JAJAR LEGOWO SUPER

11:03 PM

sistem tanam jajar legowo 2:1

Saya pernah membaca pada suatu informasi pelatihan mengenai teknologi pertanian, di sana tertuliskan sistem jajar legowo super. Ketika itu saya bertanya apa yang mebuat jajar legowo ini berbeda dengan jajar legowo yang diterapkan secara serentak melalui program Upaya Khusus peningkatan produksi PAJALE pada tahun 2015, melalui program GP-PTT (gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu). Setelah itu saya mencoba mencari informasi-informasi, karena ketika mendaftar di pelatihan yang diselenggarakan oleh kementerian pertanian saya tidak diterima. Mungkin saya petani muda dengan catatan motivasi yang kurang menarik dibandingkan dengan pendaftar lainnya, karena pada saat itu kuotanya hanya dibatasi sekitar 10 orang.
Berikut perbedaan-perbedaan antara penerapan jajar legowo biasa dan jajar legowo super :

  1. Penggunaan padi varietas unggul baru (VUB) hibrida
Dari informasi yang say abaca bahwa di Indramayu penerapan jajar legowo super mampu menaikkan produktivitas dari awalnya 7ton/Ha menjadi 12ton/Ha bahkan ada yang mencapai 14,5ton/Ha. Kalau dihitung kenaikan produktivitas sangat luar biasa dibandingkan dengan jajar legowo biasa. Kenaikan produktivitas dengan sistem tanam jajar legowo super mencapai 100%, sedangkan pada program GP-PTT dengan salah satu inovasi teknologi yang disampaikan adalah tanam jajar legowo terutama tipe 2:1 pemerintah hanya menargetkan kenaikan produktivitas 1ton/Ha.
Memang ada beberapa perbedaan yang sangat jelas antara lain dari penggunaan benih padi, pada program GP-PTT tahun 2015 benih padi yang dipergunakan adalah benih padi inbrida, kalau di desa saya menggunakan varietas ciherang. Sedangkan dari informasi yang say abaca pada teknik jajar legowo super menggunakan varietas padi hibrida dengan potensi hasil yang memang lebih tinggi dari pada varieras inbrida. Varietas hibrida yang dipergunakan anatara lain inpari 30 ciherang sub-1, inpari 32 HDB, dan inpari 33.
Saya pernah besdiskusi dengan petani yang pernah menggunakan varietas hibrida di desa saya memang potensi hasilnya tinggi tetapi petani tidak menyukainya karena ternyata setelah di jemur dan di angin-anginkan untuk memisahkan gabah yang berisi dengan yang “gabug”/tidak ada isinya, ternyata banyak yang “gabug”. Sehingga banyak petani yang tidak menyukainya. Permasalahan “gabug” ini ternyata setelah saya bertanya dengan petugas penyuluh lapang yang juga berprofesi sebagai petani adalah yang utama karena musim tanam padi, padi hibrida bagus dibudidayakan pada bulan April-September dimana pada saat itu musimnya memasuki musim kemarau, semakin banyak panas maka produksi dari varietas hibrida semakin baik. Kalau di daerah saya mengenal dengan istilah “gadu” yaitu produksi padi berada pada puncaknya/produksi paling tinggi atau musim tanam ke 3.
Produksi padi juga dipengaruhi oleh kondisi lahan tempat budidaya, sawah irigasi memiliki produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sawah tadah hujan ataupun tegalan. Karena selain ketersediaan air pada musim kemarau yang lebih baik, sawah irigasi juga memiliki kesuburan yang lebih baik dibandingkan dengan sawah tadah hujan ataupun tegalan. Oleh karena itu beda tempat beda pula hasilnya. Saya kadang ikut dalam kegiatan ubinan hasil produksi tanaman pangan khususnya padi, pada lahan-lahan tertentu walaupun hanya menerapkan pola tanam yang konvensional (larikan/labrakan) ternyata produksinya mengalahkan lahan dengan penerapan sistem jajar legowo, menurut analisa subyektif saya perbedaan tersebut dikarenakan jenis tanah sebagai tempat budidaya dan ketersediaan air. Tanahnya lebih subur dan sistem irigasinya lancer sehingga produksinya tinggi sepanjang musim. Dan ini menurut saya adalah anugrah yang harus disyukuri pemilik lahan tersebut dengan cara meningkatkan produksinya melalui penerapn sistem tanam yang lebih baik dengan menggunakan SRI atau jajar legowo.
    
  1. Penggunaan dekomposer sebelum pengolahan tanah
Petani jarang ada yang menggunakan bantuan dekomposer dalam pengolahan pupuk maupun pengolahan tanah, disamping karena sulit dalam membuat sendiri karena membutuhkan ketelatenan, penggunaan dekomposer pada usahatani merupakan inovasi baru dimana setiap inovasi baru untuk bisa diterima oleh petani memerlukan waktu, karena untuk menerapkan inovasi petani melibatkan proses pengambilan keputusan serta memerlukan bukti uji keberhasilan terutama oleh petani di lingkungannya.
Dekomposer yang di dalamnya terdapat bakteri-bakteri bermanfaat bagi tanaman, ada pula yang mengganggu tanaman sehingga tanaman memproduksi hormone yang menyebabkan pertumbuhannya lebih baik. Pada lahan sisa pertanaman padi, dekomposer ini bermanfaat untuk merombak sisa jerami dan mengubah residu menjadi bahan organik tanah yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman serta merombah bahan organik lignoselulosa.
Dekomposer dapat dibeli di toko-toko pertanian, salah satu dekomposer adalah Stardec. Saya biasa menggunakan untuk mengolah pupuk kandang karena hasilnya jika dibandingkan dengan dekomposer yang lain, dekomposer ini dapat mengolah pupuk dengan hasil yang lebih baik. Dekomposer juga dapat dibuat sendiri dengan memanfaatkan mikro organism lokal (MOL), cara pembuatan MOL dapat di lihat di sini. Dekomposer dapat pula dengan memanfaatkan jamur tricoderma, hanya saja cara pembuatannya dan perbanyaknnya lebih sulit dibandingkan pembuatan dan perbanyakan MOL.

  1. Penggunaan pupuk hayati dan pemupukan berimbang sesuai dengan hasil pengukuran PUTS (perangkat uji tanah sawah)
Pupuk hayati merupakan pupuk berbasis gabungan mikroba non patogenik yang dapat menghasilkan fitohormon (pemacu tumbuh tanaman), penambat nitrogen dan pelarut fosfat serta meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah. Aktivitas enzimatik dan fitohormon berpengaruh positif terhadap pengambilan hara matro dan mikro pada tanah, pematahan dormansi, memacu pertumbuhan, pembungaan, pemasakan buah, meningkatkan vigor dan viabilitas benih. Dampaknya mampu meningkatkan efisiensi pemupukan NPK anorganik dan produktivitas tanaman.
Selain menggunakan dekomposer sebagai simbiosis yang saling menguntungkan pada tanaman padi, bakteri-bakteri lain juga bisa dimanfaatkan. Sperti pada saat saya menjdi pendamping UPSUS PAJALE tahun 2015, UGM mengembangkan penggunaan biocon dan bacillus pada tanaman padi jagung dan kedelai dengan hasil dari aplikasi yang ternyata memiliki kenaikan produksi yang signifikan, fungsi dari bakteri bacillus adalah sebagai PGPR (Plant Grow Promoting Rizobacterium) yang bersimbiosis dengan akar tanaman menyebabkan tanaman tumbuh lebih sehat, anakan banyak, tahan terhadap serangan hama dan penyakit, cekaman lingkungan biotic dan abiotik, serta meningkatkan penyerapan unsur hara karena pertumbuhan akar tanaman semakin lebat. Sehingga berdampak pada efisiensi biaya pemupukan.
PGPR juga dapat dibuat secara mandiri dengan memanfaatkan bakteri pada akar tanaman amboo, cara pembuatan PGPR dapat dilihat di sini. Telah banyak diketahui bahwa tanah di sekitar tanaman amboo jika dipergunakan untuk media tanam akan menjadikan tanaman menjadi tumbuh lebih baik dan tahan terhadap penyakit. Pemanfaatkan PGPR dapat menekan penyakit menular lewat tanah.
Pupuk hayati dapat pula di beli di toko-toko pertanian, disebut juga pupuk organik cair (POC) dalam POC tersebut terdapat kandungan bakteri-bakteri yang bermanfaat bagi tanaman selain kandungan unsur hara.
Penggunaan PUTS (Perangkat Uji Tanah Sawah) bertujuan untuk mengetahui kandungan unsur hara pada suatu petak sawah yaitu usur hara Nitrogen, Fosfor dan Kalium. Pemupukan menggunakan pupuk kimia akan disesuaikan dosisnya, sehingga tidak terjadi kelebihan pupuk yang bisa mengakibatkan pencemaran serta naiknya biaya produksi. Pemupukan bisa tepat secara dosis yang dampaknya nanti adalah pertumbuhan tanaman yang baik. PUTS biasanya tersedia di BPK (Balai Penyuluh Kecamatan).

  1. Pengendalian OPT menggunakan pestisida nabati dan pestisida anorganik dengan memperhatikan ambang batas
Jika dibandingkan dengan pestisida sintesis, pestisida nabati mudah terurai di alam ketika diaplikasikan, sehingga walaupun sama-sama beracun pestisida nabati lebih aman dalam penggunaannya, lebih toleran terhadap lingkungan dan tidak meninggalkan residu senyawa beracun pada produk yang dihasilkan. Selain itu penggunaan pestisida nabati juga dapat menekan biaya produksi karena bahan-bahan pembuatnya telah tersedia di alam dan hanya diperlukan dalam jumlah sedikit.
Secara umum pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Pestisida nabati lebih mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas. Senyawa yang terkandung dalam pestisida nabatui dapat mengendalikan hama serta mengusir hama di pertanaman. Memang kandungan racunnya tidak bisa diukur secara pasti bisa lebih rendah daripada pestisida sintesis taupun bahkan lebih tinggi. Tetapi secara umum pestisida nabati tidak berbahaya bagi manusia dan ternak karena mudah terurai. Sehingga bisa mendukung kelestarian serangga berguna, serangga penyerbuk dan musuh alami, pestisida nabati juga bisa bermanfaat sebagai pupuk organik. Beberapa cara membuat pestisida nabati dapat di lihat di sini.

  1. Penggunaan Alsintan (alat dan mesin pertanian) khusus transplater (untuk menanam padi) dan combine harvester (untuk panen padi)
Pada program UPSUS yang muali digulirkan pada tahun 2015, banyak sekali mekanisasi dalam pertanian, terutama untuk mendukung swasembada Padi. Mulai dari pengolahan tanah dengan traktor, penanaman menggunan transplanter dan panen menggunakan combine harvester. Penggunaan Alsintan dapat membantu petani dalam mempercepat pengolahan tanah, penanaman dan panen. Dengan combine harvester kahilangan hasil saat panen dapat diminimalkan.
Manfaat yang di peroleh penggunaan alsintan memang sangat banyak tetapi butuh keuletan dan ketelatenan dalam mengelola alat dan mesin pertanian ini, selain butuh keahlian dalam mengoperasikan, alat dan mesin pertanian butuh penanganan khusus dalam perawatannya agar tidak mudah rusak. Sehingga jika kita tengok di kelompok-kelompok tani yang mendapatkan bantuan ada beberapa alsintan yang malah tidak dapat dimanfaatkan dengan baik bahkan mangkrak. Selain itu alsintan hanya bisa diaplikasikan pada lahan-lahan datar, untuk lahan yang sulit di jangkau oleh kendaraan melalui jalan-jalan curam alsintan seperti transplater dan combine harvester tidak bisa masuk.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Silahkan memberi komentar yang membangun EmoticonEmoticon