Showing posts with label Survey. Show all posts
Showing posts with label Survey. Show all posts

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESUKSESAN PROSES SURVEY

5:37 AM Add Comment

Ada hal yang menarik dari divisi survey yaitu analisa kelayakan calon konsumen. Jadi ketika ada pengajuan kredit maka surveyor akan melakukan cek lapangan melakukan analisa apakah konsumen layak untuk diberikan kredit atau tidak, keputusannya ada dua yaitu ACC (di beri kredit) atau TACC(tidak diberi kredit). Dari pengalaman saya sisi terlemah dari perusahaan jasa keuangan entah itu koperasi, bank atau finance adalah pada proses ini. Proses survey adalah hal yang sangat vital dan membutuhkan perhatian, jika proses ini tidak berjalan dengan bagus maka perusahaan dipastikan akan merugi karena banyaknya kredit yang macet. Tetapi sebaliknya apabila proses ini bisa berjalan dengan benar maka perusahaan bisa mendapatkan keuntungan.


proses survey
Menurut saya banyak faktor yang mempengaruhi kesuksesan proses survey ini, yang nanti akan saya bahas. Tetapi sebelumnya perlu diketahui bahwa kegiatan survey tidak semudah yang dibayangkan, ketika kita berhadapan dengan orang yang “asing” terkadang komunikasi yang berjalan menjadi kaku, padahal komunikasi memegang peranan penting dalam penggalian informasi pada calon konsumen. Oleh karena itu yang harus dimiliki oleh seorang surveyor adalah kepandaian dalam berkomunikasi, memang hal ini bisa berkembang sejalan dengan pengalaman di lapangan. Saya termasuk orang yang tidak pandai berkomunikasi, tetapi semakin sering saya melakukan kegiatan survey, komunikasi saya dengan calon konsumen semakin baik. Tetapi ada hal-hal yang vital/penting yang malah terlupakan bahkan oleh orang yang pandai melakukan komunikasi, hal-hal ini lah yang menjadi bahasan saya, dan mungkin banyak surveyor mengabaikannya.

1.      Batasan Waktu
Untuk menarik banyak calon konsumen yang juga merupakan cara untuk memberikan pelayanan terbaik maka ada beberapa promo pada perusahaan jasa keuangan yaitu pencairan dana dengan cepat. Satu jam cair, dua jam cair, satu hari cair, dsb. Tentu calon konsumen yang memiliki kebutuhan mendesak dan segera akan lebih tertarik menggunakan jasa lembaga keuangan dengan promo semacam itu. Apakah tidak berisiko dengan batasan waktu survey yang ketat? Tentu beresiko karena bisa saja data yang dikumpulkan tidak lengkap karena keterbatasan waktu. Misal promo dua jam cair, dalam satu hari seorang surveyor mendapatkan 5 aplikasi untuk di survey, padahal melihat jam kerjanya hanya 8 jam, dengan dead line waktu survey per aplikasi 2 jam sejak aplikasi masuk, tentu hal yang mustahil jika semua aplikasi pengajuan tersebut disurvey dengan benar dan lengkap datanya. Mungkin 1-3 aplikasi di survey secara lengkap tetapi yang 2 pasti tidak lengkap. Banyak alasan yang melatar belakangi saya bisa mengatakan demikian, penyebabnya adalah kelelahan, otak terlalu banyak digunakan untuk multitasking, selain survey tentu surveyor juga bertanggung jawab terhadap kelancaran angsuran konsumen yang telah di ACC. Di sela survey dia juga mengingatkan angsuran konsumen, mengisi kelengkapan berkas, menghitung, mencari alamat, melakukan analisa dsb. Otak mudah lelah yang berakibat tidak bisa bekerja dengan baik.


Mengapa perusahaan jasa keuangan menerapkan promosi pencairan cepat?, mungkin jawaban yang menghibur adalah memberikan pelayanan terbaik bagi calon konsumen. Tetapi apabila di dalami lagi alasannya adalah kalah bersaing dalam bunga pinjaman. Perusahaan jasa keuangan yang memiliki bunga kecil seperti program KUR BRI (kredit usaha rakyat) bunga perbulan di bawah 1%, tentu banyak yang mengantri bahkan waktu yang lama tidak dipermasalahkan oleh calon konsumen. Tetapi apabila bunganya tinggi, diperusahaan finance tempat saya bekerja dulu bunga perbulan bisa mencapai 5-6%, untuk bisa bersaing harus bisa melakukan pencairan dengan cepat, agar konsumen tidak berpindah tempat. Karena sekarang konsumen pintar-pintar, tidak akan mungkin ke finance jika tidak terdesak, terdesak kebutuhan yang segera.
Dengan bunga yang besar tentu cakupan konsumennya menjadi semakin terbatas, tetapi peluang kerugiaannya akan semakin menurun. Misalkan apabila di KUR BRI ada 2 konsumen yang menunggak tidak bayar dari 10 konsumen ambil pinjaman masing-masing Rp.1.000.000 jangka waktu 1 tahun (1 tahun bunga 9%) , maka uang total yang dikeluarkan 10xRp.1.000.000=Rp10.000.000, uang yang kembali dalam 1 tahun ke depan 8x (Rp.1.000.000+ (Rp1.000.000x9%))= 8x Rp1.090.000 = Rp.8.720.000 (rugi Rp 1.280.000).
Kasus yang sama tetapi terjadi pada finance dan jumlah yang menunggak tidak bayar 2 konsumen, bunga pertahun 36%, per bulan saya ambil 3%. Maka uang yang kembali dalam 1 tahun ke depan 8x(Rp.1.000.000+ (Rp1.000.000x36%))=Rp . 10.880.000 (masih untung Rp.880.000) padahal konsumen yang tidak bayar 2 orang sama seperti KUR
Resiko yang semakin kecil membuat proses survey sedikit dilonggarkan dengan data atau informasi yang mungkin terkumpul tidak lengkap karena deadline waktu. Tetapi dengan bunga yang kecil maka perusahaan jasa keuangan harus benar-benar mendapatkan data yang lengkap dan informasi yang jelas sebelum memutuskan untuk ACC atau TACC, sehingga terkadang membutuhkan waktu cukup lama. Batasan waktu memiliki pengaruh yang cukup besar terutama dalam pengumpulan data serta informasi calon konsumen untuk kemudian dianalisa dan dipertimbangkan oleh komite, maka batasan waktu perlu mendapatkan perhatian sebagai cara untuk bisa memperoleh keuntungan lebih banyak, dengan resiko yang semakin minim.

2.     Kuisioner
Ketika sampaai di rumah calon kunsumen kemudian melakukan penggaliaan informasi, ternyata ada beberapa data yang tidak lengkap karena lupa. Hal demikian sangat mungkin terjadi, dan saya sering mengalami, penyebabnya adalah tidak ada panduan kuisioner atau pada saat survey, sehingga surveyor tidak melakukan pengisian kuisioner. Data yang tidak lengkap bisa menyebabkan salah analisa dan salah mengambil kesimpulan. Hal yang sangat fatal.
Pada setiap perusahaan jasa keuangan/lembaga keuangan kuisioner bisa berbeda-beda, ada yang detail ada yang tidak detail dalam menggali informasi tergantung batasan waktu dan pertimbangan lain dari perusahaan (biaya cetak, pengetahuan akan indikator, kemampuan mengolah data, dll). Kuisioner yang tidak detail membuat seorang petugas survey harus menggali data sendiri berdasarkan pengalaman. Ini mungkin akan aman jika petugasnya sudah senior dalam artian pengalamannya sudah banyak, tetapi jika masih baru maka kuisioner yang tidak detail malah bisa menjadi “blunder”, akan banyak calon konsumen yang sebenarnya tidak mampu atau tidak baik dalam kredit akan masuk menjadi konsumen yang akibatnya perusahaan memiliki tunggakan tinggi.
Kuisioner secara umum harus mencakup informasi 6 hal (5 C 1P) Capital, Collateral,  Condition, Capacity, Character dan Purpose. Setelah enam informasi tersebut terkumpul maka keputusan dapat diambil. Berikut adalah contoh kuisioner dalam menggali informasi calon konsumen, anda bisa mendownload di SINI. Mungkin belum sempurna 100% sehingga anda bisa menambahi kuisioner tersebut dengan indikator-indikator lain/pertanyaan-pertanyaan lain yang mungkin bisa lebih menggali informasi terhadap calon konsumen tersebut.
Sedikit cerita, setelah saya keluar dari finance yang pada waktu itu saya sebagai kredit supervisor kemudian saya ikut dalam kegiatan sensus ekonomi yang diselenggarakan oleh BPS, ketika saya membaca kuisionernya ternyata sangat detail sekali bahkan batasan-batasan jawaban dalam setiap pertanyaan yang ada serta maksud dalam setiap pertanyaan di kuisioener tersebut dijelaskan secara rinci. Hal seperti ini yang tidak ada di perusahaan tempat saya dulu bekerja, sehingga pengetahuan tentang kuisioner oleh setiap karyawan memiliki penilaian yang berbeda-beda dan pemahaman yang tidak sama. Kembali lagi saya membandingkaan mengenai isinya, pertanyaan dari kuisioner sensus ekonomi lebih detail dibandinkan kuisioner lembaga keuangan. Dalam kuisioner sensus tersebut tidak ditanyakan secara lansung pendapatan serta pengeluarannya, sehingga responden tidak bisa berbohong. Laba/rugi perusahaannya akan terlihat ketika kuisioner sudah terisi secara lengkap. Bahkan dengan membaca kuisioner yang telah terisi pengawas dapat mengetahui kebenaran dalam pendataan atau pengisian kuisioner, jika pengisiannya ngawur atau tidak sesuai lapang maka akan terlihat dengan sendirinya. Berbeda dengan kusioner saat survey, yang mana seorang petugas survey kadang bisa memanipulasi hasil survey tanpa bisa di cek kebenaran pengisiannya oleh komite jika tidak datang langsung ke lapang, karena indikator serta pertanyaan dalam kuisioner tidak detail seperti pada kuisioner sensus.
Pada pengisian kuisioner sensus, saya bisa menghabiskan waktu 2 jam untuk 1 responden tergantung jenis usahanya. Sedangkan pada kuisioner survey saya hanya membutuhkan waktu 15 menit. Memang responden sensus akan merasa tidak nyaman karena banyaknya informasi yang diminta dan waktu yang dipergunakan, walaupun demikian ternyata kuisioner bisa terisi semua. Apabila penggalian informasi seperti di sensus diterapkan pada saat survey calon konsumen dengan kebutuhan waktu 2 jam, tentu saja tidak aka nada penolakan dari calon konsumen karena posisinya calon konsumen membutuhkan persetujuan kredit, jika informasi tidak lengkap maka kredit tidak bisa disetujui. Menggali informasinya pasti juga lebih mudah. Pada kusioner yang tidak detail seperti di saat saya survey, penggalian data lebih banyak dilakukan dengan wawancara ringan tanpa bantuan kuisioner, jadi hanya berdasarkan pengalaman saya saja. Apabila saya pindah cabang, maka informasi konsumen tersebut tidak ada yang tahu kecuali saya, sehingga ketika konsumen melakukan repeat order/pengajuan kredit kembali maka petugas yang selanjutnya akan kesulitan mendapatkan informasi karena konsumen jika ditanya lagi seperti dulu akan merasa tidak nyaman. Data base konsumen di kantor juga tiidak lengkap, apabila ada kekeliruan dan kesalahan dalam analisa maka petugas kantor sulit untuk menelusuri. Kuisioner yang lengkap dan detail juga bermanfaat untuk analisa apabila terjadi tunggakan.
 
3.     Prinsip
Ketika saya training kerja dulu, seorang general manager survey di perusahaan saya selalu berkata bahwa petugas survey harus memiliki prinsip. Kata-kata tersebut yang selalu saya ingat saat kerja, bahwa ada prinsip yang harus di pegang dan di amalkan oleh seorang petugas survey yaitu jujur dan teguh pendirian. Saya sering menemukan rekan kerja yang tidak jujur dalam bekerja, misalkan memakai uang konsumen untuk kebutuhan pribadi dulu, menerima suap, meminta imbalan dll. Apa yang terjadi dengan mereka, semuanya bekerja tidak dalam waktu yang lama, karena dikeluarkan perusahaan atau keluar dengan sendirinya. Kemudian saya mengambil kesimpulan bahwa hal buruk tidak akan ada yang abadi, dengan sendirinya orang-orang yang bekerja dengan tidak jujur akan tidak nyaman dengan pekerjaannya. Saya selalu mendasari pekerjaan saya untuk keluarga, ya keluarga adalah semangat yang luar biasa bahkan atas dasar hal tersebut untuk  bekerja dengan memegang teguh serta mengamalkan prinsip jujur tidaklah sulit karena penghasil kita nanti akan dipergunakan untuk menghidupi keluarga, sehingga yang dicari adalah penghasilan yang halal dan barokah. Karena pekerjaan kita terkait erat dengan keluarga kita, maka kita pun akan menjaga tempat mencari nafkah/perusahaan kita.
Prinsip yang lain adalah teguh pendirian, seorang petugas survey harus memiliki pendirian yang kuat, tidak berubah-ubah. Saat melakukan analisa maka akan banyak sekali yang menggoyahkan pendirian kita, terutama tekanan dari rekan kerja dan di luar(makelar, teman, saudara, dll). Ada pula tekanan yang berasal dari dalam diri pribadi seperti keinginan mencapai target perusahaan, rasa perkewuh/tidak enak hati, adanya kepentingan pribadi, dll. Pendirian yang tidak teguh menyebabkan mudah terombang-ambingnya petugas survey, sehingga hasil surveynya atau analisanya tidak bagus.
Selama saya bekerja di finance ada satu lagi hal yang saya pelajari, bahwa yang berbahaya bagi perusahaan bukan orang diluar perusahaan (calon konsumen , konsumen, makelar, dll) tetapi karyawan sendiri. Seorang karyawan dapat dengan mudah menyebabkan kerugian perusahaan karena bekerja dengan tidak jujur dan melakukan pelanggaran-pelanggaran SOP. Maka prinsip adalah hal yang sangat penting jika ingin mendapatkan hasil analisa yang bagus.

4.     Pertimbangan Lain
Perusahaan tidak akan pernah membahas konsumen yang memiliki pola bayar bagus, atau angsurannya lancar. Walaupun konsumen tersebut secara aturan tidak bisa untuk di ACC misalkan seorang pencopet. Tetapi karena angsurannya lancar hal tersebut tidak di permasalahkan oleh perusahaan. Berbeda jika kondisinya menunggak dan ternyata konsumennya secara aturan harusnya di TACC, pasti serangan luarbiasa akan dialamatkan pada petugas survey.
Permasalahan seperti di atas nyata ada di lapangan, yang saya sering temukan adalah ketika calon konsumen memiliki historis pembayaran yang tidak bagus di salah satu lembaga keuangan, dan mengajukan kembali di lembaga keuangan tersebut di tolak. Tetapi ketika menjadi konsumen di tempat saya kerja angsurannya sangat bagus. Aneh bukan?! Termasuk ketika di tolak di lembaga keuangan saya ternyata di ACC di lembaga keuangan lain ternyata angsurannya bagus. Padahal analisa sudah benar.
Pengalaman lain adalah ketika ada calon konsumen yang status rumahnya kontrak, dan kontraknya sudah mau habis tetapi belum di perpanjang. Calon konsumen di minta memperpanjang masa kontrak rumah tidak mau. Secara analisa sederhana calon konsumen tersebut sudah pasti di tolak karena memiliki resiko tinggi untuk kabur. Tetapi saya ACC dengan pertimbangan calon konsumen tersebut sudah karyawan tetap di suatu perusahaan swasta garmen dekat dengan kantor saya dan memiliki historis pembayaran angsuran di lembaga keuangan lain yang bagus/tidak pernah terlambat. Ternyata angsuran di kantor saya lancar.
Survey memang memiliki suatu pedoman, tetapi ada beberapa pertimbangan lain yang mengharuskan kita mengambil resiko untuk meningkatkan penjualan dan laba perusahaan. Atas dasar inilah saya menyebut proses survey adalah sebuah “seni”, kita harus memiliki pandangan atau bayangan yang akan datang berdasarkan data dan kenyataan yang ada di lapangan. Analisa yag diambil bukan tanpa data pendukung, data pendukung harus tetap ada untuk dapat menarik suatu kesimpulan akhir yang dapat dipertanggungjawabkan.


CARA MELAKUKAN UBINAN

2:33 PM Add Comment


kegiatan ubinan

Ubinan adalah cara untuk mengatahui perkiraan hasil panen tanaman padi dan palawija melalui penentuan sampel, pengukuran dan penimbangan hasil.
Proses pengubinan hasil pertanian dilakukan oleh Badan Pusat Statistik bersama-sama dengan Petugas Penyuluh Pertanian. Berdasarkan rata-rata sampel hasil ubinan tersebut maka dapat diperkiraan hasil panen suatu daerah sesuai dengan komoditas yang telah diubin. Ukuran ubinan 2,5m x 2,5m, atau jika dihitung luasnya adalah 6,25m2. Jika luas lahan di daerah tersebut yang ditanami sesuai dengan tanaman yang diubin 200 Ha, maka produksi tanamannya adalah rata-rata hasil ubinan (tentu saja sampel yang diambil tidak hanya satu tempat/ubinan dilakukan di beberapa tempat dalam satu daerah tersebut) dikalikan dengan luas lahan dibagi luas ubinan.
Misal : hasil rata-rata ubinan = 3,4 Kg
Luas dengan tanaman yang sama = 200Ha = 2.000.000 m2
Produksi = 3,4 x (2.000.000 m2 / 6,25m2)= 3,4 x 320.000 = 1.088.000 Kg = 1.088 Ton
Proses untuk melakukan ubinan adalah sebagai berikut :
1.  Menentukan pangkal sumbu
-   Untuk petak sawah yang berbentuk bujur sangkar, ambillah ujung Barat Daya dari petak lahan tersebut sebagai pangkal sumbu seperti gambar 1.
-   Bila petak sawah tidak bernetuk bujur sangkar, penentuan sisi Barat-Timur (BT) dan sisi Utara-Selatan (US) mengikuti panjang galengan dan sedapat mungkin pangkal sumbu diambil pada sudut Barat Daya seperti gambar 2 dan gambar 3.
O adalah titik ujung di Barat Daya dari petak.
-   Dalam keadaan yang luar biasa, dimana bentuk lahan tidak teratur maka agak sulit untuk memilih pangkal sumbu. Dalam hal ini ambillah sebuah tempat di sebelah Barat Daya petak sawa, penentuan arah B-T dan U-S tetap mengikuti arah galengan seperti Gambar 4

2.  Menentukan titik pangkal ubinan
Ada dua cara dalam menentukan titik pangkal ubinan

Yang Pertama
Setalah pangkal sumbu dari sisi BT-US ditentukan, selanjutnya tentukan titik pangkal ubinan, dengan cara :
a.  Ukurlah panjang kedua sisi petak sawah tersebut (panjang sisi B-T dan U-S) dengan mempergunakan langkah kaki biasa dan catatlah hasilnya.
b.  Hitunglah jumlah digit dari panjang kedua sisi petak sawah tersebut misalnya panjang sisi B-T dalam ratusan langkah terdiri dari 3 digit dan panjang U-S dalam puluhan langkah (2 digit), maka jumlah digit dari panjang kedua sisi petak sawah tersebut 3 + 2 = 5 digit.
Nb)Jika panjang B-T dan U-S sama-sama 2 digit maka jumlah panjang kedua sisi petak sawah tersebut 2 + 2 = 4 digit
c.  Kita ambil angka random yang terdiri dari 5 digit yaitu sama dengan jumlah digit dari panjang kedua sisi petak sawah (kalau panjang kedua sisi 4 digit maka angka random yang diambil juga 4 digit). 3 digit yang pertama menunjukkan koordinat sisi B-T, sedangkan 2 digit terakhir menunjukkan koordinat sisi U-S. jika dari angka random ternyata 3 digit pertama dan atau 2 dgit terakhir masih tinggi dari panjang kedua sisi, berarti belum memenuhi sayarat dan harus dilanjutkan ke baris berikutnya (kebawah), dan bila masih belum menemukan maka diteruskan pada 5 kolom berikutnya sampai dapat memenuhi syarat yang diperlukan.
Contoh : panjang sisi B-T adalah 120 langkah dan panjang sisi U-S adalah 84 langkah, maka angka random yang dicari harus dibawah 12084. Misalkan pelaksanaan ubinan dilakukan pada hari senin, tanggal 17 Desember, maka table angka random dipilih adalah halaman 1 (hari senin), baris 17 dan kolom 12 (bulan Desember, sehingga angka pertama dalam daftar adalah 68350 yang tidak memenuhi syarat. Angka berikutnya adalah 07825, ternyata telah memenuhi syarat yang berarti titik pangkal ubinan (P) akan berada 78 langkah dari titik O (Barat Daya) searah sisi B-T dan 25 langkah dari sisi U-S.
Hari senin dan Kamis, gunakan halaman satu
Hari Selasa dan Jum’at, gunakan halaman dua
Hari Rabu dan Sabtu, gunakan halaman tiga
letak plot yang di ubin dengan cara pertama
d.  Jika titik pangkal ubinan (P) berada di luar petak sawah atau berada di dekat galengan sehingga tidak dimungkinkan untuk dilakukan, maka gantilah nomor randomnya sehingga didapatkan seluruh plot ubinan berada dalam petak tersebut.
e.  Bila petak sawah/bidang bukan sawah bentuknya tak menentu maka petugas harus mengelilingi petak sawah/bidang bukan lahan sawah tersebut untuk memudahkan penentuan titik pusat ubinan. Ketentuan ini berlakun juga bila batas-batas dari bidang bukan lahan sawah tidak jelas, dimana sering terjadi antara lahan kebun/tegal yang dikuasai seseorang petani dengan petani lainnya tidak jelas. Bila terjadi hal demikian petugas harus menanyakan pada petani yang bersangkutan karena dalam hal ini pasti petani mengetahui.

Cara Yang Kedua
Setalah pangkal sumbu dari sisi BT-US ditentukan, selanjutnya tentukan titik pangkal ubinan, dengan cara :
a.  Ukurlah panjang kedua sisi petak sawah tersebut (panjang sisi B-T dan U-S) dengan mempergunakan langkah kaki biasa dan catatlah hasilnya.
b.  Hitunglah jumlah digit dari panjang kedua sisi petak sawah tersebut misalnya panjang sisi B-T dalam ratusan langkah terdiri dari 3 digit dan panjang U-S dalam puluhan langkah (2 digit), maka jumlah digit dari panjang kedua sisi petak sawah tersebut 3 + 2 = 5 digit.
Nb)Jika panjang B-T dan U-S sama-sama 2 digit maka jumlah panjang kedua sisi petak sawah tersebut 2 + 2 = 4 digit
c.  Kita ambil angka random yang terdiri dari 5 digit yaitu sama dengan jumlah digit dari panjang kedua sisi petak sawah (kalau panjang kedua sisi 4 digit maka angka random yang diambil juga 4 digit), dengan terbih dahulu menentukan angka picing mata, tanpa melihat memilih angka (bisa halaman 1 atau 2), jika angka yang terpilih adalah angka genap maka menggunakan halaman 2, tetapi jika ngka yang terpilih adalah angka ganjil maka menggunakan halaman 1. Letak baris dan kolom dicari dengan mengurangkan panjang B-T (baris) dengan 35 atau kelipatannya sehingga didapatkan angka yang lebih rendah. Dan untuk U-S (kolom) dengan mengurangkan panjangnya dengan 25 atau kelipatannya untuk mendapatkan angka yang lebih rendah. Jika dari angka random yang didapatkan ternyata 3 digit pertama dan atau 2 digit terakhir masih tinggi dari panjang kedua sisi, berarti belum memenuhi sayarat dan harus dilanjutkan ke baris berikutnya (kebawah), dan bila masih belum menemukan maka diteruskan pada 1 kolom berikutnya sampai dapat memenuhi syarat yang diperlukan.
Contoh : panjang sisi B-T adalah 120 langkah dan panjang sisi U-S adalah 84 langkah, maka angka random yang dicari harus dibawah 12084. Misalkan angka picing mata yang didapatkan adalah 4, maka table angka random dipilih adalah halaman 2 (angka 4 adalah angka genap), menentukan baris dengan cara mengurangkan panjang B-T dengan 35 atau kelipatannya untuk mendapatkan angka yang lebih rendah dari 35. Baris = 120-35-35-35=15, baris ke 15. Kolom ditentukan dengan cara mengurangkan panjang U-S dengan 25 atau kelipatannya untuk mendapatkan angka yang lebih rendah dari 25. Kolom = 84-25-25-25=9, kolom ke 9. Sehingga angka pertama dalam daftar adalah 00090 yang tidak memenuhi syarat. Angka berikutnya adalah 02235, ternyata telah memenuhi syarat yang berarti titik pangkal ubinan (P) akan berada 22 langkah dari titik O (Barat Daya) searah sisi B-T dan 35 langkah dari sisi U-S.
picing mata
 
lokasi plot ubinan cara kedua
d.  Jika titik pangkal ubinan (P) berada di luar petak sawah atau berada di dekat galengan sehingga tidak dimungkinkan untuk dilakukan, maka gantilah nomor randomnya sehingga didapatkan seluruh plot ubinan berada dalam petak tersebut.
e.  Bila petak sawah/bidang bukan sawah bentuknya tak menentu maka petugas harus mengelilingi petak sawah/bidang bukan lahan sawah tersebut untuk memudahkan penentuan titik pusat ubinan. Ketentuan ini berlakun juga bila batas-batas dari bidang bukan lahan sawah tidak jelas, dimana sering terjadi antara lahan kebun/tegal yang dikuasai seseorang petani dengan petani lainnya tidak jelas. Bila terjadi hal demikian petugas harus menanyakan pada petani yang bersangkutan karena dalam hal ini pasti petani mengetahui.
3.  Menimbang hasil panen
Bentuk hasil panen setiap jenis tanaman yang dihasilkan dan ditimbang yaitu :
Padi : gabah kering panen (GKP)
Jagung : otongan kering panen tanpa kulit dan tangkai
Kedelai : polong kering panen
Kacang tanah : gelondong kering panen
Ubi kayu : umbi basah berkulit
Ubi jalar : umbi basah 



Download Tabel Angka Random Halaman 1
Download Tabel Angka Random Halaman 2
Download Tabel Angka Random Halaman 3

   

CARA MENGANALISA KREDIT

10:38 PM Add Comment
Ada enam acuan dalam menganalisa kredit yang diajukan oleh calon konsumen / kreditur, yaitu :
1. PURPOSE
Yaitu menganalisa konsumen benar-benar butuh uang/barang tersebut, siapa pengguna/pemakai, digunakan untuk apa, apakah sesuai dengan kebutuhan, karakter, apakah memiliki nilai tambah secara ekonomis bagi konsumen.
Dalam purpose ini lebih menekankan kepada tujuan pengajuan kredit, perlu diperhatikan bahwa pemakai/pengguna harus konsumen sebagai pemohon karena kebanyakan tagihan sulit karena pemakai uang/barang adalah orang lain sehingga tanggung jawab terhadap angsuran menjadi berkurang / tidak ada.
2. CHARACTER
dalam menilai karakter konsumen ada beberapa cara yang bisa dilakukan, antara lain :
a. memperhatikan keterbukaan dan kejujuran calon konsumen dalam memberikan data/informasi, perhatikan gerak-gerik calon konsumen dalam mengundang petugas survey masuk rumah,
b. memperhatikan sikap dan cara bicara calon konsumen pada saat interview apakah gelisah, pandangan mata selalu ke arah lain, atau gugup dalm menjawab pertanyaan,
c. Apakah calon konsumen cukup dikenal oleh lingkungan. dapatkan informasi dari tetangga dan ketua RT setempat tentang keberadaan calon konsumen serta kebiasaan dan kegemaran calon konsumen, hal ini bisa dilakukan sebelum atau setelah survey,
d. melihat keseriusan konsumen dalam mengambil kredit tersebut,
e. cek ketepatan konsumen dalam membayar telefon/listrik/PDAM/pajak motor.
3. CAPACITY
Kemampuan yang dimiliki calon konsumen dalam menjalankan usahanya guna memperoleh laba yang diharapkan, atau kemampuan calon konsumen mendapatkan penghasilan guna mencukupi biaya operasional rutin, biaya hidup rutin, membayarkan angsuran-angsuran rutin, serta biaya-biaya lainnya setiap bulan.
Beberapa cara untuk mendapatkan gambaran capacity calon konsumen antara lain :
a. Karyawan
   1). Berapa penghasilan?
   2). Apa jabatan konsumen?
   3). Sudah berapa lama bekerja pada perusahaan tersebut?
   4). Berapa jumlah karyawan tempat kerja konsumen tersebut?
   5). Melihat bonafiditas perusahaan tempat kerja konsumen
   6). Sudah berproduksi berapa lama perusahaan tersebut?
   7). Berapa besar kapasitas produksi perusahaan tersebut?
   8). Pegawai negeri,instansi/departemen?
b. Wiraswasta / Perusahaan
   1). Melihat apakah calon konsumen secara hukum memiliki kapasitas untuk mewakili dirinya maupun badan usaha yang dimilikinya
   2). Melihat kinerja calon konsumen apakah usahanya pernah mengalami kegagalan atau selalu menunjukkan kemajuan dari waktu ke waktu
   3). Melihat laporan keuangan, aktifitas rekening giro, rekening tabungan, bon pembelian, bon penjualan, Surat Perintah Kerja(SKP), Letter of Credit atau bukti transaksi lainnya sesuai usaha konsumen
   4). Melihat sejauh mana kemampuan calon konsumen dalam mengelola usahanya (produksi, keuangan dan pemasaran)
   5). Berapa jumlah pendapatan?(omset/total pendapatan)
   6). Konsumen memiliki kemampuan yang memadai di dalam mengelola usaha
   7). Aset produktif dan fasilitas pendukung lainnya mendukung untuk operasional usaha
   8). sudah memiliki customer dan suppliyer tetap yang sudah berhubungan sejak lama
   9). Cash Flow konsumen menunjukkan nilai positif dan memiliki kontrak /SPK/ DO yang jelas
   10). Apakah calon konsumen sudah memiliki faktor kesuksesan dari usahanya?
   11). Apakah pola manajemen sudah profesional dan struktur organisasi berjalan efektif?
   12). Apakah sumberdaya manusianya cukup kompeten untuk mendukung usaha konsumen

Rumus menghitung sisa penghasilan:

         Pendapatan pokok+pendapatan tambahan-total pengeluaran
Karyawan=------------------------------------------------------ 
                                Besar angsuran

             Omset pokok usaha-total biaya usaha-total pengeluarn
Non karyawan=---------------------------------------------------
                                Besar angsuran

Total pengeluaran= KHL (kebutuhan hidup layak)+transport+hutang+(jumlah tanggungan xRp.200.000)
Jika pemohon berstatus single maka KHL dihitung setengah
Tanggungan adalah anak dan orang tua yang tidak bekerja atau tidak memiliki penghasiln sendiri

Total biaya usaha= biaya sewa+bahan baku+pajak+ gaji karyawan

KHL merupakan standar kehidupan layak keluarga yang mengacu pada uu no 13 tahun 2012, bisa di download  , untuk jumlah KHL tiap-tiap provinsi berbeda bisa di lihat di sini  .

Biaya hidup adalah biaya yang dikeluarkan seseorang untuk memenuhi segala kebutuhan dirinya maupun tanggungannya setiap bulannnya. Hal-hal yang mempengaruhi biaya hidup seseorang adalah : Kelas ekonomi seseorang, Lingkungan sosial seseorang dan Gaya hidup.

4. CAPITAL
Jumlah dana/aset/modal sendiri yang dimiliki oleh konsumen. kemampuan modal sendiri merupakan benteng yang kuat agar tidak mudah mendapatkan goncangan dari luar. contoh goncangan : Kesiapan biaya untuk melahirkan, kesiapan biaya untuk sekolah, kecukupan tabungan bila pendapatan tidak tetap setiap bulannya.
Berikut beberapa cara memperoleh gambaran capital calon konsumen :
a. Karyawan
- Status kepemilikan rumah : Hak milik / milik keluarga / sewa / kredit / kos / dinas
- Estimasi harga dilihat dari NJOP pada PBB sesuai dengan luas tanah dan bangunannya.
- Lokasi rumah, apakah di tempat kumuh, sederhana, atau mewah
- Saldo rek Tabungan dan deposito
- Kendaraan yang dimiliki selain kenadaraan yang di biayai
- Aset rumah.
b. Wirausaha
-Memeriksa saldo rek.koran, rek tabungan dan surat-surat berharga lainnya.
- Kendaraan yang dimiliki selain kendaraan yang dibiayai
- Mesin dan peralatan pabrik
- Tanah, rumah ruko , bengkel, dan harta tetap yang dimiliki.
- Memiliki cukup aset untuk mengelola usahanya.
- Jumlah hutang baik hutang pinjaman modal kerja maupun  untuk pembelian harta tetap.
- Analisa : ratio keuangan dan keaktifan rekening.
- Apakah costomer memiliki modal kerja yang cukup untuk menjalankan usahanya.
- Tidak ada masalah di kreditur lain / tidak dalam ancaman dilikuidassi / tidak sedang mengalami kebngkrutan.
5. Colateral
Jaminan yang mencukupi untuk mengantisipasi jika terjadi tunggakan. Apakah unit yang dibiayai merupakan unit yang banyak peminatnya. Penganalisaan ini di perlukan apabila konsumen secara finansial hampir tidak layak akan tetapi memiliki karakter yang baik, dan jaminan atau unit tersebut minimal senilai nominal pembiayaan. Yang menjadi perhatian saat menganalisa colateral adalah :
a. Jaminan : objek yang diserahkan calon konsumen sebagai jaminan terhadap kredit yang diterima.
b. Apakah BPKB atas nama konsumen apakah atas nama orang lain
c. BPKB motor / jenis /Type/ Harga pasaran
d. Estimasi kendaraan
e. Apakah pernah kredit sebelumnya atau beli cash motor
f. Apakah motor yang di kredit sesuai dengan kebutuhan konsumen.
g. Apakah pinjaman yang diajukan sesuai dengan kebutuhan konsumen.
6. Condition
Merupakan faktor eksternal yang meliputi kestabilan dan kontinuitas tempat kerja / tempat dan bidang usaha yang ditekuni, prespek usaha yang baik, Tidak bertentangan dengan peraturan pemerintah / undang-undang, Kondisi ekonomi. Condition juga dinilai berdasarkan tempat tinggal yaang masuk dalam kategori rawan tunggakan dan tidak, bisa disebut dengan daerah Blaclist atau tidak.
Yang perlu dianalisa adalah :
a. Peraturan pemerintah pusat / daerah terhadap usaha yang ditekuni calon konsumen
b. Tren industri : naik/turun
c. Besar / kecilnya kompetitor yang ada
d. Apakah akan berdampak langsung terhadap gejolak harga komoditi tertentu? naiknya bahan baku / menurunnya harga jual.
e. Singgel buyer singgel suppliyer
f. Tempak usaha yang tidak rawan bencana, rawan gusur, usaha legal/ilegal
g. Kondisi lingkungan tempat tinggal / rumah.
h. Kondisi lingkungan tempat kerja / usaha.



TIPS DAN TRICK ANALISA KELAYAKAN
1. Perhatikan keterbukaan dan kejujuran caln konsumen dalam memberikan data / informasi, perhatikan gerak-gerik calon konsumen dalam mengundang petugas survey masuk rumah
2. Perhatikan sikap dan cara bicara calon konsumen pada saat interview apakah gelisah, pandangan mata selalu ke arah lain atau gugup dalm menjawab pertanyaan
3. Apakah calon konsumen cukup dikenal di lingkungan
4. Cek apakah calon konsumen tepat waktu dalam membayar tagihan-tagihan lain
5. ketidak hadiran pasangan pada saat survey (contoh IRT tetapi tidak terlihat di rumah, atau tidak peduli dengan proses survey)
6. Cek apakah konsumen masuk ke dalam negative list profesi yang dipertimbangkan untuk lebih berhati-hati/ dihindari (wartawan, pengacara, TNI, POLRI, mediator/makelar, Artis, LSM, Paranormal, jaksa).