SEJARAH DUSUN GENTING DESA ROGOMULYO

8:59 PM
Dusun Genting merupakan salah satu dari enam dusun yang masuk di wilayah Desa Rogomulyo Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Semarang, terdiri dari 4 RT dan 2 RW yaitu RT 1 RW 12, RT 2 RW12, RT 1 RW 13 dan RT 2 RW 13. Luas Dusun Genting secara keseluruhan adalah 63,63 Ha dengan jumlah penduduk pada tahun 2016 adalah 586 penduduk dan jumlah kepala keluarga sebanyak 181 KK. Dusun Genting Desa Rogomulyo berada antara 7052’58’’ LS dan 1100 15’ 54’’ BT dengan batas-batas sebagai berikut :
Sebelah Utara           : Dusun Jangkrikan Desa Rogomulyo
SebelahTimur          : Desa Pentur Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali
Sebelah Selatan       : Dusun Canggal Desa Kaliwungu
Sebelah Barat           : Dusun Kemiri Desa Jetis
Rata-rata pekerjaan penduduk Dusun Genting adalah sebagai petani dan peternak sapi. Dusun Genting memiliki lahan yang sangat subur terbagi dalam lahan sawah dan lahan pemukiman. Lahan sawah terbagi dengan blok-blok yaitu :
Timur Dusun : Bengkok, Sumber, Sepring, Kembang, Sewaduk, Sewatu, Ploso, Ngganjel, Pakelan, Beran, Balong, Kenongo, Gondang, Sentanan.
Utara Dusun : Ledok, Dlisem, Krangkah, Dok murang, Sawah Kali Lo
Barat Dusun : -
Selatan Dusun : Dong Bulus, Tulumbung, Kanthil, Bandrek, Dawung, Dung Gompeng
Lahan Pemukiman dibagi ke dalam blok-blok : Cikalan, Jebolan, Karang tengah, dan Carobalas
Pola tanam petani di dusun Genting adalah Padi-Padi-Palawija, ternak yang dibudidayakan adalah sapi, ayam kampung dan kambing.
Sejarah dari Dusun Genting Desa Rogomulyo tidak terlepas dari salah satu tokoh yang merupakan leluhur di Dusun Genting yaitu Mbah Galoh, menurut cerita yang saya rangkum dari dua orang kakek saya Mbah Sukardi Martorejo dan Mbah Diyo Sumarto, yang sudah berumur 85 tahun dan paling mengerti sejarah di Dusun Genting pada awalnya Dusun Gneting merupakan tegalan, jadi dulu sebelum kedatangan Mbah Galoh masih berupa tegalan dan belum ada sawah. Mbah Galoh dalam perjalanan mencari tempat untuk tinggal dari Jawa Timur menuju ke arah Barat dan memutuskan singgah serta menetap di Dusun Genting.
Melihat potensi alam dan tanah yang sangat subur kemudian Mbah Galoh membuat saluran air dengan cara meng”urug” sungai tempuran yang sekarang namanya cangkring dengan tanah di sekitar tempuran tersebut (tempuran adalah tempat pertemuan dua sungai), tanah bekas penggalian tersebut dinamakan sawah siboran. Setelah sekian lama melakukan pekerjaan tersebut sedikit demi sedikit urugan tersebut akhirnya jadi dan membagi sungai menjadi dua bagian kemudian diberikan nama talang emas, karena bentuknya cekung menyerupai talang dan kata emas mungkin artinya memberikan penghidupan bagi masyarakat, karena dari tempat ini air dapat mengairi seluruh lahan di Dusun Genting untuk pertanian. Selanjutnya dibuatlah saluran air yang mengairi seluruh lahan terutama di timur, utara dan sebagian selatan Dusun. Dari awalnya hanya tanah tegalan nan gersang, Dusun Genting akhirnya memiliki tanah sawah yang luas dan subur karena upaya dan ide dari Mbah Galoh.
tempuran yang dulu di urug, dikenal dengan sebutan talang emas
Pekerjaan peng”urugan” tempuran tersebut selesai pada hari Jum’at Legi, sebagai ucapan rasa syukur kepada Alloh SWT atas terselesaikannya pekerjaan tersebut maka Mbah Galoh berucap setiap Jum’at Legi dalam setahun sekali akan membuat gunungan dan diringi oleh tabuhan gamelan jawa. Hingga kini tradisi tersebut tetap dilestarikan dengan membuat gunungan oleh setiap Rukun Tangga dan di bawa ke rumah kepala Dusun dengan diiringi oleh gamelan. Dalam acara tersebut selalu ada pertunjukan wayang kulit sehari semalam dengan lakon yang berbeda-beda.  
saluran air yang dapat mengairi seluruh sawah di dusun genting
Air dari saluran irigasi tersebut merupakan sumber air bagi kehidupan warga bahkan menurut cerita dipergunakan pula untuk wudhu sebelum melaksanakan sholat, karena pada waktu itu terdapat masjid di tengah dusun yang juga dilalui oleh aliran irigasi ini, air dari irigasi di tampung dalam sebuah kolam untuk dijadikan tempat berwudhu. Maka pada jaman dahulu tidak ada masyarakat yang membuang hajat di aliran irigasi tersebut, kebersihan saluran irigasi benar-benar dijaga dan dipelihara oleh masyarakat.
Kemudian ada pertanyaan kenapa dinamakan Dusun Genting dan pada saat itu apakah sudah ada penduduk selain Mbah Galoh? Penamaan Dusun Genting tidak lepas dari sejarah pembangunan saluran air untuk irigasi sawah dan kegiatan masyarakat dusun Genting seperti mandi, minum dan mencuci. Tempuran yang merupakan pertemuan dua sungai besar dipercaya memiliki daya tarik untuk makhluk halus berdiam, sehingga pekerjaan melakukan peng”urugan” oleh Mbah Galoh merupakan pekerjaan yang berani, mungkin karena banyaknya makhluk halus yang mengganggu dalam pekerjaan tersebut kemudian dinamakan Genting yang berati gawat.
Diceritakan pula bahwa dahulu tempat tinggal masyarakat dusun Genting adalah di Blok sawah Sepring yang letaknya berada di timur Desa, berarti dapat ditarik suatu kesimpulan berdasarkan penalaran logis, bahwa sudah ada penduduk sebelum kedatangan Mbah Galoh. Mbah Galoh adalah tokoh yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui ide dan mampu menggerakkan masyarakat membangun Dusun melalui analisa potensi wilayah. Dusun Genting memiliki tanah yang subur sehingga pada awalnya tegalan diubah menjadi sawah yang sangat luas melalui peng”urugan” tempuran dan  pembangunan saluran air untuk irigasi serta penunjang kehidupan masyarakat. Nama Mbah Galoh kemudian diabadikan menjadi sebuah nama makam di utara Dusun Genting, dan mungkin jenazah Mbah Galoh juga dimakamkan di makam tersebut, hanya saja tidak diketahui dimana persis letak makamnya.
Dikarenakan letak sawah Sepring yang lebih rendah, maka muncul gagasan jika tanah di sana lebih cocok jika dijadikan sawah, selain itu karena lokasinya yang rendah maka kemungkinan munculnya penyakit yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat semakin besar (sanitasinya tidak baik). Akhirnya penduduk berpindah dari Sepring ke arah Barat di tempat yang lebih tinggi, yaitu pemukiman Dusun Genting sekarang.
sumber yang akan dibersihkan setiap akan merti dusun
Sebelum hari Jum’at Legi yang telah ditentukan untuk dijadikan hari bersih Dusun, masyarakat Dusun Genting membersihkan sumber mata air yang terletak di Blok sawah sumber sebelah timur dusun. Di sumber mata air tersebut terdapat sebuah pohon Preh (Ficus ribes reinw), yang sama seperti terdapat di talang emas/ lokasi peng”urugan” sungai. Melihat dari jenis pohon yang sama maka kemungkinan besar penanamnya adalah orang yang sama pula. Makna dari kegiatan membersihkan sumber mata air ini adalah menjaga kelestarian lingkungan.  

Tradisi Gunungan Sebagai Wujud Rasa Syukur
Gunungan adalah symbol filosofis bagi masyarakat jawa dalam rangka menegakkan sendi-sendi perkembangan dan proses pembentukan budaya masyarakat Jawa. Gunungan mempunyai makna yang sangat mendalam, gunung diyakini mempunyai falsafah bahwa untuk mencapai tujuan yang mulia akan selalu mendapat rintangan.
gunungan ditandu bergantian ke rumah kepala dusun
Berbeda dengan gunungan yang ada di keraton Surakarta dan Yogyakarta yang isinya adalah hasil-hasil bumi, gunungan di Dusun Genting terdiri dari kerupuk dari bahan baku beras ketan, tape, jenang, jadah, rengginang yang juga semua bahan bakunya adalah beras ketan. Yang artinya adalah gunungan di Dusun Genting merupakan hasil karya cipta sendiri, dari kreatifitas leluhur dusun Genting dan tidak ada pengaruh dari Keraton. Mengapa dipilih beras ketan? Berdasarkan analisa saya pribadi karena tidak ada yang bisa menjelaskan mengenai hal tersebut, beras ketan dipilih karena ketan adalah varietas local yang hanya tumbuh di asia tenggara dan asia timur. Mungkin di jaman dahulu ketan adalah jenis tanaman yang pertama dibudidayakan pada lahan sawah oleh masyarakat Dusun Genting, sehingga bahan utama dalam pembuatan gunungan adalah beras ketan, bukan berbagai macam hasil pertanian seperti keraton Surakarta dan Yogyakarta.
Pembuatan gunungan diawali dengan membuat lempeng dari ketan, beras ketan yang telah dikukus di tumbuk menggunakan lumpang dari batu hingga menjadi pasta, setelah menjadi pasta dan masih panas kemudian di buat lepeng (kerupuk) dengan diletakkan pada daun pisang dan di press menggunakan batang pohon pisang yang kecil, di bentuk segi empat panjang atau lingkaran, setelah menempel pada daun pisang, lempeng dijemur hingga kering. Setelah kering barulah lempeng tersebut dapat di lepaskan dari daun pisang dan di goreng. Untuk menarik perhatian biasanya pada saat penumbukan lempeng juga diberi pewarna makanan ada yang merah kuning dan hijau. Selain membuat lepeng juga ada yang membuat tape, rengginang, jadah, wajik yang semua bahan utamanya adalah ketan. Setiap rumah membuat lempeng dan nanti di goreng kemudian dikumpulkan pada saat hari H.
kerangka gunungan
Tahap yang kedua adalah pada hari Jum’at Legi yang telah ditentukan oleh masyarakat Dusun Genting sebagai hari bersih Dusun melalui musyawarah. Pada hari tersebut setiap rukun tangga di Dusun Genting membuat gunungan secara gotong royong di rumah ketua Rukun tangga. Kerangka dari gunungan terbuat dari batang pisang yang ditopang dengan bilah bambu yang dibentuk melengkung. Bagian bawah batang pisang di masukkan ke dalam kotak kayu yang berbentuk persegi kemudian di “pantek” menggunakan bilah bambu sehingga bisa berdiri tegak. Setelah kerangka gunungan jadi langkah selanjutnya adalah membuat “jembul”, jembul ini nantinya berfungsi untuk menggantungkan lempeng dan makanan lain dari ketan pada gunungan. Laki-laki membuat jembul dan yang perempuan “meronce” jembul tersebut dengan mengaitkan makanan pada untaian serabut bambu pada jembul hingga jembul terlihat merunduk karena berat. Setelah selesai meronce kemudian jembul di tata pada kerangka gunungan dengan menancapkan pada batang pisang. Penataan dilakukan dengan hati-hati dan teliti serta memastikan bahwa gunungan berbentuk sempurna dan menutup seluruh bagian kerangka.
meronce
membuat jembul
lempeng ditata menjadi gunungan
Setelah gunungan jadi kemudian dari masing-masing rumah Ketua Rukun Tangga, gunungan di tandu secara bergantian ke rumah Kepala Dusun Genting. Sebelum sampai di Rumah Kepala Dusun ada iringan gending jawa kebo giro dari gamelan, hingga gunungan di letakkan di tempat yang telah disediakan di dekat pagelaran wayang kulit. Prosesi ini juga menjadi pertanda mulai ditampilkannya pertunjukan wayang kulit. Ketika waktu sudah memasuki sore, mulailah dilakukan do’a bersama di pandu oleh modin atau ketua adat Dusun Genting, yang pada intinya mengucapkan syukur dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar selalu diberikan kesehatan, panen yang melimpah, diampuni segala dosa serta kesalahan leluhur serta semua penduduk dusun, dan di jauhkan dari marabahaya. Do’a bersama selesai di lakukan kemudian makanan tadi dibagikan kepada penonton wayang kulit, nayaga yang menabuh gamelan pada pertunjukan wayang kulit, dan siapapun yang meminta saat bertemu pada waktu gunungan dibawa kembali ke rumah ketua rukun tangga. Setelah di tandu kembali ke rumah ketua rukun tangga, makanan yang tersisa di gunungan kemudian dibagi secara merata kepada semua masyarakat di rukun tangga setempat.
gunungan berkumpul di rumah kepala dusun
do'a bersama
gunungan di bagi
sisa lempeng dibagi merata di rumah ketua RT
Pagelaran wayang kulit di malam harinya menjadi hiburan tersendiri bagi penduduk di Dusun Genting karena di saat itulah dalang utama dari wayang kulit yang di tanggap mulai tampil. Raut antusias dan rasa senang menyelimuti seluruh penduduk dusun, penduduk penasaran dengan jalan cerita wayang dan keahlian dalang dalam memainkan lakon wayang tersebut. Baik yang tua dan muda, laki-laki perempuan serta anak-anak turut menyaksikan pertunjukan wayang kulit tersebut. Banyak sekali nilai-nilai kemanusiaan dan religius yang terkandung dalam cerita wayang kulit, dan merupakan budaya luhur dari bangsa Indonesia. Biaya untuk pegelaran wayang kulit di kumpulkan melalui gotong royong warga dan disesuaikan dengan kemampuan serta penghasilan yang dimiliki, sehingga dirasakan adil.
pagelaran wayang disaksikan oleh seluruh masyarakat dusun genting
Jika di pahami lebih dalam tradisi yang telah tumbuh di Dusun Genting sangat luar biasa hebat dan kaya nilai-nilai luhur. Bagaimana tidak, melalui tradisi setahun sekali ini masyarakat diajarkan untuk melestarikan gotong royong, kerjasama, memberi atau bersedekah, menjaga dan merawat lingkungan, selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, keberagaman dalam kesatuan dan cinta terhadap tanah kelahiran. Mungkin sekarang tradisi semacam ini sudah mulai hilang dibeberapa daerah, tetapi di Dusun Genting Desa Rogomulyo tradisi ini selalu hidup dan lestari hingga ke anak cucu kelak.
Melalui tulisan ini saya juga mengucapkan terimakasih kepada para leluhur di Dusun Genting, atas perjuangan dan kerja kerasnya demi kesejahteraan dan kemakmuran penerus generasi berikutnya hingga kami sekarang ini dan penerus-penerus kami nanti. Semoga amal ibadah Beliau di terima di sisih Alloh SWT dan diampuni segala kesalahan dan kekhilafannya. Kita sebagai generasi penerus, mari melestarikan budaya sebagai jati diri kita.
   

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Silahkan memberi komentar yang membangun EmoticonEmoticon