahan saringan ini adalah kurang efektif untuk mengatasi bau dan rasa yang ada pada air yang disaring. Selain itu karena debit air yang cepat, lapisan bakteri yang berguna untuk menghilangkan patogen tidak akan terbentuk sebaik apa yang terjadi di Saringan Pasir Lambat. Sehingga akan membutuhkan proses disinfeksi kuman yang lebih intensif.

3.    Gravity-Fed Filtering System

Gravity-Fed Filtering System merupakan gabungan dari Saringan Pasir Cepat(SPC) dan Saringan Pasir Lambat(SPL). Air bersih dihasilkan melalui dua tahap. Pertama-tama air disaring menggunakan Saringan Pasir Cepat. Air hasil penyaringan tersebut kemudian disaring kembali menggunakan Saringan Pasir Lambat. Dengan adanya dua kali penyaringan diharapkan kualitas air bersih yang dihasilkan dapat lebih baik. Untuk mengantisipasi debit air hasil penyaringan yang keluar dari Saringan Pasir Cepat, dapat digunakan beberapa saringan.

Gambar Grafity Fed Filtering System

4.    Saringan Arang

Saringan Arang dapat dikatakan sebagai saringan pasir arang dengan tambahan satu buah lapisan arang. Lapisan Arang ini sangat efektif dalam menghilangkan bau dan rasa yang ada pada air baku karena sifat arang dapat menyerap bakteri dan logam berat. Arang yang digunakan dapat berupa arang kayu atau arang batok kelapa. Untuk hasil yang lebih baik dapat digunakan arang aktif. 

5.    Saringan Air Sederhana atau Tradisional

gambar : saringan sederhana

Saringan Air Sederhana atau Tradisional merupakan modifikasi dari saringan pasir arang dan saringan pasir lambat. Pada saringan tradisional ini selain menggunakan pasir, kerikil, batu dan arang juga ditambah satu buah lapisan ijuk yang berasal dari sabut kelapa. Saringan air sederhana dapat disusun seperti pada gambar

lapisan paling bawah adalah batu koral, lapisan selanjutnya adalah ijuk, lalu arang pada lapisan ketiga. Di atas arang dapat diletakkan kerikil sebagai lapisan keempat dan pasir sebagai lapisan kelima kemudian letakkan kembali kerikil sebagai lapisan paling atas. Ijuk bersifat menyaring kotoran pada air yang berukuran besar, sedangkan arang bersifat menyerap kotoran air yang ukurannya kecil.

Untuk tempat saringan anda dapat menggunakan tong, drum, ember, ataupun sambungan kaleng/sambungan botol Plastik. Sedangkan ukuran lapisan saringan anda dapat sesuaikan dengan masalah yang anda hadapi. Saringan dapat dibuat dengan menggunakan 25 cm untuk ijuk dan arang aktif/ arang batok kelapanya. Sebab salah satu kegunaan arang adalah untuk mengurangi/menghilangkan bau. Bila masalah yang dihadapi cukup berat, dapat dicoba dengan menambahkan satu buah lapisan batu zeolit.

Hal yang perlu diketahui bahwa setelah saringan dibuat, air yang dihasilkan awalnya tidak terlalu jernih, tetapi lama kelamaan air yang keluar akan menjadi jernih. Selain itu, aturlah debit air yang masuk tangki saringan (keluaran dan tangki pengendapan) agar tidak lebih besar dari debit air yang keluar dari saringan (air bersih).

6.    Saringan Keramik

Saringan keramik dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama sehingga dapat dipersiapkan dan digunakan untuk keadaan darurat. Air bersih didapatkan dengan jalan penyaringan melalui elemen filter keramik, Beberapa filter kramik menggunakan campuran perak yang berfungsi sebagai disinfektan dan membunuh bakteri. Sebenarnya, saringan keramik sangat mudah dibuat. Tinggal meletakkan wadah keramik di atas wadah plastik yang ada kerannya, niscaya air di rumah Anda sudah cukup bersih untuk digunakan, bening dan tidak keruh lagi. Cara seperti ini banyak digunakan di India dan Pakistan, juga Banglades. Tetapi, sebaiknya dimasak terlebih dahulu meskipun sudah disaring menggunakan alat tersebut.

Cara kerja alat ini yaitu letakkan wadah keramik di atas wadah plastik berkeran. Kemudian masukkan air keruh secukupnya ke wadah keramik. Rembesan air akan masuk ke wadah plastik dan sudah bersih, bening, dan tidak keruh lagi. Ketika proses penyaringan, kotoran yang ada dalam air baku akan tertahan dan lama kelamaan akan menumpuk dan menyumbat permukaan filter sehingga untuk mencegah penyumbatan yang terlalu sering, maka air baku yang dimasukkan jangan terlalu keruh atau kotor. Untuk perawatan saringan keramik ini dapat dilakukan dengan cara menyikat filter keramik tersebut pada air yang mengalir.

7.    Saringan Cadas atau Jempeng (Lumpang Batu)

Saringan cadas atau jempeng ini mirip dengan saringan keramik. Air disaring dengan menggunakan pori-pori dari batu cadas. Saringan ini umum digunakan oleh masyarakat desa Kerobokan, Bali, dan digunakan untuk menyaring air yang berasal dari sumur gali ataupun dari saluran irigasi sawah. Seperti halnya saringan keramik, kecepatan air hasil saringan dari jempeng relatif rendah bila dibandingkan dengan SPL terlebih lagi SPC.

Macam/jenis jempeng Bali :

a.Jempeng bentuk U, jempeng ini keseluruhannya terbuat dari batu cadas. Bagian bawahnya berbentuk penyungkup setengah bola, badan saringan berbentuk silinder, sedang bagian atasnya terbuka, sehingga penampang vertikalnya berbentuk huruf U

b.Jempeng berbentuk huruf W, tidak seluruhnya terbuat dari batu cadas. Sisi bawah dan ketiga Sisi samping, terbuat dari beton kedap air. Hanya satu buah sisinya, yaitu sisi tengah terbuat dari lempengan batu cadas yang bagian atasnya terbuka.

c.Jempeng yang bagian bawahnya berbentuk setengah segi enam, keseluruhanya terbuat dari batu cadas. Badan jempengan berbentuk silinder dan bagian atasnya juga terbuka

Cara penggunaannya adalah diletakkan dalam aliran air supaya air meresap. Daya kerja saringan jempeng dalam penggunaannya untuk menyaring air minum dipengaruhi oleh beberapa faktor:

-          Besar kecilnya diameter pori bahan saringan

-          Derajat kekeruhan air

-          Suhu air

-          Derajat keasaman (ph) air

-          Tekanan air pada dinding saringan, dan

-          Tebal tipisnya dinding saringan

Air yang dihasilkan untuk jempeng dengan ketebalan 13 cm adalah 3,8 liter/jam

Keuntungan dari model ini adalah:

-     Daya saring jempeng tidak berpengaruh terhadap kesadahan air kolam stelah disaring. Bahan baku jempeng (batu cadas) tidak mengandung unsur-unsur kimia yang dpaat mempengaruhi kesadahan air kolam sebelum dan sesudah disaring.

-    Saringan tersebut telah lama digunakan oleh masyarakat desa Kerobokan, sehingga boleh dikatakan pemakaiannya telah membudidaya di kalangan masyarakat desa tersebut.

-       Semakin tebal dinding jempeng, semakin kecil bakteri golongan coli setelah penyaringan.

Kerugian dari model ini adalah:

-    Rata-rata debit air minum yang dihasilkan oleh jempeng dengan ketebalan dinding 13 cm, belum cukup untuk memenuhi kebutuhan air minum suatu keluarga yang beranggotakan 5 orang lebih.

-      Belum dapat diketahui setelah berapa lama jempeng tersebut perlu dibersihkan dari lumut, ganggang/algae yang tumbuh pada permukaan jempeng.







 

PRINSIP KERJA SUMUR RESAPAN

8:30 PM Add Comment

 "Semakin banyak air yang mengalir ke datam tanah berarti akan banyak tersimpan air tanah di bawah permukaan bumi. Air tersebut dapat dimanfaatkan kembali melalui sumur-sumur atau mata air yang dapat dieksplorasi setiap saat"

Prinsip kerja sumur resapan adalah menyalurkan dan menampung air hujan ke dalam lubang atau sumur agar air dapat memiliki waktu tinggal di permukaan tanah lebih lama sehingga sedikit demi sedikit air dapat meresap ke dalam tanah. Tujuan utama dari sumur resapan adalah memperbesar masuknya air ke dalam akuifer tanah sebagai air resapan (infiltrasi), Dengan demikian, air akan lebih banyak maÅŸuk ke dalam tanah dan sedikit yang mengalir sebagai aliran permukaan (run off). Lapisan batuan yang dilalui air terdiri dari dua jenis yaitu (1) Permeable : lapisan yang dapat ditembus air, terdiri dari kerikil, pasir, batu apung dan batuan retak-retak. (2) Impermeable : Lapisan tidak tembus atau kedap air. Contohnya adalah lempung dan batu napal. Air tanah ini tersimpan dalam akuifer, akuifer sendiri merupakan lapisan di dalam tanah yang dapat menampung dan meloloskan air.

Lapisan akuifer  mengandung formasi batuan yang mampu melepaskan air dalam jumlah banyak. Air yang keluar tersebut dapat membentuk mata air. Jenis akuifer ada dua macam yaitu akuifer bebas adalah lapisan jenuh air yang memiliki muka air tanah dengan tekanan hidrostatik sama dengan atmosfer. Yang kedua adalah akuifer tertekan yang memiliki tekanan jauh lebih besar dari pada tekanan atmosfer dan dibatasi oleh lapisan aquitard di atas dan di bawah.

Sumur resapan sebenarnya merupakan suatu kearifan masyarakat untuk hidup berdampingan dengan lingkungan, sebagai buktinya adalah “Luweng” yang berada di daerah perbukitan kapur, “Luweng” merupakan lubang yang terbentuk secara alami dan membantu memasukkan air hujan ke dalam perut bumi.   Tetapi karena kurangnya pengetahuan akan pentingnya lubang resapan ini, banyak “luweng” yang tidak dirawat dengan baik bahkan tertutup oleh sampah dan dedaunan, sehingga menyebabkan genangan air di daerah perbukutan kapur.

Pada Gambar 1 dapat dilihat proses masuknya air ke dalam akuifer tanah.

Gambar 1. Rumus Menghitung Debit Aliran Akuifer Bebas

Semakin banyak air yang mengalir ke datam tanah berarti akan banyak tersimpan air tanah di bawah permukaan bumi. Air tersebut dapat dimanfaatkan kembali melalui sumur-sumur atau mata air yang dapat dieksplorasi setiap saat. Jumlah aliran permukaan akan menurun karena adanya sumur resapan. Pengaruh positifnya bahaya banjir dapat dihindari karena terkumpulnya air permukaan yang berlebihan di suatu tempat dapat dihindarkan. Menurunnya aliran permukaan ini juga akan menurunkan tingkat erosi tanah.

Pemerintah pada dasarnya telah mewajibkan pembuatan sumur resapan di setiap pekarangan rumah. Akan tetapi banyak dari masyarakat yang belum mengetahui standar sumur resapan air yang baik dan benar. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 03-2453-2002, dapat diketahui bahwa persyaratan umum yang harus dipenuhi sebuah sumur resapan untuk lahan pekarangan rumah adalah sebagai berikut:

1.    Sumur resapan harus berada pada lahan yang datar, tidak pada tanah berlereng, curam atau labil,

2.    Sumur resapan harus dijauhkan dari tempat penimbunan sampah, jauh dari septic tank (minimum 5 m diukur darı tepi dan berjarak minimum 1 m dari fondasi bangunan),

3.   Penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir maksimal 2 m di bawah permukaan air tanah. Kedalaman muka air (water table) tanah minimum 1,5 m pada musim hujan,

4.    Struktur tanah harus mempunyai permeabilitas tanah (kemampuan tanah menyerap air) lebih besar atau sama dengan 2,0 cm/jam (artinya, genangan air setinggi 2 cm akan teresap habis dalam 1 jam), dengan tiga klasifikasi, yaitu sebagai berikut.

       Permeabilitas sedang, yaitu 2,0-3,6 cm/jam.

       Permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus), yaitu 3,6-36 cm/jam.

       Permeabilitas tanah cepat (pasir kasar), yaitu lebih besar dari 36 cm/jam.

Untuk bentuk dan ukuran konstruksi sumur resapan air yang ideal dapat mengacu pada SNI No. 03-2459-1991 yang dikeluarkan Oleh Departemen Kimpraswil, yaitu berbentuk segi empat atau silinder dengan ukuran minimal diameter 0,8 m dan maksimum 1,4 m serta kedalamannya disesuaikan dengan tipe konstruksi sumur resapan air. Sementara itu, pemilihan bahan bangunan yang dipakai tergantung dari fungsinya, seperti plat beton bertulang tebal 10 cm dengan campuran 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil untuk penutup sumur dan dinding bata merah dengan campuran spesi 1 semen : 5 pasir tidak diplester, tebal 1/2 bata.

 

Daftar Pustaka

 

Kusnaedi. 2011. Sumur Resapan Untuk Pemukiman Perkotaan dan Pedesaan. Penebar Swadaya. Jakarta.

 

PENGERTIAN DAN FUNGSI SUMUR RESAPAN

10:33 PM Add Comment

"Salah satu strategi atau cara pengendalian air, baik mengatasi banjir atau kekeringan adalah melalui sumur resapan. Sumur resapan ini merupakan upaya memperbesar resapan air hujan ke dalam tanah dan memperkecil aliran permukaan sebagai penyebab banjir. Upaya ini akan berfungsi bila semua warga sadar dan mau menerapkannya"

Sumur resapan merupakan sumur atau lubang pada permukaan tanah yang dibuat untuk menampung air hujan agar dapat meresap ke dalam tanah. Sumur resapan ini kebalikan dari sumur air minum. Sumur resapan merupakan lubang untuk memasukkan air ke dalam tanah, sedangkan sumur air minum berfungsi untuk menaikkan air tanah ke permukaan. Dengan demiklan, konstruksi dan kedalamannya berbeda. Sumur resapan digali dengan kedalaman di atas muka air tanah, sedangkan sumur air minum digali lebih dalam lagi atau di bawah muka air tanah.

Penerapan sumur resapan sangat dianjurkan dajam kehidupan sehari-hari. Beberapa fungsi sumur resapan bagi kehidupan manusia adalah sebagai pengendali banjir, melindungi dan memperbaiki (konservasi) air tanah, serta menekan laju erosi.

Sumur resapan dapat dikatakan sebagai suatu rekayasa teknik konservasi air, berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk sumur galian dengan kedalaman tertentu. Fungsi utama dari sumur resapan ini adalah sebagai tempat menampung air hujan dan meresapkannya ke dalam tanah. Sementara itu, manfaat yang dapat diperoleh dari pembuatan sumur resapan air di antaranya adalah:

1.    Mengurangi aliran permukaan dan mencegah terjadinya genangan air sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya banjir dan erosi,

2.    Mempertahankan tinggi muka air tanah dan menambah persediaan air tanah,

3.    Mengurangi atau menahan terjadinya kenaikan air laut bagi daerah yang berdekatan dengan wilayah pantai,

4.    Mencegah penurunan atau amblasan lahan sebagai akibat pengambilan air tanah yang berlebihan, dan

5.    Mengurangi konsentrasi pencemaran air tanah.

Penurunan muka air tanah yang banyak terjadi akhir-akhir Ini dapat teratasi dengan bantuan sumur resapan. Tanda-tanda penurunan muka air tanah terlihat pada keringnya sumur dan mata air pada musim kemarau serta timbulnya banjir pada musim hujan. Perubahan lingkungan hidup sebagai akibat dari proses pembangunan berupa pembukaan lahan, penebangan hutan, serta pembangunan pemukiman dan industri diduga menyebabkan hal tersebut. Sebagai contoh menurut para ahli, penurunan muka air tanah di Kota Jakarta mencapai 0,5- 12 cm/tahun, sedangkan kenaikan air laut sekitar 0,9 cm/tahun. Dengan demikian, dapat diperkirakan bahwa Kota Jakarta akan tenggelam dalam waktu 50 tahun ke depan. Kondisi tersebut juga diperkirakan akan terjadi di kota-kota lainnya di Indonesia. Kondisi demikian tidak menguntungkan bagi perkembangan perekonomian, oleh karena itu perhatian dari semua pihak diperlukan dalam upaya pengendalian banjir serta perbaikan dan perlindungan (konservasi) air tanah.

Salah satu strategi atau cara pengendalian air, baik mengatasi banjir atau kekeringan adalah melalui sumur resapan. Sumur resapan ini merupakan upaya memperbesar resapan air hujan ke dalam tanah dan memperkecil aliran permukaan sebagai penyebab banjir. Upaya ini akan berfungsi bila semua warga sadar dan mau menerapkannya. Peran sumur resapan tidak akan berarti bila hanya beberapa penduduk saja yang menerapkan. Dapat dibayangkan bila setiap penduduk suatu Kawasan yang memiliki sejuta bangunan menerapkan sumur resapan. Masing-masing mampu meresapkan air satu kubik. Dengan demikian, sejuta kubik air akan masuk ke dalam tanah sehingga Kawasan tersebut dapat terhindar dari bahaya banjir dan mampu mengurangi masalah kekeringan pada musim kemarau.

cara kerja sumur resapan


A.   Pengendali Banjir

Banjir sering kali menggenangi Kawasan pemukiman ketika musim penghujan. Terjadinya banjir pada Kawasan pemukiman dapat disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya :

1.    Pengembangan rumah yang melewati batas garis sempadan pembangunan (GSB),

2.    Sistem drainase yang tidak terencana dengan baik, dan

3.    Masih kurangnya kesadaran para penghuni Kawasan pemukiman terhadap pengelolaan sampah.

Pada dasarnya pengembangunan rumah merupakan suatu kebutuhan dari setiap penghuni kawasan pemukiman sejalan dengan penambahan jumlah anggota keluarga atau kebutuhan lain. Proses pengembangan rumah-rumah pada suatu Kawasan pemukiman besarnya berkisar 5-15 tahun atau dapat lebih cepat, tergantung dari lokasi perumahan serta fasilitas umum dan fasilitas sosial yang dimiliki perumahan tersebut. Pengembangan rumah atau penambahan jumlah ruangan terjadi hamper pada semua lokasi pemukiman. Rumah-rumah cenderung dikembangkan ke arah horisontal dengan pertimbangan biaya konstruksi akan lebih murah jika dibandingkan dengan pengembangan ke arah vertikal. Namun, hal tersebut justru sering mengakibatkan pengembangan rumah yang melewati batas garis sempadan bangunan (antara 3—4 m dari tepi jalan). Dengan demikian pada musim hujan, volume aliran air permukaan menjadi besar dan volume air yang meresap ke dalam tanah sangat sedikit sehingga mengakibatkan genangan banjir.

Banjir yang sering melanda beberapa kawasan perumahan telah berlangsung cukup lama, bahkan telah dianggap sebagai rutinitas yang terjadi setiap tahun. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan membangun sumur resapan air pada setiap rumah dalam suatu kawasan perumahan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sumur resapan mampu memperkecil aliran permukaan semngga dapat menghindari terjadinya genangan aliran permukaan secara beriebihan yang menyebabkan banjir.

Banyaknya aliran permukaan yang dapat dikurangi melalui sumur resapan tergantung pada volume dan jumlah sumur resapan. Misalnya sebuah Kawasan yang jumlah rumahnya 1.000 buah, jika masing-masing membuat sumur resapan dengan volume 2 kubik berarti dapat mengurangi aliran poermukaan sebesar 2.000 kubik air. Sementara itu, jika dibangun sebanyak 265 ribu sumur resapan (berukuran 1mx1m dengan kedalaman 3m) di Kota Jakarta, maka fungsinya dapat disetarakan dengan Banjir Kanal Timur. Sumur resapan ini mampu mengalihkan air yang biasanya dikirim ke Jakarta melalui 13 sungai.

B.   Konservasi Air Tanah

Fungsi lain dari sumur resapan ini adalah memperbaiki kondisi air tanah atau mendangkalkan permukaan air sumur. Di sini diharapkan air hujan lebih banyak yang diresapkan ke dalam tanah menjadi air cadangan dalam tanah. Air yang tersimpan dalam tanah tersebut akan dapat dimanfaatkan melalui sumur-sumur atau mata air. Peresapan air melalui sumur resapan ke dalam tanah sangat penting mengingat adanya perubahan tata guna tanah di permukaan bumi sebagai konsekuensi dari perkembangan penduduk dan perekonomian masyarakat. Dengan adanya perubahan tata guna tanah tersebut akan menurunkan kemampuan tanah untuk meresapkan. Mengingat semakin banyaknya tanah yang tertutup tembok beton, aspal, dan bangunan lainnya yang tidak meresapkan air. Penurunan daya resap tanah terhadap air dapat juga terjadi karena hilangnya vegetasi penutup permukaan tanah.

Penutupan permukaan tanah oleh pemukiman dan fasilitas umum berdampak besar terhadap kondisi air tanah. Seandainya di Kawasan pemukiman seluas 1.000 Hektar dan tertutupi ¾ bagiannya, berarti setiap kali turun hujan yang curah hujannya 1.000 mm aka nada 750.000 kubik air hujan yang tidak dapat meresap ke dalam tanah. Jumlah sekian akan berkumpul dengan aliran permukaan dari Kawasan lain pada lahan yang rendah sehingga dapat mengakibatkan banjir.

C.    Menekan Laju Erosi

Dengan adanya penurunan aliran permukaan maka laju erosi pun akan menurun. Bila aliran permukaan menurun, tanah-tanah yang tergerus dan terhanyut pun akan berkurang. Dampaknya, aliran permukaan air hujan kecil dan erosi pun akan kecil. Dengan demikian, adanya sumur resapan yang mampu menekan besarnya aliran permukaan berarti dapat menekan laju erosi.